Cit cit cit!
Burung pagi sudah gaduh di atas pohon cempaka di sebelah rumah. Jarum jam juga belum tuntas ke pukul lima, masih ada sisa lima menit lagi sebelum jarum panjangnya menyentuh angka dua belas.
Aku memandang meja makan bulat itu. Dua piring keramik dan satu piring melamin sudah tertata di atas meja. Tiga pasang sedok dan garpu sudah ada di piringnya. Lalu, di tengah meja makan itu semangkuk sop ayam masih mengepul.
Aku memandang wortel dan buncis yang menari di atas kaldu ayam yang gurih itu. “Setidaknya ayam dalam kuah itu tidak lebih buruk dari Gregor Samsa,” gumamku. Menjelang dua menit jarum panjang jam dinding menyentuh angka dua belas, aku teringat empat puluh tiga menit yang lalu, sebelum metamorfosis sop ayam ini terjadi. Kira-kira apa yang ayam itu pikirkan sebelum ke tukang jagal? Aku terdiam cukup lama.
43 menit yang lalu,
Baca juga: The Will to Meaning, Lebih dari Sekedar Mencapai Sesuatu
Tubuhku bereaksi agak lama, meski mata sudah menatap langit-langit di kamar yang gelap. Aku mengangkat kedua tanganku dan mengepalkannya berkali-kali. Aku menghela napas lega. Mungkin aku terlalu terbawa suasana atas buku Metamorfosis karya Franz Kafka, yang membuatku tidur paling akhir di rumah itu. Kukira suasana itu akan menghilang ketika tubuhku mulai bergerak.
Aku membuka kulkas, memeriksa bahan-bahan untuk sarapan pagi itu. Di kulkas yang sudah sepuluh tahun menjadi penghuni dapurku, aku menemukan wortel, buncis, kembang kol dan ayam potong yang tinggal bagian paha. “Sayur sop saja,” gumamku sambil mengambil bahan-bahan itu.
Pisau bermata tajam bergagang kayu, mengiris lapisan kulit wortel, buncis, kembang kol. Saat ayam kukeluarkan dari mangkok kaca di atas meja dapur, tanganku terhenti sebelum mengirisnya. “Saat Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya menjadi seekor hewan menjijikkan. Apa benar bahwa ia hanya membicarakan perubahan tubuhnya dari manusia menjadi hewan menjijikkan?” tanyaku dalam hati.
Aku menghela napas. Lalu kulanjutkan mengiris daging ayam menjadi seukuran dadu kecil. Memisahkan tulang dengan dagingnya. “Barangkali ayam tak punya pilihan lain selain menerima nasibnya sebagai hewan potong,” kataku.
Memasukkan tulang ke dalam air panas yang sudah mengepul di atas kompor.
Baca juga: Review Super Parent: Mengasuh, Mengasihi dan Empati
Apa pun yang kulakukan, aku tak boleh bermalas-malasan di tempat tidur.
Gregor Samsa, Metamorfosis halaman 9
Tulang paha ayam itu bergemuruh di dalam gelombang air mendidih di panci putihku. Aku menatapnya lama. Cukup lama. “Barangkali Gregor Samsa ingin menjerit di dunia kapitalisme. Dunia yang akan dengan mudah membuang siapapun jika tak lagi produktif, meski usiamu tak menua,” gumamku.
Rasanya kata-kata bermalas-malasan dari buku yang tebalnya hanya 84 halaman itu cukup menggangguku. Tapi mengapa aku ternggangu?, pikirku. Gemuruh air makin meluap. Panci itu kututup.
Aku beralih memotong dua buah wortel berukuran tak terlalu besar. Tak Tak Tak! suara dasar pisau yang menyentuh talenan plastik bernoda, cukup mengganggu pagi yang janggal. Kuperhatikan ukuran-ukuran potongan wortel itu. Berbeda. Kadang kupotong tipis, kadang tebal. “Dulu jika aku memotong tidak sama tebal, nenekku pasti memarahiku. Katanya tidak presisi. Kurang cantik. Tidak matang sempurna,” gumamku lagi sambil terus memotong wortel-wortel itu.
Mereka menerima uangnya dengan gembira, Gregor pun senang karena bisa memberikannya, namun ia tak lagi mendapatkan tanggapan hangat untuk itu.
Metamorfosis halaman 38
“Apakah jika tidak sempurna bentuknya sayur sop berubah bentuk? Apakah manusia yang tak lagi bernilai di dunia kapitalis ini otomatis menjadi beban?” lagi-lagi pikiran yang mengganggu itu bermunculan.
Buku Metamorfosis karya Kafka, yang kukira hanya sekedar cerita remeh, tentang Gregor Samsa yang berubah menjadi serangga. Ternyata membawa pikiran-pikiran tak biasa itu makin menjadi. Saat kumasukkan wortel ke dalam air mendidih, tulang-tulang di dalam kaldu panas tersebut melumat wortel.
