Home / Jendela

Pengadilan yang Tak Lagi di Meja Hijau

Senjahari.com - 22/01/2026

pengadilan sosial

Penulis : Dinda Pranata

Brak!

Suara cabang pohon runtuh. Bukan karena hujan atau petir. Pagi itu, cabang pohon mangga jatuh, di gergaji atas permintaan Pak Ronggo (ketua RW). Suara jatuhnya menimbulkan gema yang sama dengan gema linimasa media sosial.

Sebuah berita yang ramai, lebih ramai dari polemik tanah leluhur yang dijadikan kebun sawit. Isu perselingkuhan kalangan selebritis. Aku mendesah. Telunjukku menggulir layar, melihat aneka rupa komentar-komentar tak pantas.

“Komentar kok sudah kaya palu pengadilan,” kataku.

Aku menoleh ke luar jendela. Orang-orang berkerumun di bawah pohon mangga tetangga depan. Hanya ada pohon hijau, bukan meja hijau. Namun semua tahu apa yang tengah jatuh pagi itu.

Baca juga: Ketika Lentera Tak Harus Dengan Api

Vonis yang Beralih ke Luar ‘Ruang Pengadilan’

Telunjukku menggulir. Sebuah headline dari media besar muncul menyodok mata. Judulnya tertulis SKANDAL PERSELINGKUHAN SELEB K DENGAN SUAMI INFLUENCER C. Mataku bergerak ke kiri dan ke kanan. Kepalaku berusaha mencerna pemberitaan itu. Lalu mendesah lagi.

Kemudian, aku kembali pada halaman selanjutnya. Kali ini dari media besar yang lain. Judulnya pun tak kalah mengejutkan. TUKANG TIKUNG: INFLUENCER C MEMBEBERKAN SIFAT SELEB K. Mataku bergerak kembali. Kali ini dadaku yang mengencang. Gemas.

Sejak beberapa minggu ini, isu-isu perselingkuhan menginvasi halaman linimasaku. Yang mengejutkan angka 500K dari simbol hati tampak membuatku penasaran dan mencoba membuka kolom komentar.

Baru saja terbuka. Lantas … Booom! Komentar tuduhan, kata-kata pedas, hinaan sampai vonis mati dengan ayat-ayat suci mulai bermunculan. Dan ini membuatku makin berkerut kening sambil memijit-mijit dahi. “Apa pengadilan di meja hijau sudah terlalu biasa, sampai-sampai pindah ke media sosial?” Aku cuma geleng-geleng.

Perselingkuhan memang bukan perkara sepele. Tapi yang membuat dadaku berdetak tak karuan, bukan hanya peristiwanya tapi cara ia tersaji kepada konsumen. Lalu dengan mudahnya pembaca beramai-ramai mengadili seolah kebenaran sudah cukup terwakili dari satu judul.

Baca juga: Sound Horeg Meriah, tapi Ada Kepala yang Pasrah

Jariku mengetuk-ngetuk ke layar. “Lalu, jika dua sisi tidak menyatu? Tidakkah itu kurang cocok sebagai ruang sidang,” kataku pelan-pelan. Jariku terdiam beberapa saat. Lalu, layar meredup dan terkunci.

Ketika Kebenaran Berdiri di Belakang Punggung

ilustrasi social judgement by canva.com

Buku Kappa dan Rashomon sudah kututup beberapa pekan lalu, tapi ketika aku membuka linimasa media sosialku, isi buku itu mencuat ke permukaan. “Kebenaran punya banyak wajah,” gumamku. Aku menatap kembali ke arah jendela, di mana bapak-bapak sedang sibuk mengangkat cabang pohon mangga yang sudah terpotong.

Pandanganku kembali ke layar ponsel yang terkunci. “Kini wajah kebenaran itu tak berhenti sebagai cerita di hutan bambu. Ia beralih menjadi hakim-hakim di media sosial,” kataku. Informasi yang tersebar secara sistematis membentuk pola pikir. Algoritma memperkuat sudut-sudut tajamnya. Setiap potongan informasi datang bukan hanya untuk menceritakan apa yang terjadi, tapi juga untuk memberi tahu siapa yang pantas disalahkan, siapa yang layak dibela, dan siapa yang harus segera dijatuhkan.

