Home / Jendela

Suguhan Gosip di atas Piring

Senjahari.com - 28/01/2026

Ilustrasi Gosip Sambil Bertamu

Penulis : Dinda Pranata

“Rumah gedongan tapi suguhannya kok cuma toples rengginang!”

Salah satu tetangga kompleks yang duduk di sebelahku. Aku cuma menghela nafas dan tersenyum kecut. Tak ingin berkomentar atau menanggapi perihal itu.

Mataku terus bergerak melihat sekeliling rumah. Di ruang tamu yang luasnya dua kali dari ruang tamuku itu, berkumpul para ibu-ibu dasawisma kompleks yang sedang menggelar rapat rutin bulanan. Sebagian ibu-ibu sedang berbincang sendiri, ada yang sedang berdiskusi dengan Bu RT sambil memperhatikan buku catatatn dan ada juga seperti ibu di sebelahku ini. Sibuk mengomentari suguhan-suguhan.

“Kok nggak ada jajan kotak, atau sirup-sirup ya mbak,” keluhnya lagi. Seolah ia tak akan berhenti. Menunggu klarifikasi atau setidaknya permintaan maaf. Tapi kenapa?

Ruang Tamu yang Kian Menyempit

Pikiranku tak lagi diam. Dia berputar sembari menatap kipas angin yang terus bergerak menggelengkan kepala. Putarannya itu membawaku ke satu ruang tamu ke ruang tamu lain. Rasa-rasanya toples-toples di atas meja, atau bahkan kue cucur dan lemper di atas piring lebih mirip properti pertunjukan sosial. Sementara tamu yang hadir adalah penontonnya.

Baca juga: Bilang Terserah, Tapi Kalau Salah Marah

Bulan November tahun lalu, misalnya, Mbak Anna yang jualan cireng rujak, memberikan suguhan cireng jualannya. Dengan nada guyon, “ngapunten nggih buibu, suguhan saya sekalian buat tester. Barangkali cocok.” Aku yang menikmati renyahnya cireng itu langsung jatuh cinta. Tapi ada pula yang berkomentar, “lho nggak bondo blas, kok ya mek cireng! (Lho kok nggak usaha sama sekali, suguhan kok ya cireng!)” bisik-bisiknya tentu terdengar di telinga. Meski tertimpa dengan gelak-tawa para ibu-ibu di ruang tamunya.

Lantas satu pikiranku melayang ke komentar Bu Deri ketika arisan dasawisma sepakat diadakan di rumahnya. Namun Bu Deri menolak. Baru kutahu alasannya, “saya kurang suka dengan acara seperti ini diadakan di rumah, Mbak. Khawatir omongan tetangga yang suka gitu-gitu.” Tangannya menguncup seperti menirukan bentuk mulut yang berbicara.

Kemudian pikiran-pikiran ini terus berulang, berputar ke belakang. Sesekali aku lupa di rumah siapa, sesekali pula yang kuingat sekedar seloroh-seloroh komentar tanpa ingat wajah yang berkomentar. Samar saja. Kipas angin yang berputar itu mengingatkan aku akan realita di mana ruang tamu seringkali jadi panggung pertunjukan dan suguhan menjadi propertinya. Seolah hanya yang teruji pantas dan tak selalu karena kesanggupan.

Ruang yang Harus Selalu Terisi

Bu Mamik membawa satu kardus air mineral kemasan dan menutup wujud kipas angin yang berputar itu. Air mineral itu terbagi rata dari ujung ke ujung. “Walah, katanya orang kaya. Suguhan cuma air putih sama toples rengginang dan toples kue putri salju!” gerutu ibu yang sama. Ibu itu bisik-bisik seolah tak ada yang mendengarnya.

Monggo Bu, kita mulai saja agendanya. Keburu sore dan anak-anak pulang ngaji,” kata Bu RT. Lantas semua yang hadir di situ hening. Kuperhatikan wajah-wajah ibu yang ada di sana memperhatikan Bu RT.

Baca juga: Studi Komparatif Bertema SARA: Apakah Rawan Konflik?

Meski kutahu tak ada komentar silih berganti lewat di telinga. Suara Bu RT mendadak timbul tenggelam. “Untuk anggaran bulan ini sebesar …,” suara itu berganti dengan kata-kata lain yang muncul di atas kepala beberapa peserta. Seperti callout dalam komik-komik.

Satu ibu berkerudung merah menyala misalnya: Ya ampun semoga ada jajan kotaknya ya. Lumayan si Enci suka…

Atau, satu ibu di dekat jendela yang sibuk membuka toples rengginang tapi langsung menutupnya: Suguhane rengginang tok, tahu gitu kemarin di tempatku saja lebih proper.

Kepalaku sudah hilang fokus. Terlalu banyak drama tak perlu yang kupikirkan. “Ada yang mau ditambahkan buibu?” tanya Bu RT. Aku menggelengkan kepala. Mengenyahkan suara-suara ribut kepala sendiri. Lalu sedikit mengutuk diri dalam hati, eyke nggak lagi kuliah tentang Erving Goffman!

