Kota Malang di tepi siang cukup panas. Di bawah pohon trembesi aku berteduh dengan buku James Joyce dipangkuan. Gerah. Angin bahkan tak muncul. Mungkin sama malasnya dengan kakiku yang kelu berjalan.
Kubuka halaman pertama buku. Tapi tak kutemukan selain halaman sampul dan daftar isi. Lalu, tanpa basa basi dalam cerita pertama satu kata menahanku.
Kali ini tidak ada harapan lagi baginya: ini strok yang ketiga.
Dubliners 7
Di lembar-lembar awal aku tertahan, meski aku bergerak maju. Apa yang salah denganku? Benarkah suhu siang itu menghalangiku untuk memasuki kota bernama Dublin dan mengenal para dubliners?
Rumput di taman yang kududuki kali itu lembut. Ujungnya tidak menusuk siapapun yang tergoda untuk menjejalkan diri di atasnya. Meski karpet alam itu menawarkan undangan, tapi suasana tepi siang itu sungguh tak menggugah siapapun terlalu lama duduk. Analogi ini mungkin serupa dengan buku kumpulan cerpen Dubliners karya James Joyces.
Baca juga: Perawan Remaja yang Tak Pernah Memandang Sebuah Kota Bernama Tokyo
Cerpen pertama, kedua, ketiga dan seterusnya justru membuatku tak henti berkerut dahi. Di antara pohon trembesi dan rumput taman itu, “apakah pikiranku yang terlalu dangkal mengenali pola-pola ceritanya? ataukah penulis ingin aku menemukan rangkaian titik-titik dari cerita ini?” tanyaku pada akhirnya.
Cerpen kelima buku itu yang berjudul “Setelah Balapan”, ada sesuatu yang merantai pikiranku cukup jauh. Sebuah ironi tentang struktur masyarakat kota Dublin. Dan, mungkin menjadi salah satu yang masih bisa terasa sampai detik aku duduk di bawah pohon trembesi itu.
… orang-orang yang telah melihat begitu banyak dunia dan terkenal memiliki hotel terbesar di Prancis. Orang yang semacam itu (seperti yang disetujui oleh ayahnya) layak untuk dikenal, sekalipun kalau dia bukan teman yang menyenangkan.
Dubliners 46
Jariku mengetuk-ngetuk halaman ke-46 itu. “Aku rasa kota orang-orang Dublin di awal abad ke-20 punya kecenderungan pansos juga,” suaraku lirih. Suatu fenomena yang justru lebih lama dari nama pansos itu sendiri. Aku menggeleng dan menunduk. Melanjutkan baca.
Tapi … cerpen berikutnya seperti pintu yang tertutup. Alineanya seolah menahanku untuk terlalu cepat masuk. Oleh karena itu, aku mencari celah-celah makna, metafora atau simbol yang kukenal. Lalu, kutemukan sebuah ritual yang dekat denganku. Aku menariknya.
Baca juga: Radio Gosip Puritan: Skandal Hester Prynne Dari Nathaniel Hawthorne!
Buku setebal 249 halaman sungguh membuatku harus memilih mana pintu yang bisa kumasuki. Lima belas cerpen. Tapi tak sampai setengah dari jumlah cerpen itu, aku bisa merasa buku ini menjaga jarak. “Apa mungkin itu cara pendatang memandang kota Dublin? ataukah memang Dubliner seperti menyembunyikan diri?” Aku bertanya-tanya.
Ketika sampai di halaman 116, Cerpen “Kasus Menyedihkan” membuatku mulai mempertanyakan apa yang disembunyikan di kota Dublin era abad ke-20?
Mr. Duffy sering pergi ke pondok kecil perempuan itu di luar Dublin; sering mereka menghabiskan malam berdua saja.
Dubliners 116
lalu setelahnya di cerpen yang sama …
Dia melihat jejak perilaku perempuan itu yang amoral, menyedihkan dan berbau busuk.
Dubliners 125
Di akhir cerpen ini tak ada kesimpulan pasti, hanya … “Moral tak lebih tinggi dari citra. Dan, Mr. Duffy menunjukkannya.” Ironi atau justru merasa ini adalah ephipani? Aku tidak bisa memutuskannya.
Cerita berikutnya seperti ritual tertutup. Aku berkerut kening mencari simbol ritual yang bisa kupahami. Ada ritual membaca puisi, ada perdebatan dalam sebuah forum, namun cerpen itu tak bisa kupahami seluruhnya. Atau, itu cara James Joyce memberi jarak untuk membaca kota itu?
Lembar-lembar lain kubuka. Sebuah judul cerpen itu membuat tubuh dan kepalaku bereaksi lebih cepat. Di sini mungkin aku bisa menemukan celah-celah untuk mengintip tubuh kota Dublin.