Kadang dari video berdurasi satu jam, orang bisa memotongnya menjadi sepuluh detik, memposting ulang dan lantas membuka ruang tafsir baru. Dengan caption yang cantik, video sepuluh detik itu menjadi senjata dan membunuh video berdurasi panjang. Mengambil alih tahta sebagai kebenaran umum, lewat like, share dan komen dalam hitungan menit. Tak perlu meja hijau atau lulusan hukum untuk menentukan siapa yang salah. Termasuk di dalamnya menjatuhkan vonis sebelum pembelaan dilakukan.

“Bukan lagi tentang hutan bambu yang rimbun, tapi hanya kolom komentar,” ujarku. Aku menyandarkan punggung yang terlalu tegang ke punggung sofa. “Kenetralan itu seperti utopia,” kataku pada akhirnya, “barangkali jika Pierre Bourdieu masih ada, ia akan sering sekali memberi kuliah-kuliah daring. Semakin sibuk.”

Baca juga: Jendela Di Senja Hari, Apa yang Kita Lihat?

Meja Hijau itu Adalah Pengadilan Sosial

Ketukan pintu memecahkan ragam pikiran buruk tentang isi dalam ponsel yang kupegang. Kuletakkan ponsel di atas meja kaca hitam di ruang tamu. Setelahnya, kubuka pintu.

“Mbak, ini mangga dari pohon itu,” kata Pak Deri (tetangga depan rumah).

“Banyak sekali,” kataku mengambil sekeresek besar pohon mangga manalagi yang wangi itu, seraya mengucap terima kasih.

“Ya mau bagaimana lagi, Mbak. Daripada saya dikomplain terus sama pak RW gara-gara daunnya terbang sampai ke rumahnya,” ungkapnya, “mau ndak mau, ya saya tebang saja daripada nanti diadili sama orang yang punya kuasa.” Pak Deri menahan senyumnya. Aku pun tersenyum berat, karena meski tahu tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

“Terima kasih banyak. Salam saya untuk Bu Deri,” kataku sebelum Pak Deri bertubuh jangkung itu meninggalkan rumah tak berpagar milikku.

Baca juga: Bilang Terserah, Tapi Kalau Salah Marah

Aku menutup dan mengunci pintu. Setelahnya, beralih ke dapur. Meletakkan keresek hitam besar penuh dengan mangga manalagi itu (yang kutaksir beratnya hampir delapan kilo). Dari jendela dapur aku menatap pot gantung yang kuletakkan di atas teras belakang. Beberapa bunga putihnya sudah mekar dan dalam satu tangkai itu ada bakal bunga yang menguncup.

“Daun bunganya mirip taplak meja pengadilan yang hijau,” kataku di dapur. Kudekati jendela yang terbuka penuh itu. “Banyak orang mengira pengadilan harus berupa bangunan. Tapi sejak lama, manusia-manusia ini punya kebiasaan menggelar pengadilan terbuka.”

Angin dari arah utara bertiup, menggerakkan pot merah bata di depanku. Aku menyilangkan tangan, “pengadilan sosial. Pengadilan yang datang lewat gosip, stigma, anggapan yang belum terseleksi secara benar dan kadang hanya dipercaya lewat satu sisi narasi besar.” Aku tersenyum kecut, teringat bagaimana aku bisa mempercayai gosip tentang bunga yang tergantung di pot itu dari label-label orang yang tak tahu tentang nama bunga itu. Bunga Encok.

Serupa dengan pengadilan sosial yang memberikan vonis hanya dari judul besarnya saja. Memang pelik.