Ketika sudah tidak ada suara pertanyaan, Bu Mamik permisi ke belakang sebentar. Hening. Mereka yang berkerumun kemudian membentuk kelompok-kelompok kecil. Bicara tipis-tipis. Muncul cerita lama tentang arisan-arisan yang sebenarnya sudah pernah diceritakan. Mulai dari keadaan rumah, interiornya, sampai suguhan di meja ikut dalam pusaran gosip arisan. Seperti backstage panggung teater yang tak lagi menyuguhkan keindahan.

Baca juga: Ketika Lentera Tak Harus Dengan Api

Aku diam lagi mendongak ke atas seperti berdoa. Berharap arisan ini segera berakhir.

Suguhan yang Terbawa Pulang

“Terima kasih ibu-ibu yang sudah hadir di rumah saya. Mohon maaf suguhannya ala kadarnya,” kata bu Mamik. Sesekali aku ingin sekali menepuk pundah wanita paruh baya itu sambil berkata, nggak usah minta maaf, Bu. Berkenan di singgahi saja sudah cukup. Tapi kalimat itu hanya masuk kembali ke perut, ikut tecerna oleh usus-ususku. Tak keluar.

Kukira setelah sandal-sandal itu dipakai, air mineral dalam kemasan habis dan tertinggal di ruang tamu Bu Mamik, suguhan gosip di atas piring saat bertamu akan terlupa. Nyatanya sambil berjalan ada saja celoteh suguhan yang tidak sesuai, interior rumah yang tak indah, termasuk celoteh tentang anak Bu Mamik yang tubuhnya kurus. Gosip itu ikut pulang bersama dengan tamu-tamu.

Ruang tamu bu Mamik hanya jadi panggung sosial sementara. Namun, peran dan propertinya akan selalu menghiasi pembicaraan dari ruang tamu satu ke ruang tamu lain. Seperti dramaturgi yang bersambung.

Closing by Senja Hari

Hayo, pernah nggak bertamu ke rumah orang atau menjadi tuan rumah tapi dapat gosip? Gosip saat bertamu tuh secara sadar dan tidak sadar, sering terjadi di sekitar kita ya. Nah, bisa dong kalian berbagi di kolom komentar pengalaman-pengalamannya tentang gosip saat bertamu ini? atau gimana ya cara kalian menyikapi hal-hal seperti ini?

Baca juga: Lomba Luka, Siapa Pemenangnya?

Eits, tetap ya dengan bahasa yang sopan demi menjaga jejak digital kalian.

Have a nice day!

Jya, mata ne~

Source:

Jeremy, D., Sendratari, L. P., & Mudana, I. W. (2025). Interaksi sosial dalam media sosial ditinjau dari teori dramaturgi Erving Goffman (Studi kasus SMA Negeri 4 Tangerang Selatan). Jurnal Pendidikan Sosiologi, 7(1), 48–58. Universitas Pendidikan Ganesha.

Tinggalkan Balasan ke Dinda Pranata Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

Dian Restu Agustina

Di komplekku pertemuan ibu-ibu dibuat dalam bentuk arisan. Per bulan ada uang arisan, konsumsi dan sosial. Nah, uang konsumsi ini diberikan pada yang narik arisan , jadi saat ketempatan buat beli suguhan. Tapi ini juga enggak adil, karena si itu lagi dan lagi yang ketempatan. Masalahnya uang konsumsinya tuh pas-pasan. Sementara kalau kita suguhkan sesuai dana ya jadinya sederhana. Kadang dengan omongan di belakang , yang gimana-gimana. Jadi deh yang merasa lebih “mampu” yang ditunjuk ketempatan, agar bisa nombokin konsumsi biar lebih layak dibagi.
Cuma, bagiku ini enggak adil..hihi, jadi keenakan, enggak semua pernah repot ketempatan hahaha
Menurutku mending uang konsumsi dinaikkan atau seadanya, adil semua pernah ketempatan, apapun suguhannya harus diterima.

Tapi, memang ya ruang tamu menjadi panggung di mana properti (suguhan makanan) dinilai sebelum dan sesudah acara selesai itu umum….huhuhu

Sudut pandangnya unik dan relate, tradisi bertamu memang sering penuh cerita tersirat yang menarik.

Berumah tangga, dalam arti siap hidup mandiri dalam sebuah lingkungan harus pula siap dengan interaksi sosialnya ya.
Semacam arisan seperti itu, mau tidak mau mengundang gibah dan penyakit hati lainnya (semoga kita tidak termasuk)
Niatnya bagus, silaturahmi tapi entah kenapa hati tidak bisa diajak berdamai. Karena saya pun walau tidak komentar di rumah yang bersangkutan pasti aja sesampainya depan suami, curhat kepada beliau. Haha… Apa bedanya ya

Tukang Jalan Jajan

sangat relatable, Mbak Dinda! Memang benar, ruang tamu sering kali berubah jadi panggung “penjurian” dadakan. Sedih ya, padahal inti bertamu itu menjalin silaturahmi, bukan menilai isi toples atau kemewahan suguhan.
Saya pribadi salut dengan sikap Mbak yang memilih diam. Kadang, cara terbaik menghadapi “drama meja tamu” seperti ini adalah dengan tidak memberikan panggung tambahan bagi si penggosip. Yuk, kita belajar jadi tamu yang lebih menghargai tuan rumah!

aku pernah kapok jadi tuan rumah karena waktu itu emang baru pindahan dan merasa ya namanya ngumpul cuma 5-7 orang selama ini wajar aja dan orang2 aman, eh ternayata ada 1 teman nggak nyaman dan terlihat gak suka wajahnya cemberut aja, sejak itu malas bikin acara yang ada dia di rumah, takut banget jadi gosip hiks

Aku di tim Ibu Deri yang menolak ketempatan kalau masih bisa nolak, lebih baik cari tempat diluar biar ga cape beberesnya. Itu pasti digisipinnya bakal lama dan bakal diungkit-ungkit soalnya, sebelum ada hal baru lagi yg bisa digosipin.

Astoge, padahal di kafe deket rumah, yang namanya jajanan cireng harganya mihil lho wkwk 😀
Yaa gimana yaa, di zaman ekonomi sulit kek sekarang kita nggak tahu juga kondisi rumah tangga orang.
Kelihatannya punya rumah bagus, besar, siapa tahu peninggalan warisan ortu, sehingga susah ngrawatnya dan terpaksa memangkas anggaran untuk hal2 yang tidak terlalu krusial.
Kalau gitu mah mending arisannya online aja kagak usah ketemuan wkwk.
Tapi di beberapa tempat sayangnya masih ada arisan gini, tujuannya bukan arisan tapi lebih sekadar kumpul2 aja sih ya kyknya. Jadi yaa, maklumin aja, dapatnya nggak seberapa, masih habis buat konsumsi haha. Itu jangan2 selama muter di masing2 rumah arisan member, semuanya kebagian jadi bahan gosip =))

Nah, ya begitu mbak. Syulit, sangat syulit kalau dilihat.
Saya bener² bisa mengalami kulture shock kalau ada lingkungan yang seperti itu. Dan ya lagi² masalah ekonomi dan tidak semua rumah gedongan selalu tampak mewah. 😅

Kayaknya persoalan gosip bukan cuma tentang makanan di piring atau isi toples, tapi tentang bagaimana kita sebagai tamu atau host sering merasa dinilai oleh orang lain

Agustina Purwantini

Saya pernah tinggal di pedesaan. Bahkan, untuk tadarusan rutin mi gguan aja dho saingan suguhane. Aku akhire gak ijutan tadarusan lagi. Ngaoian tampaknya ibadah tapi ghibah aja?

Suka sekali dengan gaya bahasanya yang mengalir namun tetap sarat akan pesan moral yang kuat. Fenomena gosip di meja tamu ini memang nyata adanya dan seringkali sulit dihindari jika kita tidak waspada.

Nah, itu dia yang membuat agak menghindari mengundang orang ke rumah. Pasti ada saja bahan gibahan atau gosipannya. Meski nggak semua tamu begitu, ada juga yang masuk ke rumah menutup mata dan pulang menutup mulut. Artinya, bertamu dengan sopan tanpa mengusik kurang dan lebih rumah tersebut dan nggak menceritakan apapun yang dilihat dan didengar dalam rumah tersebut.

Semoga saja ya, kita semua saling introspeksi diri dan mengurangi keinginan buat gosipin sesuatu yang dirasa nggak sesuai harapan. Tetap bertamu secara sopan dan menghargai usaha pemilik rumah.

Kalau misal ada budget lebih sudahlah sewa cafe atau resto saja. Biar nggak ada rumah terbebani dengan tumpukan piring dan ramainya gosip hehehe.

Kalo lagi rame2 gitu susah membendung pergossipan, satu berbisik, yang lain ke triger buat nyebut ini itu juga. tapi emang baiknya kita diem gak usah ngikut bahkan buat berkata “iya” Nabi muhammad pernah berpesan jika bertamu datanglah dalam keadaan buta dan pulang dalam keadaan bisu, maksudnya jika datang sampaikan apa maksud kedatangan , jangan melihat ini itu, ngintip, melihat setiap sudut rumah yang berantakan atau yang lainnya. kemudian keluar dalam keadaan bisu, mksudnya jangan menceritakan hal-hal buruk yang dilihat…

Saya tuh hampir gak pernah nenangga. Di sini pun yang berkumpul lebih sering bapak-bapaknya. Ibu-ibu memang ada arisan juga. Tapi, saya malas banget ikutan hahaha. Jadi, kurang tau juga dunia pertetanggaan 😀

Kadang obrolan ringan di meja makan bisa berubah arah tanpa sadar. Menarik buat refleksi soal batasan dalam bersosialisasi.

Emang yaa tetangga yang baik itu termasuk rezeki. Kalau saya sih, alhamdulillah gak pernah, belum pernah ikut arisan juga. Karena gak tertarik.

16 Responses