Home / Pojokan

Seruput Teh di Toko Buku Kobayashi

Senjahari.com - 23/02/2026

Toko Buku Kobayashi

Penulis : Dinda Pranata

“Satu jus melon, satu jus alpukat dan secangkir teh hangat tanpa gula ya, mbak.”

Cuaca memang panas, terik dan gerah. Kupikir memesan teh hangat tanpa gula, tidaklah berlebihan. Akibat hidung dan tenggorokan tengah meradang perkara cuaca yang tak tahu maunya. Cukup emosional.

Gilang (anak lelakiku) dan suamiku tengah berjalan ke petak sawah di sebelah resto, yang kuintip sedang menanam bawang merah. Sementara aku dibiarkan memesan menu terbaik untuk perut-perut mereka. Menunggu menu pesanan datang, kubuka kembali buku bersampul biru itu di halaman terakhir kumenutupnya.

Agaknya seperti Oomori Rika, si tokoh dalam buku, yang sedang bingung dan menyeruput teh di Toko Buku Kobayashi itu. Aku terbenam sekali lagi.

Toko Buku Kobayashi yang Pelajaran Sederhana

Entah itu tentang pekerjaan, perusahaan, maupun orang-orang di sekitar, carilah sesuatu yang bisa membuatmu jatuh cinta, satu demi satu.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 64

Dadaku mendesir. Merasa malu dengan pemikiranku sendiri di hadapan dua puluh kata itu di halaman 64. Agaknya, masa laluku mirip Oomori Rika, yang saat itu berstatus pegawai baru di sebuah perusahaan penerbitan. Merasa perlu bekerja di perusahaan besar demi mendapatkan kebanggaan untuk keluarga, ketika ditanya oleh siapapun.

Rika tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada masa awal-awal kerja. Pun, tidak merasa senang dengan pekerjaannya terlebih ketidaktahuannya tentang profesi yang ia jalani. Sebagai seorang staff di divisi penjualan penerbit Daihan cabang Osaka. “Agaknya tidak hanya aku yang mengalami momen-momen keliru ketika pertama kali bekerja di bidang yang tak kuketahui,” kataku, “makanya aku memutuskan berhenti menjadi museum guide, saat itu.”

Aku kembali lagi pada lembar buku. Membalik dari halaman ke halaman berikutnya. Oomori Rika akhirnya mendengar pelajaran-pelajaran sederhana di sebuah toko buku Kobayashi yang diperkenalkan oleh rekan satu timnya. “Aku iri,” gumamku.

Jika kamu terus menggunakan kata-kata yang merendahkan diri sendiri, nanti kamu benar-benar jadi cetek, lho! (Perkataan Yumiko-san)

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 81

“Aku pun sering sekali melakukannya, demi kesopanan,” kataku lirih, “tak ingin dianggap sombong, makanya merendah.” Mendesah. Namun aku tahu, bahwa ini bukan tentang bagaimana aku menjawab kata-kata orang. Ini tentang bagaimana aku, Rika, dan mungkin sebagian besar orang memandang diri sendiri setelah memberi respon pada orang lain untuk merendahkan diri.

Baca juga: The Will to Meaning, Lebih dari Sekedar Mencapai Sesuatu

“Permisi, satu jus melon, satu jus alpukat dan teh hangat tawar,” suara pramusaji lelaki dengan nampan kayu membuatku menutup buku itu. Duo lelanang tak lama kemudian bergabung denganku di lesehan bambu itu.

Tentang Buku, Penjualan dan Cara Bertahan

infografis hari ini aku datang kembali ke toko buku kobayashi
Infografis Buku Hari Ini Aku Datang Kembali Ke Toko Buku Kobayashi. Design by canva.com

Sekalipun meminta jatah lebih banyak, toko-toko buku kecil selalu dikesampingkan.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 93

Aku belum juga beranjak dari lesehan bambu itu. Masih terlalu kenyang untuk bergerak. Kugunakan kesempatan untuk membuka kembali buku setebal 187 halaman itu. Dalam lima menit mataku bertemu dengan kalimat di halaman 93 itu.

Aku menclos. “Budaya Jepang memang terkenal ketat dan disiplin. Tak kusangka itu pun terjadi ke toko buku kecil di masa itu. Masa ketika media sosial belum masif dan masa di mana tak banyak toko buku independen yang buka.” Suaraku yang seperti orang berkumur itu, sempat dilirik oleh Galih. Membuatku menyunggingkan senyum, tanda aku tak sedang bicara padanya.

