Pojokan

Dua Belas Pasang Mata yang Menatapku Lebih dari Dua Belas Detik

Tak tak tak!

Hujan menjatuhkan diri di atas atap spandek di garasi. Suaranya merayap sampai ke arah kamar.

Pukul dua belas kurang beberapa menit lagi, tapi mata tak bisa terpejam sejak tiga jam yang lalu. Mungkin terlalu banyak kopi, pikirku. Aku tidur tengkurap dengan sebuah buku di atas ranjang yang menatap ke arahku.

Lalu, baris ke sepuluh di halaman 177 yang menatapku, ia berteriak. “Sungguh disayangkan! Kenapa anak-anak dengan senyuman cerah ceria begitu mesti dijadikan sasaran peluru?”

Kemudian suara hujan, dengkuran bocah di sebelahku dan tatapan sebuah halaman buku, cukup membuatku merasa tersudut. Bagaimanakah masa depan anakku nanti?

Baca juga: Kucing Bernama Dickens: Kisah Peliharaan dan Proses Penyembuhan

Dua Belas Pasang Mata dan Sepeda Gayuh

Kalimat di halaman 177 yang menatapku tidak berteriak meledak. Ia hanya menumpahkan kekesalan dari tinta-tinta yang membentuk huruf. Meski tidak meledak, kalimat itu mampu membuatku terdiam hingga lewat dari pukul satu malam. Setelah buku itu usai kubaca.

Kukira buku berjudul Dua Belas Pasang Mata ini bercerita tentang petualangan anak-anak seperti novel anak yang sering kubaca. Namun, buku karya Sakae Tsuboi justru bercerita lewat sudut pandang seorang guru yang mengayuh sepeda bernama Mrs. Oishii. Seorang guru yang datang ke sebuah desa terpencil di seberang pulaunya untuk mengajar dua belas pasang mata itu.

Pada halaman pertama sampai melewati ratusan baris-baris paragraf, rasa-rasanya aku tidak mengamati buku itu. Sebaliknya, buku itu yang terus menatapku sambil menceritakan Mrs. Oishii yang awalnya berencana mengajar sementara di desa nelayan itu tapi, pada akhirnya terikat secara emosional dengan dua belas murid dan keluarganya. Anak-anak yang usil dengan guru baru; anak-anak yang ingin tahu lebih banyak dari usianya; anak-anak yang ingin dekat dengan ‘guru bersepeda’ mereka.

Sesekali aku terkekeh saat si buku itu bercerita tentang kepolosan anak-anak ketika tahu bahwa guru perempuan mereka naik sepeda. Aneh, pikirku. Tapi ketika kutahu era Tsuboi menulis, maka aku bisa menjamin kepolosan anak-anak itu bukan hal yang aneh. Sepeda, di era sebelum tahun 1930-an adalah hal yang mewah dan tak biasa bagi penduduk desa di Jepang.

Semakin buku itu bercerita, emosiku semakin bergeser. Ini tak lagi suara tentang kepolosan anak-anak atau guru yang merasa prihatin dengan masa depan anak didik. Emosi ini bergeser menjadi paku tajam, bagaimana anak-anak hanya sekedar menjadi alat propaganda dan mesin kemenangan perang.

Baca juga: Ruang bagi Perempuan yang Tak Pernah Utuh

Dan ketika sampai di halaman 177, ketika aku menatap anakku, di balik dinding putih yang remang-remang dua belas pasang bola mata itu seolah mengintipku. Derai hujan kemudian makin deras. Langit menangis.

Anak-anak yang Selalu Terluka

Analisis Dua Belas Pasang Mata design by canva

Hidungku meradang. Mungkin sebentar lagi es di dalamnya akan meleleh, pikirku. Dua belas pasang mata di balik dinding itu, pelan-pelan menatap anakku. Bocah lanang yang usianya masih 8 tahun (kurang lebih sama dengan cerita di buku itu).

“Aku tahu kalian pasti menderita,” lirihku. Kusentuh tangan Taro (anakku) yang sedang tertidur pulas. Tangan itu hangat dan mungil. Sesekali aku membayangkan, apakah beberapa tangan di dua belas pasang mata itu pernah disentuh kehangatan kasih seperti ini?

Buku itu tidak berdarah atau berteriak. Tapi, warna putihnya seperti ironi yang menusuk siapapun yang membacanya bahwa di balik tumpahan darah masa kebrutalan, peperangan, keegoan dan apa yang disebut sebagai kemenangan negara, ada jiwa yang terluka. Istri-istri yang kehilangan suami dan orang tua yang kehilangan anak-anak mereka. Lalu yang menyedihkan dari semua itu, anak-anak yang terluka karena mereka lahir untuk menjadi tameng peluru di medan perang.

Tatapan buku Tsuboi yang tertutup itu menyebabkan hujan tak hanya mengguyur di luar, tapi juga di dalam rumah. Genting tak lagi bisa menahan hujan yang sudah turun di atas ranjangku. Lalu aku membayangkan, apakah Totto-Chan berteman dengan dua belas anak di desa nelayan itu? Aku terus menggenggam tangan Taro, memiringkan kepala yang kusanggah dengan pergelangan tanganku. Mataku terpejam.

Baca juga: Asus AiO V400 dan Panggilan Liar Di Ruang Otopsi

Anak-anak yang Hidup untuk Perang

Aku sadar mataku terpejam. Tapi, pikiranku seperti berhadapan dengan dua buku yang berbeda. Dua buku itu sama-sama menatapku. Aku yakin ketika mereka bersanding, mereka akan saling menatap. Bukan menatap keheranan, tapi lebih ketatapan saling memeluk. Meski, suara mereka berbeda.

Terbayang dalam hujan yang tak kunjung reda itu, buku Totto-chan menatapku berbicara bahwa gadis itu yang sedang berdiri di sebuah jendela dalam kelasnya. Menatap jauh ke sungai belakang sekolahnya. Sungai yang barangkali menuju ke laut tempat desa nelayan itu berada. Di sekolah Totto-chan, semua anak mendapat pelukan hangat, meski situasi perang akhirnya memporak-porandakan sekolah gerbong kereta itu.

Namun, dari jendela kelas Totto-chan melihat atau setidaknya membayangkan teman-teman lainnya di desa nelayan tidak bisa mendapatkan pelukan hangat bahkan di sekolahnya. Mereka harus menahan didikan keras. Jargon patriot ‘mati untuk negara’ harus mereka dengar. Lucu. Kisah yang sama tentang anak-anak, tapi penuh luka.

Tentu saja, itu tidak mungin terjadi. Totto-chan mungkin saja belum lahir ketika dua belas anak dalam karya Sakae Tsuboi itu sekolah. Sekali lagi hanya bisa berandai-andai, andai Totto-chan dan dua belas anak dalam buku Tsuboi ini lahir sepuluh tahun lebih lambat, barangkali mereka punya cerita anak-anak yang manis untuk dikenang.

Mataku terbuka lagi. Kukira hujan sudah reda, ternyata belum. Ia masih sama cengengnya dengan beberapa jam yang lalu. Lampu bacaku masih menyala dan kulihat lagi sampul buku dua belas pasang mata berwarna putih itu. “Apa yang sebenarnya kita minta dari anak-anak, ketika kita mendidik mereka?

Baca juga: Metamorfosis Semangkuk Sop Ayam di Meja Makan

Gumamanku pada akhirnya menggantung di atas langit-langit kamar pukul tiga pagi.

Closing by Senja Hari

Apa ada yang sudah baca bukunya Tsuboi-Sensei ini? Atau mungkin kalian pernah baca buku yang mirip-mirip dengan kisah Mrs. Oishi ini? Terus gimana nih perasaanmu atau pengalamanmu setelah baca buku ini atau yang sejenisnya? Bisa dong berbagi di kolom komentar.

Eits! Komennya yang bijak dan sopan ya, semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.