Mr. Holohan mengakui, para artis tidak bagus, tapi Komite telah memutuskan untuk membiarkan tiga konser pertama berjalan sesuka hati mereka dan menyimpan semua bakat terbaik untuk hari Sabtu malam.
Dubliners 154
Cerpen “Seorang Ibu” benar-benar meradangkan tubuhku. Bulu kudukku meremang dan mungkin logika keibuanku bekerja. “Bagaimana budaya hanya dianggap sebagai kata benda, bukan kata kerja,” gumamku setengah mendesis.
Baca juga: Review Super Parent: Mengasuh, Mengasihi dan Empati
Cerpen itu benar-benar seperti tangan yang merentang lebar. Isyarat bahwa aku bisa memasuki atau melongok memeriksa tubuh kota itu. Cerpen itu terbaca lebih keras di kepalaku, bagaimana sebuah sistem di era awal abad ke-20 mengerdilkan suara perempuan. Lebih dalam lagi, bagaimana atas nama budaya nasionalisme di Dublin, orang-orang berkepentingan lari dari tanggung jawab: membayar pekerja yang seharusnya.
Dia tidak akan tampil. Dia harus mendapatkan delapan guinea-nya – Mrs. Kearney
Dubliners 161
“Rasanya masuk akal dengan apa yang dilakukan oleh Mrs. Kearney. Jika putrinya tampil namun tidak dibayar,” dengusku. Kali ini aku bisa menarik gambaran kecil dari kehidupan para Dubliners. Yang lebih penting dari itu, sedikit banyak aku bisa melihat gambaran fenomena ini dekat dengan apa yang ada di negaraku.
Tak cukup satu minggu aku membaca buku Dubliners. Adakalanya satu hari bisa dua tiga cerpen, terkadang satu cerpen perlu kubaca dua tiga kali untuk tahu mengapa James Joyce menulis kisah ini. Sering pikiran badung hinggap di kelapa, “apa aku sedang tak fokus sampai tak tahu maksud cerita ini?” Lebih banyak menyalahkan diri.
Malam itu, ketika semua orang sudah berinteraksi dengan alam mimpinya. Lampu bacaku masih menyala. Dua puluh tujuh detik sebelum padam. Halaman 249 itu akhirnya tuntas.
Baca juga: Mana yang Lebih Sulit, Obsesi Cinta atau Obat Kolera?
Jiwanya berayun perlahan ketika dia mendengar salju jatuh samar-samar di dalam alam semesta dan perlahan jatuh, seperti turunnya ujung terakhir mereka, pada semua yang hidup dan yang mati
Dubliners 249
Dadaku terasa menclos. Mungkin antara rasa tuntas dan tak tuntas. Bisa juga perasaan puas dan tidak puas sekaligus. Aku tak tahu apa nama perasaan di antara itu. Suara tonggeret terdengar dari taman belakang. “Aku ditertawakan tonggeret,” kataku lirih sambil tersenyum nakal.
Dahu yang sering kali kaku dan rambut yang hampir terjabut dari kepala, Buku Dubliners James Joyce seperti kota yang ingin bicara. “Tak apa kalau kau tak paham jalan kota itu, tak apa pula kalau ada cerita-cerita yang tak bisa kau masuki. Itu bukan gagal,” dengung James Joyce dalam kepalaku, “bukankah di kotamu ada bangunan yang memang tak mengizinkanmu masuk, terkecuali kau benar-benar berkepentingan.”
“Lalu jika aku hanya bisa membaca secuil dari maksud tulisanmu, apakah itu artinya aku pembaca yang gagal?”
Sekali lagi tonggeret bernyanyi. Ritmenya sama dengan malam-malam sebelumnya. Lampu baca sudah padam.
Baca juga: Cecilia Dan Malaikat, Percakapan Ringan Antara Penghuni Surga Dan Bumi!
Ada yang sudah baca bukunya atau ada pengalaman nggak baca buku yang ceritanya keluar-masuk seperti ini? Boleh dong berbagi pengalaman seputar proses membacanya, siapa tahu ada orang yang ternyata merasa gagal karena nggak sepenuhnya paham. Tapi tetep ya, dengan bahasa yang santun. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
View Comments
Dari ulasannya, aku ngerasa James Joyce ini mirip Benny Arnas atau Sasti Gotama, yang cerpennya, kadang perlu dibaca lebih dari 2 kali untuk memahami maksudnya apa, itu pun karena keterbatasanku sebagai pembaca, masih sulit memahami maksud cerpen tersebut dibuat.
Baca buku klasik kayak Dubliner ini emang butuh waktu yang khusus haha, bukan tipe buku yang bisa dibaca sambil nyambi kerjaan lain. Btw, punya akun di goodreads? kalau iya, aku mau follow! :)
Ah, memang butuh fokus lebih banyak ya mbak, kalau baca cerita yang kompleks begini. Apalagi, jika tipikal authornya mengajak kita untuk berpikir dan menarik kesimpulan sendiri. Bukan yang memanjakan pembaca dengan kesimpulan atau ending menyenangkan di akhir cerita. Tapi yaa, disitulah seninya, hehehe.