Closing Senja Hari

Ada yang pernah merasa seperti cerita di atas nggak sih? Kayak beberapa minggu atau dalam beberapa bulan ini media sosial kayak ramai banget dengan isu-isu privat yang selebritas yang mendadak jadi lahan pengadilan. Nah, gimana menurut pendapatmu gengs? Adakah yang sampai merasa jengah, atau justru mengikuti berita-berita itu? Bisa dong kita diskusi di kolom komentar, sejauh mana kalian bisa menoleransi berita tersebut.

Baca juga: Pintu Everlasting dan Antrian Selembar Administrasi

Eits, tetap ya dengan bahasa yang sopan ya. Semata-mata biar jejak digital tetap bersih dan kinclong.

Have a nice day!

Jya, mata ne~

Source:
Altamira, A. A., & Movementi, M. A. (2023). Fenomena cancel culture sebagai bentuk pengadilan sosial dalam media digital. Jurnal Komunikasi, 15(2), 123–137.

Sari, D. P., & Nugroho, A. (2021). Konstruksi realitas media dan pembentukan opini publik di ruang digital. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 10(1), 45–58.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

Fenomena ini sering kejadian, kadang orang terlalu cepat menghakimi tanpa tahu konteks lengkap. Pernah ngerasa takut komentar karena takut disalahartikan dan diseret rame-rame

Yuni Bint Saniro

Jaman sekarang ya. Orang lebih sering menilai dari potongan-potongan video yang emang mengundang persepsi daripada menonton cerita keseluruhan.

Nggak heran kalau kemudian banyak berita hoax yang lebih dipercaya dan mengundang pengadilan sosial di media sosial.

Huft.

Seiring maraknya kebebasan digital kaya sekarang ga sedikit orang hanya separo2 menilai dari sekedar cuplikan video yg tdk utuh dan ga sedikit juga nyatanya terjadi kesalahpahaman

Aku yang gak pernah dengar gosip jadi nambah wawasan nih. Hahah…
Susah juga sih ya menghindari apa itu kekuatan netizen. Kita hidup diantara mereka mau tidak mau harus bisa bersama

Hiruk pikuk media sosial kurasa semakin marak akhir2 ini. Tapi aku hampir tak pernah ikut ambil bagian berkomentar karena aku sadar aku tak tahu apa-apa..selain secuil informasi yg tersebar meski blm tentu benar..

Heni Hikmayani Fauzia

Naah itu dia mbak Dinda , pengadilan sosial itu terasa lebih kejaam dibanding pengadilan sebenarnya. Netizen memang punya segala kuasa…setidaknya di kondisi saat ini….

Wah, dalem banget ulasannya. Bener sih, sekarang medsos udah kayak ruang sidang terbuka tapi tanpa aturan main yang jelas. Seremnya kalau jempol kita lebih cepet ngetik daripada nunggu fakta yang bener. Jadi reminder banget buat lebih ‘ngerem’ sebelum ikutan nge-judge orang lain di kolom komentar.

alhamdulillah dpt mngga dari tetangga . btw saking viral nya pemberittaan seleb teh kaya mkanan sehari hari terus aja di up kena deh di fyp aku. Penikmat brita terkadang menilai satu sisi ssampai menghakimi miris sih

Sekarang tuh kalau gak viral gak diusut. Orang juga gampang menghakimi, entah itu benar atau salah

Aku pribadi meski kadang mengikuti berita yang ramai, tapi sebisa mungkin gak asal. Karena kadang, kita hanya melihat dari satu sisi, yang lain belum terlihat

Menurutku kuncinya di kita: mau konsumsi sampai batas mana. Kalau mulai bikin emosi, overthinking, atau ngerusak mood, itu tanda perlu scroll lewat aja atau kurangi paparan. Gosip lewat, kesehatan mental tetap harus stay ✨

Sampai sekarang juga masih berseliweran kak isu tentang skandal di medsos. Bahkan pas nengok di tivi ya begitu idem pula. Tinggal gimana kitanya menyikapi isu yang ada, tak perlu terbawa arus apalagi sampai menghakimi. Kan nggak kenal toh

Setelah enggak ngikutin lagi, ada plus minusnya juga mbak. Yang plus banyak jadi tenang, energi bisa difokusin ke hal yg lebih bermakna, ngurangin dosa, dll. Tapii minusnya pas ngobrol sama orang lain rasa kudet banget. Apalagi pas anak yg tanya Krn tahu dari sekolah misalnya.