Halaman-halaman selanjutnya membuatku lebih banyak tersenyum malu. Bukan karena aku tak mampu seperti tokoh-tokoh dalam cerita, kali ini lebih ke bagaimana orang yang terkungkung dalam sistem tak manusiawi bisa punya seribu akal untuk keluar dengan cara baru. Benar-benar baru.

Baca juga: Kitalah yang Ada di sini Sekarang by Jostein Gaarder

Dalam perjalanan pulang (dari pengarahan di toko buku) aku singgah ke rumah para pelanggan, menjelaskan kepada mereka tentang buku resep masakan itu dan tahu-tahu sudah mendapat 4 pesanan.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 95

“Iya, dulu aku ingat penjual sering kali menjual barang dengan mengetuk dari satu pintu ke pintu rumah lain.” Aku menggumam sambil terus membaca. Pikiranku silih berganti mengingat mbak-mbak penyebar brosur layanan internet di rumah, sampai pedagang ember yang sering mengetuk rumah untuk menawarkan ember-ember tebal nan berat. “Tapi apa bedanya dengan Yumiko-san? Bagaimana ia bisa menjual buku-buku bahkan jumlahnya bisa mencapai 300 eksemplar?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku mampu melakukannya, maka orang lain pasti juga mampu.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 98

Aku terdiam memandang kalimat itu. “Benarkah semudah itu? Tidakkah itu begitu klise?”

Setelahnya, suamiku mengetuk meja di depanku. Mengajak pulang.

Baca juga: Dua Belas Pasang Mata yang Menatapku Lebih dari Dua Belas Detik

Membalik Arti dengan Bahasa-bahasa Manusiawi

Sepanjang perjalanan menuju penginapan berlogo Ha-En-Es, tampak toko-toko berderet. Suamiku dan Galih sedang bernyanyi lagu dari game yang tak kupahami. Aku tersenyum kecil. Tak semua yang tak kupahami berarti tak bisa kunikmati. Barangkali begitu pula yang dialami Rika ketika pertama kali masuk dunia penerbitan.

Karena itu aku yang harus mengambil inisiatif. Dan aku berhasil mencapainya. Apa yang kuanggap sebagai kelemahan ternyata adalah kekuatan terbesarku.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 103

Aku mengetuk-ngetuk baris pada kalimat di halaman 103 itu. Mencerna. “Apa ini yang terasa masuk akal ketika Yumiko-san bilang ‘jika aku bisa, maka orang lain pun bisa’?”

Lalu mataku beralih lagi memandangi toko-toko di jalan yang berseliweran. Teringat bagaimana Rika yang tak suka membaca tapi harus bekerja di perusahaan penerbitan. Aku tahu, ia sangat kesulitan menyesuaikan diri. Dari cerita-cerita Yumiko-san Rika dengar sembari menyeruput teh hijau, ia mendapat inspirasi menarik dari kelemahannya yang tak suka baca. Ia menarik minat orang tak suka membaca menjadi suka membaca buku.

“Ketika banyak orang yang berupaya mencari kelebihan dari sebuah bisnis untuk mendapatkan keuntungan, justru yang menggunakan kekurangan bisa mendongkrak penjualan.”

Baca juga: Perawan Remaja yang Tak Pernah Memandang Sebuah Kota Bernama Tokyo

Memang klise terdengar, tapi masuk akal. Membalik arti dengan bahasa yang lebih manusiawi. Tanpa terlalu memaksa untuk memikat pembeli, tapi lebih menemukan pembeli yang serasa, begitu pikirku. Hingga sebuah cerita panjang lain dari Yumiko-san, menutup buku karya Tetsuya Kawakami.

Closing by Senja Hari

Adakah yang sudah membaca buku Tetsuya kawakami-sensei yang berjudul Hari Ini Aku Datang Kembali Ke Toko Buku Kobayashi? atau ada buku yang sedang kau baca dari penulis yang sama atau buku-buku dengan tema slice of life? Bisa dong kalian cerita keseruan membacanya di kolom komentar.

Atau kalian yang belum ada rasa tertarik membaca buku, bisa juga dong bercerita apa yang membuatmu kurang tertarik? Tetap ya dengan bahasa yang sopan dan nggak saling senggol, biar jejak digital kalian tetap bersih.

Have a nice day

Jya, matta ne~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment