Penulis : Dinda Pranata
Anak Setan!
Tujuh menit sebelumnya,
Duarr!
Rasanya siang itu dadaku bergemuruh mendengarkan cerita Tresno yang didorong oleh anak tetanggaku. Bocah yang biasanya pulang main cengas-cenges (ketawa), kini menangis. Asap di kepalaku sudah meninggi.
Kobaran api naik level. Marah. Siap meledak. Apalagi saat kutahu yang mendorong bocah itu adalah anak Bu Susi. “Kurang ajar!” seruku lirih. Penuh tekanan. Seperti tenggorokanku siap mengiris sisi-sisi di dalamnya.
Baca juga: Adarusa Marah, Pemberi Utang Resah
Api sudah membakar. Syarafku mendadak mati rasa. Ada arus pendek dan seketika pikiranku padam. Aku mengambil ponsel di atas meja. Lalu dengan jemariku yang tak terkontrol oleh pikiran, sebuah status di linimasaku mencetak huruf-huruf tebal. Huruf kapital. Termasuk tanda seru yang berderet. ANAK SETAN!
Dadaku naik turun, rasanya darah berhenti masuk ke kepala. Di tujuh menit itu, ada yang berubah dari diriku.
Tujuh Menit dan Tujuh Linimasa
Sebuah pesan instan masuk, dari seorang kawan sekaligus tetangga. Pesan yang mengomentari status-status linimasaku.
Say, kau kenapa? tanya pesan itu. Saat pikiranku sedang mati, dada kembali bergemuruh. Bukan marah. Bukan juga lega. Atau … mungkin keduanya.
Secepat aku mengetikkan status-status amarahku di media sosial, aku menjawab pesan kawanku itu. Anak Bu Dewi mendorong anakku di depan rumah!
Baca juga: Ibu Rumah Tangga Serasa Wanita Kantoran
Masih dengan tanda seru yang sama banyaknya. Aku melihat kawanku itu sedang mengetik. Terbaca dari pesan itu. Lalu jawabannya sungguh di luar dugaan. Di rumahmu kan ada CCTV-nya? Sudah di cek kah?
Deg!
Sebuah ingatan yang benar-benar terlewat. Bukti. Aku menepok jidat sambil mengadu. Lalu kawanku mengetik lagi sebelum aku merespon. Coba bicarakan dengan Bu Dewi, Say. Karena bahaya kalau kau marah-marah di media sosial.
Biarkan semua orang tahu lah, Gimana anaknya! jawabku tak terima.
Amarahmu bisa beredar. Satu peredaran amarah bisa menyulut banyak ledakan. Bisa-bisa ledakan itu kembali padamu. Itu adalah pesan terakhir dari kawanku.
Baca juga: Studi Komparatif Bertema SARA: Apakah Rawan Konflik?
Dadaku masih terguncang. Kupikir kawanku akan membelaku, tapi ternyata ia sama buruknya dengan anak orang itu. Makin banyak statusku mendapat atensi, beberapa kawan ada yang ikut prihatin dan beberapa yang lainnya ikut mengomentari. Amarah itu seperti tersiram minyak. Makin meletup.
Sampai kuingat CCTV yang harus kucek. Kuperhatikan adegan demi adegan. Hingga … tujuh menit dan tujuh linimasa yang sudah kubuat itu mendadak seperti batu es yang tidak bisa meleleh.
Reinkarnasi Emosi Dalam Tubuh Baru

Cerita anakku memang benar, tapi tidak sepenuhnya benar. Selalu ada sebab-akibat dalam setiap kemungkinan kejadian. Tidak pernah tunggal. Kupandangi rentetan pergerakan dan suara di CCTV, anakku lah yang mulai mendorong anak Bu Susi dan pertengkaran pun terjadi hingga anak Bu Susi mendorong si Tresno.
Kuputar adegan itu berkali-kali. Masih berusaha mencari celah untuk pembenaran atas apa yang kulakukan. Nihil. Lalu, aku beralih ke tujuh linimasa status yang sudah kubuat. Jempolku bergetar. Antara takut dan lebih dari setengahnya adalah malu. “Benar kata kawanku,” gumamku.
Tak ada yang bisa kulakukan. Tak ada pula yang bisa kuputuskan. Aku meletakkan ponsel. Mengambil sapu dan berjalan ke teras. Membersihkan debu di lantai keramik itu. Seperti membersihkan sisa-sisa malu dalam kepalaku.
Baca juga: Negara Kaya, Tapi Kok Merana Ya!
Di sela-sela semen retak di depan teras. Sesuatu berwarna keunguan menyembul dan melambai. Warnanya mencolok di antara gulma dan rerumputan hijau yang subur di musim hujan. Ia tidak gaduh seperti status-statusku itu, tapi emosi ceria rumput itu tetap sampai padaku.
“Nyonya besar,” sapa gulma itu, “aku tahu kau marah. Tapi cobalah berayun diam sepertiku, maka semua akan baik-baik saja.”
Aku mendecih, merasa gulma ini sok tahu seperti pesan-pesan kawanku. “Memang kau punya emosi?” tanyaku. Alisku berkerut.
“Aku tidak tahu apa itu el-mol-si,” katanya sambil dahannya berayun pelan. Aku merevisi kata-katanya sembari tersenyum.
“Tuh lihat. Kau mulai tersenyum Nyonya Besar,” sahutnya lagi. Aku hanya menghela nafas panjang.
Baca juga: Lomba Luka, Siapa Pemenangnya?
“Nyonya besar belum tahu, akhir-akhir ini emosi sudah bereinkarnasi ke tubuh-tubuh baru,” jelasnya.
“Apa maksudmu?”
“Kata burung gereja yang sering hinggap, tubuhnya bernama media sosial,” jawabnya. Dengan ulu hati yang seketika terjun bebas. Istilah itu rasanya pernah kudengar sebelumnya.
Maman Ungu dan Tubuh-Tubuh Emosi
Aku berkenalan dengan si maman ungu, bunga mungil yang tak bisa mengucap kata emosi. Rasa-rasanya lima menit kuberjongkok tadi terasa seperti mendengarkan ledekan. Meski bukan ledekan meledak.
Aku tak menyadari kemarahan yang kulakukan ini punya nama jauh sebelum fenomena ini kukenal luas. 2015. Seorang akademisi dan seorang dosen bernama Zizi Papacharissi, memperkenalkan reinkarnasi tubuh-tubuh emosi di era digital. Affective Publics. “Publik yang terbentuk di media sosial dari perputaran emosi dan muncul melalui situasi sementara. Sering kali spontan saja,” gumamku membaca sebuah jurnal.
Pendaran cahaya di tubuh BoTak (asisten digital di Laptopku) menunjukkan rangkaian informasi lewat sebuah jurnal. Diam-diam jurnal itu menatapku, seolah kata-kata yang muncul itu lebih ingin mencolok mataku, atas tindakan yang kulakukan tujuh menit lalu. “Sial!” kutukku.
“Mengapa semua kata-kata ini terdengar seperti ledekan. Tak dari si Maman Ungu atau jurnal sialan ini,” kataku kesal. Affective Publics bergerak dari emosi ke perangkat lalu ke jejaring yang lebih luas. Satu status personal bisa saja membawa amarah dan emosi ke ruang yang lebih luas. Aku membaca pelan-pelan pesan-pesan yang masuk ke kotak pesanku. “Bu Ana simpati, Bu Rika ikut marah, dan Bu Laila …,” kata-kataku terhenti. Mataku membelalak. Bu Laila membagikan ulang statusku dan menyebutkan nama Bu Su**, (meski tersensor) di statusnya.
Apa yang kulakukan tidak membawa masalah makin reda. Tapi, sebaliknya. Kawanku, Maman Ungu dan jurnal ini sudah memperingatkanku, tanpa aku sadar sudah masuk ke dalam domain ketakutan Affective Publics. Ini membuatku merasa seperti terhantam diam-diam. Tanpa peringatan.
Yang Tertinggal Setelah Emosi Berpindah Tubuh
Aku menghapus tujuh linimasa ledakan emosi di tujuh menit yang lalu. Jempolku bergetar dan entah berapa kali aku menekan tombol hapus di layar. Rupanya meski listrik di kepala sudah menyala, ia justru tak bisa menemukan satu kata yang benar untuk dibagikan. Layar ponselku tiba-tiba menutup rapat celahnya.
Satu menit berlalu. Jempol masih naik turun samar. Dua menit .. lima menit … sampai menit ke sembilan hanya satu kata yang muncul. MAAF dan tanda titik. Lalu aku menekan tombol kirim ke lini masa.
“Butuh lebih dari tujuh menit untuk satu kata maaf,” kataku. Kali ini tidak marah. Hanya rapuh. Mungkin juga malu (yang tak ingin kusebut namanya kala itu).
Di antara tujuh menit ledakan di linimasa, ada satu ledekan yang tak menertawakan dalam lima menit. Bunga Maman Ungu. Lalu, apa yang tertinggal setelah emosi berpindah tubuh?
Aku masih tak sanggup mengakuinya.
Gimana menurutmu narasi ini gengs? Adakah yang pernah mengalami atau berhadapan dengan orang-orang seperti ini, yang tahu-tahu meledak di media sosial tanpa filter? Bisa dong kalian berbagi pengalaman berharga itu dan gimana kalian menyikapinya? Siapa tahu cara dan pengalaman kalian bisa bermanfaat bagi mereka yang mengalami kejadian serupa.
Eits, tapi tetep ya dengan bahasa yang bijak dan sopan, semata-mata menjaga jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day! Jya, mata ne~
Source:
Lünenborg, M. (2019). Affective publics. In J. Slaby & C. von Scheve (Eds.), Affective societies: Key concepts (pp. 320–329). Routledge.
Papacharissi, Zizi. “Affective Publics and Structures of Storytelling: Sentiment, Events and Mediality.” Information, Communication & Society, no. 3, Informa UK Limited, Nov. 2015, pp. 307–24
Comment
Pernah ada yg bilang, jika marah, jangan pernah menyentuh gadget atau buat keputusan apapun. Tahan dulu. Melipir ke kamar, matikan lampu, tenangin perasaan. Krn di saat marah menguasai diri, pikiran kita ga akan bisa berpikir secara logis. Semua dikuasai oleh emosi dan perasaan. Logika mati.
Krn itu aku pun tipe yg ga akan menyentuh gadget utk melampiaskan emosi di saat sedang marah banget mba.
Duluuuu aku pernah jadi orang yg selalu menulis status apapun di medsos. Marah dikit, tulis. Seneng dikit, tulis juga. Tp makin kesini, ada rasa malu juga kalau semua diumbar 😅😅. Jadi lebih menahan diri. Dan suami pun udah wanti2 kalau dia ga mau istrinya menulis hal2 ga baik di medsos , 🤣. Drpd ntr yg malu aku juga kan 😅
Benerrrr bangeeett, Mbak Fannn.. 😅
Aku sempat buka FB lama dan ngelihat jejak digitalku tuh astaga malunya nggak ketulungan. Pengen memaklumi kalau dulu masih amat sangat labil, tapi kok ya gimana gitu lhooo… 🫣
Sekarang tuh kalau lagi marah sama siapapun, lebih nulis ke diary. Biar malunya di keep sendiri nggak sampai mencoreng muka di media sosial. Jadi pas bikin tulisan ini aku merasa menampar diri sendiri.. 😂
Kyknya awal2 bermedsos kita semua buka2an apa aja. Apa aja diposting. Aku pun begitu. Kalau baca2 lagi antara hiihh jijay beneran nih gw nulis ini dulu wkwk tapi aku nggak hapus karena kyk bisa belajar banyak juga wkwk.
Tapi aku jarang nulis terang2an lagi merasakan apa, cuma alay gitu wkwk.
Makin ke sini bisa melihat sendiri kedewasaan diri haha hallah.
Jujur aku pun nggak nyaman kalau ada orang yang kasar beut di sosmed apalagi nolol2in orang lain. Sekarang banyak kita temukan sih ya. Orang kadang lupa di balik sosmed itu ada orang beneran, yaaa kecuali buzzer rezim haha.
Jadi keinget kasus beberapa waktu lalu di Bandung ya mbak Dinda. Jadi ada cowo lg parkir di pinggir jalan gitu, trus tiba-tiba ada bocah kesandung trus jatuh dan kepentok motornya. Eh, cowonya malah dituduh mukulin bocahnya wkwkwk.
Nah, si orang tua juga malah langsung marah-marah gitu aja. Meledak-ledak lah ya. Padahal pas dicek cctv, si pemuda itu mah gak salah. orang gak ngapa-ngapain.
Akhirnya malu sendiri kan ya, dihujat satu indonesia.
Itulah kenapa kalo di Islam, kita tuh disuruh untuk tabayyun dalam berbagai hal. jangan mudah marah dan menghakimi, apalagi kalo gak ada saksi dan gak ada bukti. Tar yang ada malah riweuh sendiri, hehehe
Waahhh, ada kasus juga ya mas Fajar di Bandung??? Aku belum sempat riset banyak sih. Waktu aku bikin ini, aku terinspirasi sama kasus guru yang dipecat-pecat itu gara-gara anak didiknya berulah.
Aku setuju banget, kalau jangan mudah menghakimi. Ada baiknya kan diselesaikan secara personal daripada dibawa ke medsos. Karena sependek pengalaman waktu masih labil. Malunya sampe sekarang, meski itu sekedar curhat sepele. 🙁
Saya sendiri tipe yang tak men-share hal-hal personal yang sensitif di media sosial. Alasannya suka malu sendiri sih 😀
Emang bahaya banget ya kalau asal ngetik, baik soal pribadi atau soal orang lain. Apalagi ada undang-undang ITE yang bisa saja menjerat kita gegara sebuah status medsos yang tak berdasar
Bener banget mas Yonal. UU ITE tuh bisa menjerat kita sama pasalnya ya.. Misal kayak pasal pencemaran nama baik atau fitnah gitu. Lebih serem lagi mah kalau itu. 😮
Tersulilut emosi memang sesuatu ya Kak.
Jadinya ya kalo lagi amarah meradang, kudu sabar biar pikiran lebih tegar dan tenang.
Hanya aja, memungkinkan pikiran kalap itu malah merasuki lebih besar ketimbang rasa tenangnya
Masa masa sekarang memang gampang banget ya mnaenuangkan emosindalam.unggahan yg kita sebut entah status entah stori…
Dan sering banget aku menjumpai kasus spt itu menuangkan semua isi kepala dalam sebuah ketikan….aku sendiri sptnya jg pernah mengalaminya.. namun klo skrg sptnya aku lebih bisa mengerem buat menggerakkan jempol tangan ini..sdh jarang sekali membuat status yg personal kayak gt kok rasanya kurang etis apa yg kita alami diketahui banyak org apalagi sampe menyinggung pihak lain hehehe
Setuju mbak Ery.. Beberapa kasus yang dekat tuh berita artis yang saling lapor perkara medsos. Semakin dilihat, semakin ngeri kalau curhat ke Medsos ya Mbak.. 🥹
Media sosial ini bagai dua sisi mata pisau. bemanfaat kalau kita bijak menggunakan. Sebaliknya akan menikam kita juga. Makanya jangan sampai terpancing emosi, lalu curhat di medsos. Baik lewat tulisan maupun dalam bentuk video. Media sosial hanya pelampiasan sesaat. followers tak bisa langsung membantu menyelesaikan masalah. malah banyak yang jadi kompor biar semakin panas membara. Termasuk lewat status kita, malah memancing perang komentar.
Iya Mas Bams. Kok ya ngeri kalau sudah sampai perang komentar. Kita jadi berkaca pada perkara dunia entertaiment.. 🥺
Zaman sekolah SMA-kuliah saya termasuk yang vokal banget di medsos. Haha.. Kayak semua dikomentarin, marah-marah di medsos, ngeluh di medsos. Mungkin karena ngerasa nggak punya tempat curhat aja kali ya (karena nggak sedekat itu sama ortu untuk cerita macam-macam). Lama kelamaan apalagi abis menikah, setelah emosi lebih stabil ya lebih ke misuh-misuh dalam hati atau numpang buang sampah emosi ke suami sih. Haha.. Apalagi belakangan ini berita di medsos beneran bikin darah tinggi.
Betul mbak. Rasanya buka medsos sama kayak membakar diri. Makanya udah lama saya nggak buka Medsos. Takut kebawa emosi berlebih. 😅
kalau sampai share di media sosial ketika marah itu fix sih beliau mesti belajar tarik nafas dengan benar. akibat ketika kita marah dan share di sosial media itu pertama orang yang benci ke padamu itu ketawa haha hihi, puas karena kondisi mu , ngeuri kan? bukan berarti gak boleh marah tapi harus tetep stay cool
Akh iya, masa kini kalau marah memang sebaiknya jangan pegang HP dulu. Terkadang, sulutan emosinya bikin gemes pengen ketik status dan pas sudah di send aduh akan meninggalkan banyak perasaan tak enak.
Akan tetapi, bisa ku maklumi kalau terkait anak. Seorang Ibu biasanya memang sensitif. Bahkan teman yang mengingatkan hal baik pun dianggap tak berpihak. Lupa buat ngecek bukti. Sisanya memang menyesal, malu, nggak enak.
Pembelajaran berharga banget, tak ada gading yang tak retak. Dari kejadian tersebut, beneran bisa di petik hikmah. Kalau marah, kasih jeda buat tarik nafas dan jauhi gadget.
Kroscek dulu, bila memang orang lain salah dengan bukti yang ada bisa tegur langsung. Makasih mba, ini pembelajaran berharga tentang pentingnya kasih waktu untuk emosi ini di regulasi dan jangan gegabah buat status apalagi di socmed.
Aku ingat pernah mangkel sama orang sampai ke ubun-ubun lalu kujadikan status di IG story
Sampai banyak yang baca dan komen
Bahkan ada yang komen balik menyalahkan saya karena tidak punya batasan akan case tersebut
Akhirnya aku sadar, kalau marah memang lebih baik tidak menyentuh media sosial
Sebab jejaknya tidak akan pernah hilang
Makanya kalau melihat orang seperti ini, saya jadi sadar kalau memang gak baik dan ga enak bacanya
Aku bukan tipe yang share apa aja di sosmed kecuali hal yang indah2. Kalau soal emosi paling pas maki2 pemerintah pas mereka gak becus kerjanya haha, jarang up masalah pribadi 😛
Biasanya soal kesedihan atau emosi karena sesuatu aku pilih keep aja di ruang privat, karena yang terjadi biasanya orang tu kek “nyukurin” kalau tahu kita kesusahan/ marah karena sesuatu. Ini #imho aja sih yaaa. Kalau emosi lalu share2 ke sosmed bahkan yang ada malah kadang orang lain juga komennya gak sesuai harapan lalu kita betenya double =))
Nah aku nggak mau hari2ku tambah rusak karena ada stranger ikut nimbrung tanpa tahu hal sebenarnya 😀
Namanya orang memang kadang-kadang ada titik didihnya masing-masing dan kadang-kadang beberapa tidak mampu untuk mengelola emosinya secara baik dan benar sehingga mudah di sosial media dan itu bukanlah tindakannya terpuji sehingga usia setiap orang tuh harus punya self control dan juga kemampuan untuk mengelola emosi sehingga bisa disalurkan dan diselesaikan dengan benar
Beberapa tahun lalu ada temenku yang seperti ini. Selalu meledak-ledak dan berkeluh kesah di statusnya. Tapi bisa jadi karena memang kondisi yang bikin emosinya bisa meledak-ledak kayak gitu, salah satunya karena babyblues.
Awal-awal aku tanggapi dan mencoba merangkul sambil memberi sedikit nasehat-nasehat persis kayak temen yang tadi memberi nasehat itu. Tapi makin lama ternyata dia tidak membaik, dan aku kok malah keikut kesel pas baca statusnya. Bukan kesel dengan apa yang membuatnya kesal, tapi lebih kesal karena kok dia mengeluh terus dan gak bisa bersyukur gitu.
Akhirnya aku putuskan untuk block, hyaa. Salah gak ya aku. Itu aku lakukan supaya akunya gak ketularan emosi aja dan menjaga diri sendiri sih. Tapi akhirnya dari situ juga aku belajar, kalau lebih baik menyaring lagi apa apa yang kita bagikan di media sosial. Jangan setiap kali emosi langsung tulis status, tapi tulis di notes jadi hanya kita aja yang bisa baca, gak perlu orang lain baca, ehehe.
Karena buat aku, emosi itu tetap harus dituangkan, kebetulan bentuk yang paling aku suka ya tulisan, jadi kadang bisa menulis panjang menjabarkan apa yang ada di pikiran aku aja. Bisa jadi setelah itu aku hapus. Atau kalau ditulis di kertas, kertasnya aku lecek2in lalu aku robek biar perasaan lebih lega 😀
Aku pernah lagi. Rasanya amarah menguasaiku lebih cepat ketimbang isi otak. Padahal aku tipe yang percaya kalau marah akan membawa ke penyesalan dan selalu terbukti tapi masih saja emosi menguasai lebih dulu. Bahayanya, di jaman digital ini semua diarahkan ke sosmed, status Waa dan lain-lain. Seolah semua orang harus tahu kalau aku marah, seolah dunia harus memaklumi kalau aku marah. Padahal ya itu seperti kepercayaanku, ujung-ujungnya menyesal dan malu.
Aku ingat dulu seniorku di kantor pernah bilang, riset dulu, cek dulu, riset dulu, cek dulu. Ketika marah kayaknya kata-kata itu tak berarti, seolah aku paling benar, seolah riset itu tidak diperlukan. Tapi nyatanya, setelah cek kebanyakan aku yang salah. Ini pedih sih 🙁
Sering banget terjadi pada diriku. Ledakan emosi negatif, entah marah, sedih, gelisah, yang berujung update status di media sosial. Lega setelah menuliskannya, tapi tak lama menyesal lalu menghapusnya 😆
Kayanya emang butuh jeda sebelum melakukan apapun saat emosi negatif hadir ya. Daripada berujung menyesala atau malu.
Duh aku skrg lbh banyak puasa di sosmed kak. Takutnya kejadian kyk kakak tuh. Udh marah2 di sosmed eh malah kita yg salah sendiri. Blm sanggup dpt amuk massa di linimasa saya. Hehe.
Dulu pernah kejadian di kantor. Karyawan yg notabene juniorku ini emg sering dimarahin bos soal kerjaannya. Lantas juniorku ini meluapkan emosinya di sosmed. Nah, HRD ngecek tuh pas penilaian kerja. Di situlah penilaian kerjanya buruk krn suka melampiaskan kerjaan di sosmed. Meski akun anonim tp tetap dia ada followers. Takutnya mencitrakan jelek ke perusahaan. Akhirnya kontrak kerja dia ga diperpanjang. Kan sedih yak.
Iya, emosi memang bisa berbahaya ya sebaiknya kalau dengar berita buruk dibiasakan cek dan ricek dulu ya apa lagi ada CCTV-nya di rumah terus jangan terburu-buru share di medsos
Aku sring pake tulis-hapus kalo marah dan pingiiiin banget nulis di sosmed.