Dari situ Gregor paham bahwa adik perempuannya masih tak tahan memandang rupa tubuhnya
Metamorfosis halaman 42
Kulihat wortel-wortel itu menggelinding dan saling menindas satu sama lain. “metamorfosis karya Kafka, terlalu dekat dengan keadaan sekitarku. Yang masih muda, sering tersisihkan meski tubuh mereka masih kuat dan mampu. Ketika dunia kapitalis dan dunia robotik bertemu, yang tersisa seringkali …,” kata-kataku terhenti. Aku bergerak kembali, memasukkan garam dan lada. Lalu, melanjutkan kata-kata yang terjeda, “seringkali adalah kelumpuhan finansial keluarga.”
Aku mengaduk-aduk kaldu sop ayam itu. Potongan ayam, wortel, kembang kol dan buncis berputar di dalam panci putih induksi itu. Aku mengambil kuah kaldu dalam panci di dalamnya ada sepotong wortel dan kembang kol yang tak sama besar. Kuletakkan ke dalam piring kecil untuk kucicipi. Aku mengecap. “sudah pas, dan meski ukurannya berbeda. Ia tetap matang,” kataku lagi.
Baca juga: The Girl on Paper, Kisah Cinta Penulis dan Tokoh Novel
Glurr klotek Glur!
Suara kuah kaldu dan sendok stainless beradu di dapur. Suara itu saling menimpali satu sama lain, tapi tak saling mengisi. Suara-suara ini lebih mirip hubungan Gregor dan keluarganya, pikirku.
Aku ingat ketika bagaimana keluarga Gregor meninggalkannya karena ia tak lagi berguna. Esensi nilai dari pria itu disedot habis hingga tak tersisa. Ketika ia sepenuhnya tak mampu bekerja, keluarga Samsa tak membutuhkannya dan dia hanya mati dalam kubangan sebagai seorang serangga.
Ketika sayur sop ayam itu sudah masuk sepenuhnya ke dalam mangkuk. Jarum jam pada akhirnya menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit. Aku kembali ke dapur, mengambil tiga piring dan tiga pasang sendok-garpu lalu kembali ke ruang makan.
Kususun piring dan garpu itu di atas meja. Satu piring melamin juga sendok-garpu untuk anakku dan satu piring keramik serta sendok-garpunya untuk suamiku. Ketika kuletakkan satu piring dan kelengkapan yang tersisa, jarum jam belum sepenuhnya pukul lima. Masih tersisa lima menit lagi sebelum alarm anakku bangun.
Baca juga: Kitalah yang Ada di sini Sekarang by Jostein Gaarder
Aku terduduk di atas kursi kayu jati tua di ruang makan berhadapan dengan piring yang terakhir kuletakkan. Kupandangi sup ayam di depanku. Lalu ketika alarm berbunyi di dalam kamar. Aku bangkit. “Apakah ayam tak benar-benar tak punya pilihan, seperti Gregor Samsa saat dunia memerasnya?” tanyaku dalam hati. Namun pertanyaan itu sama sekali tak terjawab. Suara pintu kamar terbuka dan semuanya terbenam dalam rutinitas.
Gimana gengs, apa ada yang sudah baca salah satu karya Kafka atau pernah dengar nama Franz Kafka? Nah kalau dengar nama metamorfosis apa sih yang ada di dalam benak kalian? Bisa dong kalian berbagi di kolom komentar tentang istilah metamorfosis bagi kalian atau kalian juga bisa berbagi bacaan apa yang nemenin akhir tahun kalian.
Eits, tetap ya bahasanya yang sopan dan bijak semata-mata menjaga jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice end years!
Jya, mata rainen~
View Comments
Tulisanmu jadi refleksi diriku mbak. Bahwa kelak, kita pun akan menua dan kehilangan segala kemampuan dan kekuatan. Kita yang selama ini selalu saja diperbudak oleh kesibukan dunia, mampukah kelak menerima bahwa ada satu masa dimana kita tak lagi berharga. Tak lagi dibutuhkan upayanya.
Tapi yah, sama seperti Gregor. Pertanyaanku hanyalah pikiran sepintas saja, tanpa ada jawaban. Yang terbaik memang, serahkan saja pada sang Maha Mengerti.
Bener mas, rasanya pas baca buku ini tuh jadi mikir. Apakah cuma aku saja yang berpikir bagaimana aku tak lagi mampu bergerak seperti gregor? Ternyata ya ada orang yang nyatanya juga berpikir sama. :)
Aku pertama kali dengar nama Franz Kafka dari salah satu novel yg mana tokohnya dikasih nama Kafka. Dan itu Krn orangtua si tokoh penggemar karya2 Franz Kafka. Tp sampai skr ga pernah baca buku2 beliau mba
Eh baca ini kok langsung pengen cari bukunya. Menarik nampaknya, ngebayangin kalau kita berubah bentuk jadi serangga yg menyebalkan gitu yaaa.. ga kebayang.