Nah ini daku setuju kak. Ada bagusnya juga nggak mengikuti berita-berita yang nuansanya negatif, termasuk isu skandal begitulah. Soalnya imbasnya ke diri kita juga.
Memang sebaiknya memilah juga berita apa yang mau diikuti, biar gak terjerumus pula ikut²an huhu

Sedih sih, media sosial sekarang seolah jadi tempat untuk saling tunjuk dan saling lempar kesalahan. Tabayun juga makin minim, tergantung mana yang viral huhu

Sekarang memang media sosial kerap menjadi ajang orang mencari keadilan menurutku. Kayak apa-apa tu harus diviralkan dulu baru akhirnya bisa mendapat keadilan. Tapi ya hal kayak gini pasti ada sisi buruknya juga sih ya kayak apa-apa itu maunya diviralin kalau tidak sesuai dengan standar yang dimiliki

Aku mbak
Pengadilan sosial lebih kuat dan berlaku saat ini ya, komentar netuzen lebih pedas dari sambal bledeg rasanya. Seseorang pun bisa membuat berita dengan headline yang ta kalah hebohnya dengan kenaikan harga bahan pokok

Memang seru kalo buka medsos.
Dari satu cerita, merembet ke cerita lain. Dan jejak digital itu abadi.
Rasanyaa.. serem sekali dan banyak-banyak berdoa biar kebaikan aja yang diperlihatkan.. jangan berita yang ga baik.. soalnya suka ikutan gemeccc dan akhirnya judging.
Kan dosa juga yaak.. jariyah.

Aku engga tau bunga encok loo..
Huhuhu.. poor me~

Makanya sekarang aku pribadi menghindari banget beropini liar dan ikut berkomentar tentang segala sesuatu yang viral mbak. Rasanya terlalu riuh, ramai, dan melelahkan. Padahal nabi jelas-jelas untuk mengajarkan untuk bertabayun dalam segala sesuatu, tapi kita para muslim acapkali malah abai dan lebih suka menilai semaunya.
Ditambah lagi, netizen kita ini kan sudah dapet predikat netizen paling tidak sopan, hahaha. jadi yaaaa… buat apa ngabisin energi ngadepin yang begitu. Mending kita atur alogaritma agar senantiasa menampilkan hal2 relate dan berguna untuk kehidupan kita.
Yang ga jelas, kita klik ‘not interested’ aja, selesai.

Jadi inget, kemarin spupu aku ikutan beropini saat ada status yang menarik di X.
Akhirnya di capture sama orang dan malah jadi viral.
Perkara apa cobak??

Perkara perang gender.
Kek yaang.. “Kalo kamu mau liat karakter asli pasanganmu, cukup hentikan nafsunya.” >> dari sisi cewek.
Dari sisi cowok >> “Kalo kamu mau liat karakter asli pasanganmu, cukup hentikan uang belanjanya.”
Aiih!!

Kadang lelah lihat media sosial di mana orang seenaknya menjudge orang lain yang tidak mereka kenal. Nggak cuma selebritas, bahkan seringkali orang-orang biasa juga.

Btw aku salfok sama cerita pohon mangga yang ditebang cuma gara-gara daunnya diianggap mengganggu. Padahal manfaat pohon mangga lebih banyak dibanding lelah memebersihkan sampah daunnya. Segitu manusia sekarang merasa nggak butuh pohon 😅

Istiana Sutanti

Aku kadang kayak ngerasa ini pun pengalih perhatian dari kasus kasus yang terjadi. Mau gak ngikutin juga kok ketemu terus aja di sosmed.