Have a nice day! Jya, matta ne~

View Comments

  • 12 pasang mata ini adalah 12 anak2 di sebuah desa yang bersekolah dan berhasil mencuri hati sang guru karena kepolosan nya...
    Saya sendiri juga belum pernah membaca buku totto chan auto langsung googling tentang ceritanya...
    Sama2 menceritakan masa kanak2 dengan segala kepolosan dan keceriaan mereka namun semua tidak berakhir indah akibat meletusnya PD II yang tentu banyak mengakibatkan trauma yg mendalam..

  • Penutupnya tak mampu menjawabnya. Tak berani meminta karena kehidupan semakin penuh kejutan. Tetapi jika bisa, mungkin jika saja ini boleh, mereka menjadi pribadi yang kuat dan siap menghadapi apapun yang waktu tawarkan. Mampu memilih dan bertanggungjawab atas keputusannya.

    Aaah pagi ini sedikit resah membaca ini, membayangkan dua belas pasang mata anak dan mengingat anak-anak di sudut barat negeri ini. Anak-anak yang sedang direnggut masa bermainnya, dihadapkan dengan bencana alam.

    Seperti sama, penerus tumbuh dengan latar yang seperti sinar kehidupan sedang redup-redupnya. Nurani ini hanya mampu meminta pencipta, memeluk mereka dengan caraNya.

  • Perang atas nama apapun memang mengerikan, terlebih bagi anak-anak. Dunia mereka yang polos dan penuh keceriaan jadi porak poranda karena hadirnya peperangan.

    Buku Twenty Four Eyes ini mewakili dunia anak-anak di tengah peperangan. Semoga bisa mengetuk hati para pemangku kebijakan untuk menciptakan dunia anak-anak lebih kondusif dan menyenangkan

  • hooh ya anak2 yang lhirnya pas jaman perang aku pikir naas bangeut. Jadi saksi tpi engga dpt gelar apapun. Mereka mendengar suara gemuruh di langit seperti ttmbkan dll ngeuri ih ngebayangin nya. Aku blum pernah baca kedua buku yang kk metion diatas tpi jadi kepikiran hiks

  • Ternyata 12 pasang mata yang sesuatu. Daku belum pernah baca totto chan ini, bikin terhenyak sepertinya, karena baru baca ulasannya sudah ada yang bikin terhenyak

  • Saya belum pernah membaca buku Dua belas pasang Mata, Mbak. Tapi dari judulnya sudah menarik hati. Apalagi setelah tahu ini kisah Mrs. Oishii, seorang guru yang mengajar dua belas orang muridnya. Pastinya banyak cerita seru selama kebersamaan mereka. Apalagi kepolosan anak-anak. Termasuk keherananan soal sepeda yang dipakai Mrs. Oishii yang termasuk barang mewah kala itu ya.

  • Aku salah satu penggemar berat buku Totto-Chan mba. Bertemu buku itu saat ku masih SMP dan nabung buat kebeli itu buku sampe berkali-kali kehilangan buku tersebut karena di pinjam tapi tak kembali 😭😭😭 terakhir, buku nya ketinggalan di rumah mantan mertua.

    Nggak kebayang sih berapa pilu dan menyakitkan 12 anak nelayan di buku karya Sakae Tsuboi. Lebih berat sekali masa mereka, bahkan untuk bersekolah pun.

    Maka tak heran kalau mba berandai terkait Totto-Chan juga. Penasaran banget aku sama buku yang satu ini, semoga aku bisa menemukannya dan membacanya.

  • Ini berarti hampir sezaman atau di atasnya totto-chan ya? Tapi tahun 1930 emang jaduul. Dan memang orang Jepang sangat menghargai sensei (guru), sangat dihormati. Jadi pengen baca juga.

  • Saya belum pernah baca novel Twenty Four Eyes ini. Bahkan baru dengar judulnya setelah membaca artikel ini. Kalau buku Totto-Chan sudah lama tahu, sejak masa SMA, tapi saya lupa sudah baca atau belum.

    Novel Twenty Four Eyes ini ternyata lebih lama lagi ya dibanding Totto-Chan. Sudah masuk jajaran novel klasik. Jadi penasaran buat baca.