Trus aku jadi kepikiran juga, apalah yg dipikirkan hewan2 sesaat sebelum mereka menjadi makanan untuk manusia. Terkadang memang ga tega kalau dipikir banget. Tp kalau diminta utk jadi vegan, aku ga sanggub 😅😅.
Hehehe, rasanya geli mbak kalau membayangkan jadi serangga yang nyebelin. Gelinya bukan karena tubuhnya, tapi geli ngeri kalau ditepok orang. Dan kalau bayangin jadi vegan tuh kudu kuat iman mah mbak Fann, eyke sendiri ngebayangin rada susah, soalnya doyan sama sate-satean.. :D
Pasti kaget sekali saat terbangun di.pagi hari, tiba-tiba mendapati diri berubah jadi seekor serangga ya Mbak hehehe. Ga kebayang bagaimana menjalani kehidupan selanjutnya. Dan saat saya mencari artinya. Metamorfosis ini sebenarnya berubah bentuk. Jadi setiap manusia pasti bisa mengalami perubahan bentuk tubuh. Dari yang dulu langsing bisa saja jadi gemuk. Yang gemuk bisa saja jadi kurus. Semua terjadi karena bisa saja suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Termasuk soal masa tua. Dari wajah kencang kemudian jadi keriput.
Iya. Metamorfosis adalah perubahan bentuk. Cuma yang benar-benar berubah gitu nggak sih. Kayak ulat jadi kepompong. Atau dalam cerita ini, dia yang berubah menjadi serangga gitu kan ya?
Kereen banget ini memyatukan kisah metamorfosis Franz Kafka dengan masak sayur sop....sukaaaa runutan kalimatnya. As always deh mba Dinda mah buat ceritanya kereen²..
Daku belum pernah baca karya Kafka, kak.
Tapi jadi menohok sih kalau dipikirkan, agar jangan sampai kita lupa diri, terlalu ngoyo kerja terus karena merasa punya "kekuatan super", tapi lupa berpikir bahwa setiap hal ada masanya, begitu juga dengan tubuh, ada masanya melemah
Aku belum tahu tentang frans Kafka dan setelah membaca ini, aku jadi ingin mengenal dia lebih lanjut. Sepertinya karyanya jadi salah satu bacaan di 2026.
Aku menyoroti soal 'Ketika dunia kapitalis dan dunia robotik bertemu' Sejenak menarik nafas membacanya. Aku melihat kehidupan kedepan akan terus diwarnai keruh, karena dua hal itu sepertinya berlomba-lomba memamerkan kekuatannya.
Lalu, membayangkan ayam yang dipotong, akan ada bagian-bagian hidup mendapatkan perlakuan yang sama. Tidak bisa mengelak dari peran. Tetapi manusia diciptakan dengan nurani dan logika, tentu akan ada saatnya tidak hanya menerima, tetapi perlu untuk mengatur ke arah lebih baik.
Seperti biasa, tulisanmu mengajak nurani dan logikaku melihat banyak cerminan. Lagi, terima kasih Dinda. Otw japri minta refrensi buku bacaan ha ha ha
aku pas baca tullisan emba pasti memposisikan jadi aktor dalamm pikiran , kalau mba tulis masukin wortel ku imajinasi in aku lagi masukin wortel , dan yang lainya ,motong daging, namunn tiba2 tterhenti karena ada yng tidakk bisa ku byangkan salah satunya , aku belum baca buku yang emba baca jadi aku kepikirann hehe
makasih ya teh blog nyaa unik
Metamorfosis selalu mengingatkan aku sama proses hidup kupu-kupu Mba. Ulat - kepompong - Kupu-kupu ..Dan tulisan ini jadi reminder buatku pribadi yang kadang kurang agile dalam menghadapi masalah. Padahal kan setiap orang bisa bermetamorfosis ya, asal mau, berani dan ada jalan takdirnya 🫣 Kalau Franz Kafka aku juga pernah dengar sekilas tentang Kafkaesque tapi sudah banyak lupa >.<
Menyentil banget nih bagian kalau diri sudah nggak produktif akan ditinggalkan meski usia belum lagi renta.
Makanya, anjuran untuk terus belajar itu ada. Menambah skill. Biar terus produktif.
Aku belum baca buku nya mba, aku suka covernya terlihat begitu sederhana tetapi penuh makna. Ternyata dalam buku nya memang berisi banyak hal menarik yang membawa kita berpikir lebih mendalam ya.
Buku Metamorfosis karya Kafka, bikin yang membaca jadi punya sudut pandang lebih meluas dan pertanyaan yang belum terjawab. Menarik banget, jujurly aku tertarik baca dan penasaran dibuatnya.
Huhehehe.. Aku beli pertama karena sampulnya mbak La. Sampulnya tuh ngingetin aku sama part anime chibi maruko chan.. (random banget yak) :D
Sebenarnya ada yang dari penerbit lain waktu itu, cuma aku milih yang dari penerbit ini karena covernya. hehehe.. :D