Tapi jujur aja, di satu sisi tuh ngeliat atau denger kelakukan kayak gitu sempet bikin hati ini mengutuk juga, apalagi kalau sampai bawa-bawa agama. Tapi sisi lainnya, kok ya jahat2 amat yang melontarkan kutukan serta judgement-judgement tersebut di sosmed.

Jadi, walaupun memang dalam hati sempat ikut mengutuk, tapi ya mikir lagi untuk tidak menjadikan pikiran buruk tersebut keluar, apalagi sampai ke sosmed. Akhirnya jadi istighfar lalu berdoa, kalau bisa sih mendoakan si yang punya kasus, tapi kalau belum sanggup, berdoa supaya kehidupan rumah tangga kita sendiri bisa selalu dilindungi dan dijauhkan dari kejadian serupa.

Puyeng kalau merhatiin gosip2 media sosial apalagi soal artis hehe. Aku lebih milih fokes menyoroti kerja pembuat kebijakan negara ajaa hahaha 😀
Tapi emang bener siiiihh, maha benar nitijend dengan segala asumsi dan ketikannya.
Aku biasanya jadi penikmat, asal tahu aja, ooo, cukup tahu aja haha 😛
Soalnya kadnag lucu lho, hari ini hujan A, besok nemu fakta baru gantian hujat B.
Siapa bener siapa salah, au ah lap 😀
Btw sayang banget ya pohon tetangga ditebang mbak. Aku suka melow kalau ada pohon di lingkunganku ditebang gitu heuheu. Tapi yaa tetangganya milih males berkonflik ya hehe 😀

Salah satu hal yang mejemukan dan mengerikan dari socmed ya itu berita dengan judul yang bikin orang mudah mencerca. Perselingkuhan merajalela dan diberitakan terus. Banyaknya orang geram tapi lupa mengerem ketikan.

Ngeri banget emang, pengadilan socmed. Kalau beneran orangnya salah mungkin yaa okelah, tapi kalau orangnya nggak salah? Aduh kasian impact nya bisa membunuh karakter dan merusak mental. Mengingatkan aku banget, buat lebih baik tidak kasih love dan komentar ke postingan-postingan yang hype dan booming. Ngeri aku tuh, mesti memilah mana yang benar dan salah karena kadang gamang juga.

Baik sekali mbak tetangga nya, berbagi mangga walau aku terasa beliau cukup berat buat menebang si pohon huhuhu. Tetapi emang hidup bertetangga harus mau dengar komplain dan memperbaiki.

Aku sendiri berasa lama sekali tidak membaca atau membiarkan algoritma sosial mediaku memberikan informasi seleb, kalaupun lewat aku suka skip. Mungkin masih banyak hal yang perlu di perhatikan selain hal-hal seperti itu.

Hanya soal penghakiman sosial, ini sebenarnya sudah ada sejak era silam, hanya saja berbeda bentuk dan semakin membesar. Dulu hanya dalam area tertentu tetapi sekarang sudah lintas generasi dan benua.

Aku pernah merenungi hal ini, dari sudut pandangku, kalau semua ini di izinkan hidup karena pengadilan meja hijau sudah tidak memiliki jiwa murninya, semuanya sudah makin semu. Walaupun memang sosial itu juga tentu lebih dari itu, hanya buatku itu mungkin bisa membuat sedikit lebih berpikir bagi siapapun yang ingin bertindak tidak tepat.