Aku belum lama ini juga pernah baca buku klasik terbitan gramedia. Sekitar halaman kelima puluh, daku tertahan. Kepalaku seperti berasap, lelah menjaga fokus di titik tertinggi, hahaha. Akhirnya sampai sekarang belum lanjut -_-
Saya sih belum baca buku ini
Mungkin karena terlalu berat alurnya
Apalagi dengan alur yang tidak biasa
Kapan kapan kita bertemu dan coba membaca buku ini bersama ya Mbak
Pengen dengar langsung intonasi dan semangat mbak menceritakannya padaku
Kadang, ada buku yg mana kita susah utk paham apa isinya. Aku pun sering menemukan buku yg begitu. Dan sama kayak mba, aku juga nanya dalam hati, ini akunya yg bodoh banget sampe ga paham penulis nya mau menyampaikan apa, ataaaau memang bukunya ga bagus, atau hanya utk kalangan tertentu?? Sebel sih, udah mahal2 dibeli, tp ga ngerti 🤣🤣🤣.
Terkadang aku tetep paksa utk baca sampai habis, dengan harapan akan paham di akhir. Ada yg ternyata memang aku akhirnya mengerti, tp ada juga tetep ga paham 😅😅😅.
Malah ada buku yg akhirnya aku nyerah utk baca, saking kesana kesini, ngalor ngidul ga jelas isinya 😅😅. Mana halamannya nyaris 1000 🤣🤣🤣🤣.
Jadi ini cerpen ya mba? Lebih ga cocok buatku. Krn buku yg aku suka, buku yg memang detiiiil alur cerita nya. Jadi tebal gapapa, yg penting memang jelas jalan cerita. Kali cerpen kan selalunya pendek banget, wajar kalau isinya kurang detil. Malah ending suka gantung pula 😅😅.
Tp mungkin ga buku ini kurang menarik Krn terjemahannya yg kurang ? Aku pernah baca buku terjemahan, dan aslinya. Terjemahannya aku ga suka. Feel-nya ga dapat. Diksi ga menarik. Tp buku aslinya aku malah paham dan sukaaa
Saya sangat jarang membaca buku dari penulis luar, Mbak Dinda. Apalagi kalau bahasanya berat. Terus terkadang baku dan kaku, karena hasil terjamahan.
Saya suka yang bahasanya ringan, jadi walau konfliknya berat, mudah dipahami. Apalagi untuk sebuah cerpen. Itu kan, ceritanyanya tidak terlalu panjang dan bisa selesai dibaca dengan sekali duduk. Tapi kalau kumpulan cerpen dan banyak ceritanya membuat kening berkerut, saya biasanya tidak lanjut membaca bukunya dan beralih ke buku yang lain hehehe.
Nggak semua cerpen bisa langsung kita pahami dalam sekali baca. Ada memang cerpen yang kudu dibaca dua atau tiga kali baru kita menemukan maksudnya. Mungkin Dubliner juga begitu.
Ooh ini kumpulan cerpen ya? Kirain novel. Belum pernah nih baca karya James Joyce. Jadi penasaran.
Btw Mbak Dinda lagi suka baca karya sastra klasik?
Kalau susah bacanya, coba cari English version aja. Sorry to say, biasanya lebih baik yg ori daripada terjemahan.
Kalau buku cerita yang alurnya kompleks seperti ini, kerap kali nggak daku pilih, karena takut dakunya galfok. Lebih suka yang fokus dengan cerita yang ada, dan misalnya mau dibuat unik itu ada plot twist nya, nah ini mantul deh
Aku belum membacanya bukunya dan menjadi penasaran untuk membacanya. Seperti panggilan khusus, ada apa dengan karya James Joyce ini.
Kalau soal membaca yang kadang tidak di mengerti, aku sering mengalaminya. Hanya aku teruskan saja membacanya, tanpa sadar di akhir baca ada gambaran utuh yang terpahami. Serunya membaca buku buatku itu, kadang saat baca tidak paham tetapi seiring waktu saat mengalami sesuatu yang berhubungan dengan tulisan yang dibaca, suka teringat dan jadinya mengerti. Kadang disitulah aku semakin menyukai kerja logika dan sungguh luar biasa karya pencipta.
Anw, tambah nih refrensi buku yang jadi list di 2026. Tulisanmu sungguh racun Dinda wkwkwwk
Ini kumpulan cerita gitu ya mbak? Aku belum pernah baca. Kayanya bahasanya atau ceritanya berat ya. Jadi beberapa cerita butuh dibaca berkali-kali biar bener-bener paham. Harus fokus ya kalau baca buku tipe begini.