Pojokan

Investigasi Kasus Angsa dan Kelelawar

Siaran investigasi sedang bermula. Seorang pria berambut cepak sedang membawakan berita kasus pembunuhan. Sementara, prompter di depannya bergerak menginfokan lokasi penemuan mayat itu.

Semua bermula dari satu panggilan telepon

— Angsa dan Kelelawar halaman 10

Matanya bening dan rambutnya tersisir rapi ke belakang. Pria itu mengangguk seperti memberi sinyal operator untuk menampilkan video di lokasi kejadian.

Anchor: Sebuah panggilan telepon memberitahukan kantor polisi bahwa sebuah mayat telah ditemukan. Mayat pria itu diidentifikasi bernama Shiraisi Kensuke. Seorang pengacara yang banyak membela kriminal dalam kasus-kasus pidana. Di lokasi kejadian tidak ditemukan sidik jari. Hanya sebuah smartphone dan dompet berisi kartu identitas serta uang 70,000 yen.

Video di lokasi kejadian berakhir. Sorot kamera mengarah pada sisi samping anchor pria bernama Yamamoto itu.

Baca juga: Menyusuri Kios Pasar Sore

Anchor: Devisi Reserse Kriminal Kepolisian masih mendalami kasus ini. Siapa dan apa motifnya.

Sebuah musik intro berita masuk dan beralih ke iklan kripik kentang.

Aku mendesah. Menunggu bagaimana kelanjutan dari investigasi ini.

Mereka Menyebut Kasus Angsa dan Kelelawar

Selama hampir lebih dari tiga bulan siaran berita stasiun Jepang menyiarkan kasus pembunuhan pengacara Shiraishi Kensuke. Tidak hanya keluarga yang diselidiki, rekan, tapi juga klien-kliennya termasuk menelusuri jejak-jejak kasus yang memungkinkan motif pembunuhan terjadi.

Anchor: Seorang detektif yang bertanggung jawab atas kasus ini bernama Godai dan rekannya Nakamatsu, menelusuri kemungkinan adanya motif balas dendam yang dilakukan oleh lawan dari kliennya. Mengingat bahwa karakter Pengacara Shiraishi-san (yang terkenal berwibawa, adil dan berintegritas rasanya motif balas dendam sangat kecil terjadi. Lantas bagaimana detektif Godai melihat kasus ini?

Baca juga: Kumpulan Cerpen Malam Terakhir-Metafora Tentang Kebebasan

Sebuah video wawancara seorang wartawan dengan detektif Godai di TKP muncul di layar kaca. Aku mengeraskan volume televisi, berharap bisa menangkap pembicaraan mereka dalam bahasa Jepang. Meski mustahil untuk menerjemahkannya 100 persen.

Detektif Godai: Kami tidak bisa menjelaskan secara detail. Anda harus menunggu kantor pusat memberikan pernyataan resmi.

Tampaknya wartawan tidak puas. Lantas kawan Godai, Nakamachi, pun pasang badan. Katanya bahwa mereka akan segera memberi tahu jika ada perkembangan tentang kasusnya dan harus pergi melanjutkan penyelidikan ke Monzen-nakacho. Lantas, Godai pun mendekatkan suaranya ke microphon dan mengatakan:

Mungkin saja agak berlebihan disebut memata-matai. Shiraishi-san kan bukan detektif. Bagaimana kalau simpulkan (sementara) dia (pelaku) sedang menunggu kemunculan seseorang

— Angsa dan Kelelawar halaman 26

Seluruh Tokyo dan beberapa wilayah di Jepang cukup gempar dengan kasus penemuan mayat pengacara ini. Setiap pemberitaan di televisi menyala, aku cuma bisa menahan nafas. “Bisa-bisanya pelaku membunuh pengacara? Dendam kesumat apa yang ia rasakan?” Aku bertanya-tanya sambil sesekali menggeleng.

Baca juga: Apa yang Manusia Butuhkan Saat Sistem Tak Lagi Sama

Berdasarkan laporan di lapangan, petugas kepolisian menyebut kasus ini Angsa dan Kelelawar.

Cahaya dan kegelapan, siang dan malam—keduanya berdiri di posisi yang berseberangan.

— Angsa dan Kelelawar halaman 537

Lantas berita pembunuhan itu berakhir dan lagi-lagi terjeda iklan. Aku mengalihkan siaran sementara sambil bertanya-tanya, “apakah ada alasan lain detektif itu menyebut kasus ini sebagai kasus angsa dan kelelawar?”

Tapi seperti biasa, pertanyaanku terlontar hanya untuk menguap.

Pernyataan Kepolisian yang Dipertanyakan

Sudah beberapa bulan berlalu, kasus pengacara Shiraisi perlahan memudar. Pelaku kejahatan tertangkap, yang ternyata adalah seorang calon klien dari pengacara itu. Kuraki Tetsuro. Kuraki-san tidak mengelak dan malah mengatakan bahwa dirinya terlibat dalam kasus pembunuhan yang sudah kadaluarsa tiga puluh tahun lalu.