Aaah pada akhirnya menurutku, kalau aku melihat kehidupan ini bagaimanapun akan semakin tidak mudah, karena hampir semua tatanan dilewati dan merobeknya tanpa berpikir akan hari esok.

seram banget ya Mba, kemajuan teknologi jika tidak digunakan dengan bijak malah membawa petaka bagi siapapun, berita yang dipotong-potong ini sering banget terjadi, dipelintir oleh sebagian orang yag berkepentingan yang menciptakan persepsi baru sehingga mengaburkan sebuah kebenaran dan menciptakan informasi baru yang dapat merugikan salah satu pihak. Naudzubillah semoga kita menjadi salah satu pengguna media sosial yang bijak dan dijauhkan dari perbuatan fitnah tersebut, aamiin

Bambang Irwanto

Netizen memang semakin ngeri, Mbak. Ikut nimbrung lalu berkomen seakan dia Tuhan yang maha kuasa. Padahal belum tentu juga yang terjadi sebenarnya begitu. Mereka hanyha tahu kulit luarnya, tanpa tahu pokok permasalahannya. akhirnya beritanya semakin heboh. Kalu media sosial ini tidak dimanfatakan dengan bijak, kita malah mudah sekali berbuat dosa

Iya sekarang media sosial jadi ruangan pengadilan untuk menghakimi orang lain ya.. padahal belum tentu yang diserang benar melakukan kesalahan.. miris.. sekarang ngga mau mengikuti berita gosip aku..

Iya sekarang media sosial jadi ruangan pengadilan untuk menghakimi orang lain ya.. padahal belum tentu yang diserang benar melakukan kesalahan.. miris.. sekarang ngga mau mengikuti berita gosip aku…

Terus terang sekarang saya jarang mau membuka ataupun membaca sosial media soal orang-orang yang tidak saya kenal dan juga memiliki masalah sehingga orang ramai-ramai menghakimi dan merujak yang bersangkutan dan biasanya saya menunggu kesimpulannya saja hehehe. Karena selalu ada tiga sisi cerita dari pihak pertama, pihak kedua dan juga kebenaran.

antung aprianaa

pengadilan netizen ini memang luar biasa kadang-kadang yaa dan indonesia termasuk yang lumayan parah kalau sudah ngasih hate comment gitu. cuma ya itu tadi sekarang kadang pengadilan netizen ini juga dijadikan pengalihan isu untuk beberapa kasus tertentu

Pengadilan masyarakat aka netizen jauh lebih kejam ya sepertinya, tapi sayangnya tidak diimbangi dengan mencari fakta atau bukti yang cukup langsung menghakimi saja

Teringat beberapa waktu yang lalu saat kecelakaan mobil yang dikendarai suami, padahal yang salah motornya lo dan seperti biasa masyarakat main hakim sendiri memaki, setelah tahu fakta nya mereka hanya tersipu malu tanpa minta maaf dan pergi begitu saja

Pengadilan masyarakat aka netizen jauh lebih kejam ya sepertinya, tapi sayangnya tidak diimbangi dengan mencari fakta atau bukti yang cukup langsung menghakimi saja

Teringat beberapa waktu yang lalu saat kecelakaan mobil yang dikendarai suami, padahal yang salah motornya lo dan seperti biasa masyarakat main hakim sendiri memaki, setelah tahu fakta nya mereka hanya tersipu malu tanpa minta maaf dan pergi begitu saja
Miris kan

Nia K. Haryanto

Iya banget ya, sekarang mah pengadilan udah ada di luar meja hijau. Malah lebih ngeri. Netizen bisa membuat kita sangat buruk. Menjadi penjahat yang keji. Aku sih, segemes apapun sama public figure, jarang banget komen di medsos ttg mereka. Paling ngedumel aja di rumah ke anak2 sama suami. Takut kalo jadi berbalik ke kita. â˜šī¸

Boleh ga sih Mba aku ngerasa lelah banget gitu dengan sistem peradilan di dunia. Berasa semua mau kuaduin aja ke Penciptanya.. Secapek itu soalnya, huhuu

Aku tuh sekarang sedang muak dengan hukum
Orang yang benar dikriminalisasi
Yang jelas jelas salah hidup bebas tanpa batas
Allahu rabbi semoga dijauhkan dari masalah hukum karena serasa tak ada yang bisa kupercaya lagi

Beneran, WNI ni ujian kesabarannya banyaakk banget.
lintas sektor penuh dengan ujian ya
semoga kita semua sehaaattt jiwa raga.

36 Responses