Setelah nulis panjang lebar, lalu gak akan aku enter… kuendapkan.. sampe nanti plong.
Sebenernyaaa.. yang aku takutkan adalah ini hanya POV dariku yaa.. kalo orang lain, mungkin bisa melihat dari perspektif berbeda.
Tapi jujur, namanya kesal, marah itu kudu diluapkan dengan cara yang tepat dan dewasa.
Kalo engga, bisa jadi boomerang masa depan.
Huhuhu.. jejak digital itu abadi, siistt~
Yaah begitulah saat emosi menguasai jiwa pikiran pun gak bisa digunakan secara objektif lagi. Hawanya panaaas terus. Untung ada cctv yang menyelamatkan pergerakan emosi yang sudah kadung liar itu.
Kalau sedang emosi mending menjauh dari medsos, banyak yang terbawa emosi terus main share hanya demi pengen curhat atau sekedar ingin mengungkapkan pendapat tapi fatal akibatnya
Kalau sedang emosi mending menjauh dari medsos, banyak yang terbawa emosi terus main share hanya demi pengen curhat atau sekedar ingin mengungkapkan pendapat tapi fatal akibatnya. Iya kan?
Pembahasannya relevan dengan kondisi sekarang, ketika emosi kolektif gampang terbentuk lewat ruang digital dan cepat menyebar
Sebuah cerita yang sangat menggugah dan dalam. Menyadarkan betapa mudahnya kita menghakimi tanpa sebelumnya menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
Terima kasih banyak, mbak.
Hmmm berat memang kalau emosi sudab tak terbendung. Perlu ruang untuk menurunkan emosi itu sendiri…
Emosi jiwa yang kita rasakan saat orang yang kita sayangi disakiti, biasanya langsung tersulut tanpa mencari tahu dulu apa penyebabnya. Kurasa itu hal wajar, manusiawi ya. Kalaupun sudah ada fakta sebenarnya, kita harus berani meminta maaf dan legowo tentunya. Nice sharing 🙂
Cerita tentang Tresno dan Bu Susi ini jadi pengingat keras kalau jempol sering kali lebih cepat dari logika saat emosi memuncak. Affective Publics memang nyata; niatnya cuma curhat, eh malah jadi bola salju amarah yang salah sasaran.
Malu karena salah paham itu manusiawi, tapi belajar dari “Maman Ungu” untuk diam sejenak itu pilihan bijak.
Jadi keinget dulu apa-apa dijadikan status di fb, saat liat beberapa kenangan yang biasa ditampilkan, suka malu sendiri dengan jejak digital nulis status dulu. Kalau sekarang ketika ada ledakan emosi, ku tuliskan di kertas setelah itu disobek-sobek bikin lega.
Bahasan soal emosi publik ini menarik dan relate dengan kondisi sekarang. Di media sosial, emosi memang cepat sekali menyebar. Kadang kita ikut terbawa tanpa sadar, jadi harus ngerem tangan , ingat jejak digital susah ilang…
Sebelum mengenal dunia digital, saya pernah membaca opini seorang psikolog yang katanya kalau ingin menuliskan kekesalan sebaiknya di selembar kertas lalu dibuang. Makanya, saya gak pernah menuliskan rasa marah di diary. Ketika mulai berkenalan dengan medsos dan blog, saya pun melakukan hal sama. Kalau udah ruwet banget, mending tidur aja. Gak usah pegang gadget dulu.
Iya nih terkadang sekarang ini di era media social kita tuh harus banget nahan jari untuk nggak mudah marah dan tersulut emosi. Alih-alih klarifikasi pada dua belah pihak terlebih dahulu, naik darah malah duluan.
Pembelajaran banget, untuk lebih hati-hati jangan sampai dibuat malu dan menyesal karena tindakan yang tergesa-gesa apalagi menyangkut postingan status di lini masa.
Sungguh tulisan ini bikin aku mikir dan berkaca diri banget mba.
37 Responses