Baca juga: Metamorfosis Semangkuk Sop Ayam di Meja Makan

Berita kasus pengacara Shiraisi yang mulai memudar karena perkara kasus kriminal lain, seketika meledak kembali. Acara bincang pakar sampai berita malam siaran televisi menayangkan kasus itu. “Gila! Tak bisa dipercaya, dia benar-benar mengaku dengan sukarela,” kataku skeptis di depan layar televisi yang setipis es di dalam kulkas.

Anchor: Bagaimana tanggapan detektif penanggungjawab kasus ini terhadap pengakuan Kuraki-san? Dan mengapa tersangka Kuraki baru mengaku sekarang? Benarkah tujuannya mengaku saat itu adalah untuk menghindari hukuman karena kasusnya sudah kadaluarsa?

Aku berkerut kening mendengar pernyataan kontroversial dari pembaca berita itu.

Tak berselang lama, video pernyataan resmi kepolisian keluar. Namun, pernyataan itu tidak menjawab apapun termasuk motif hingga alasan tersangka baru mengaku.

Itu kan sebatas alasan di permukaan. Tujuan sebenarnya tentu untuk menjaga reputasi Kepolisian Prefektur Aichi. Aku bisa memahami kenapa para petinggi ingin menutup-nutupi kasus itu, tapi menyebarkan informasi setengah-setengah hanya untuk memperumit situasi.

— Angsa dan Kelelawar halaman 162

Aku menggosok-gosokkan daguku yang tak gatal. Sejenak insting meragukan informasi resmi dari kepolisian itu. Kukira cuma negaraku saja yang mempertanyakan kualitas polisinya, batinku.

Kejahatan Tak Selalu Datang Karena Benar-benar Jahat

Musik intro berita malam terdengar. Air keran buru-buru kumatikan. Kuseka tangan dengan kain di dekat wastafel. Suara pembawa acara televisi terdengar dari speaker televisi. Kuraih remote di atas sofa dan menaikkan volumenya dua level.

Anchor: Setelah selama beberapa bulan mendalami kasus angsa dan kelelawar ini. Ternyata masalah ini lebih rumit dari dugaan. Tak hanya detektif yang bertanggung jawab atas kasus ini, tapi juga anak terdakwa (Kuraki Kensuke) dan anak korban (Shiraisi Mirei) mencari akar dari kasus ini bersama-sama. Hasilnya benar-benar jauh dari prediksi.

Lalu di layar televisi, menampilkan wawancara dengan pihak pengacara terdakwa dan korban secara bergantian. Para pengacara pun sampai tak habis pikir alasan terdakwa Kuraki ternyata sedalam itu, dan bahkan tanpa orang sangka, Pengacara itu ternyata berhubungan dengan kasus pembunuhan yang kadaluarsa itu.

“Kalau cerita kasus ini ada dalam novel angsa dan kelelawar bisa-bisa halamannya mencapai 559 halaman,” kataku geleng-geleng, “mungkin saja.”

Baca juga: Dua Belas Pasang Mata yang Menatapku Lebih dari Dua Belas Detik

Belakangan ini saya menyadari betul bahwa jaksa dan pengacara hanya mementingkan kemenangan di persidangan. Bagi mereka kemenangan bukanlah prioritas

— Angsa dan Kelelawar halaman 404

“Rasanya memang masuk akal untuk kedua kubu bisa bekerja sama. Sudah sejak awal mereka menyadari penangkapan terdakwa, terlalu cepat dan polisi buru-buru meng-iya-kan alasan terdakwa.” Aku menggeleng.

“Barangkali juga, kadang kejahatan tidak selalu datang karena benar-benar jahat. Hanya jika ada orang yang ingin mennggali lebih dalam,” ujarku sambil menyandarkan punggung sofa.

Sementara pelan-pelan suara anchor menjadi memudar. Pelan sekali. Hingga ,sepenuhnya menghilang.

Closing By Senja Hari

Adakah yang sudah membaca novel angsa dan kelelawar karya Keigo Higashino-sensei ini? Ataukah ada yang sedang membaca novel-novel misteri sejenis novel angsa dan kelelawar ini? Bisa dong di share pengalaman bacanya gimana, entah itu hal-hal menariknya sampai hal-hal yang bikin geregetan.

Anyway, narasi angsa dan kelelawar ini sejatinya adalah review tentang bukunya, yang sedang kucoba untuk kureka ulang jika terjadi di dunia berita. Kalian boleh kasih kritik dan masukan terkait narasi ini atau berbagi bacaan apa yang sedang/pernah kalian baca di kolom komentar.

Tetep ya, komen dengan bahasa yang sopan dan bijak. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.

Have a nice day!

Jya, mata ne~

View Comments

  • akhirnya ada review mbak Dinda yang bukunya kubaca. Hihi. Unik banget ini reviewnya jadi baca sebuah cerpen lagi. Untuk novelnya sendiri juga ceritanya cukup unik ya karena anak-anak dari korban dan tersangka malah sibuk mencari kebenaran pengakuan orang tua mereka dan ketika akhirnya kebenaran terungkap itu rasanya ngenes banget deh

Published by
Dinda Pranata