Pojokan

Menyusuri Kios Pasar Sore

“Mbak, silakan onde-ondenya. Masih hangat.”

Pagi itu pasar Klojen masang sudah ramai. Aku melirik ke jam tangan kulit yang usianya 10 tahun lebih muda dariku. Jam panjang belum genap ke angka enam. Setengah sembilan kurang sedikit, batinku.

Pasar Klojen Kota Malang, sudah banyak perubahan. Lebih bersih, lebih rapi dan bahkan bisa jadi tempat kuliner untuk mengisi perut di pagi hari. Sampai aku bertemu dengan mbak-mbak bertumbuh tinggi yang menawarkan jajan onde-onde yang masih hangat.

Kepulan asap tipisnya itu, mengaburkan pandangan sampai mendistorsi memori otak. Seolah Buku Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo ini tercetak nyata. Bagaimana aku menerjemahkan distorsi ini? Asap itu mencapai mataku.

Kios Pasar Sore dan Cerita Orang Biasa

Perempuan paruh baya itu sedang sibuk menggoreng puluhan onde-onde di satu wajan besar. Desis minyak panas terdengar hingga ke telingaku yang berada di depan konternya. “Satu kotaknya isi berapa, Bu?” tanyaku sambil menunjuk onde-onde ukuran besar.

Baca juga: Menggilas Doctor Zhivago

“Kalau yang besar itu, satu kotak ini isi empat. Kalau kota ukurang panjang isi delapan,” jawabnya. Tangannya yang sudah mulai keriput sedang sibuk membolak-balikkan onde-onde berbalut kacang wijen itu. “Saya mau yang isi empat ya, Bu,” pilihku sambil menunjuk kotak ukuran kecil.

Tak lama kemudian si ibu penjual mendesis, dan setelahnya seekor kucing keluar dari konternya.

“Bapak ini kemana sih,” gumamnya, “kucingnya kok ditinggal. Mana di pasar pula.”

“Itu kucing ibu?” tanyaku sambil melihat si ibu yang meniriskan minyak dari onde-onde di penggorengan.

“Iya mbak,” sahutnya, “itu suami saya punya kucing, tapi giliran suruh jaga, malah kabur.” Ibu itu kemudian menyiapkan kotak kecil dan di dalamnya diberi alas dari kertas minyak warna coklat.

Baca juga: Review Super Parent: Mengasuh, Mengasihi dan Empati

Cerita ibu itu mengingatkan satu cerita pendek dari buku itu tentang pasangan suami istri yang memelihara kucing, lantaran tak tega melihat kucing di jalan. Lambat laun satu kucing beranak-pinak dan menginvasi rumah pasangan suami istri itu. Aku tersenyum getir.

Dia pergi, karena .., katanya kucing kami terlalu banyak. Dia tidak bisa bergerak, tidak bisa bekerja, karena waktunya habis untuk urus kucing.

— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 5

“Lho, kabur kemana Bu?” tanyaku sambil menyerahkan uang dua lembar sepuluh ribuan.

“Nggak jauh-jauh mbak. Paling sedang ngobi di kedai abah di sana.” Ibu berambut kelabu menunjuk satu kedai di dekat pintu keluar pasar yang cukup ramai. Aku mengela nafas, bersyukur kisah ibu itu berbeda jauh dengan kisah-kisah dalam buku kios pasar sore yang salah satunya harus ditinggalkan oleh suaminya sendiri.

Aku menerima kembalian dan lalu meninggalkan konter onde-onde itu. Entah apa yang ingin kucari di Pasar Klojen pagi itu.

Baca juga: Review Animal Farm, Satir Manusia Dalam Animal Kingdom

Bukan Cerita yang Dramatis, Tapi Benar-benar Biasa Ditemui

Aku menyusuri lantai hitam di area pasar. Melewati pedagang makanan, kios sembako, bakul buah sampai penjual ikan dalam satu atap. Aku kira Pasar Klojen yang tercampur seperti itu akan menimbulkan bau-bau tak sedap ala pasar. Tidak. Sungguh ajaib memang.

Tak heran banyak pelancong bahkan anak-anak muda yang sekedar cari sarapan atau siang di dalam pasar. Mataku lantas tertumbuk pada satu kedai yang amat ramai. Konternya ada di pinggir pasar, dekat dengan pintu masuk. Aku berjalan mendekat, sekedar ingin tahu apa yang dijualnya.

Tahu bakso dan aneka dimsum. Aku membaca tulisan di atas konternya. “Apa seenak itu ya?” tanyaku lirih pada diri sendiri. Antrian itu tak membuat aku bisa maju selangkah ke depan. Tak disangka seorang pengunjung pasar, berbisik (barangkali dengan temannya), “lha sing dodol ayu (lha, yang jual cantik).”

Aku pun menatap satu per satu pengunjung dan memang hampir di dominasi oleh semut-semut jantan. Sungguh tak terduga. Mungkin memang mbak penjualnya cantik, berambut panjang, tapi di sisi kirinya ada seorang pria yang sesekali menunjukkan wajah masam. “Apa ia pacarnya, suaminya atau …,” kata-kataku terhenti. Menggeleng, menghenyakkan pikiran-pikiran tak elok. Akhirnya kulepaskan diri dari para kerumunan semut-semut pejantan itu.

Ross, sebentar …. Jadi hanya karena dia tidak mau bilang pyar-pyar, kamu pulang kampung? Apa ini, Ross?

— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 23

“Kalau dipikir-pikir, jadi ingat satu cerita berjudul ‘Ross dan Joko’ di buku itu. Tentang bagaimana si Ross kabur karena si Joko (suaminya) tak pernah bilang I Love You dalam bahasa India,” gumamku sambil sesekali menundukkan kepala. “Meski berbeda cerita, tapi rasa-rasanya cerita tentang cemburu dan ingin diperhatikan pun selalu menarik. Walau tak harus selalu dramatis,” kataku.

Hampir satu jam aku berputar-putar di pasar Klojen yang tak terlalu luas itu. Kupikir aku akan membawa pulang belanjaan untuk masak di rumah. Nyatanya memang tidak selalu sesuai dengan rencana. Satu kotak onde-onde, satu kilo ayam fillet dan dua ikat kangkung. Aku mendesah, membayangkan berkilo-kilo jalan harus kugilas di tengah kota.

Gambaran Utuh yang Justru Datang Dari Potongan Kecil

Motor skuter buntutku menggilas lebih dari tujuh kilo jalanan aspal untuk sampai di rumah. Belum juga setengah jalan, di perempatan lampu merah dekat pasar cukam, seorang nenek-nenek bungkuk membawa bungkus kemasan permen.

“Mbak, sak ikhlas e mawon (mbak, seikhlasnya saja),” katanya. Wajahnya kuyu. Barangkali lelah dengan kehidupan jalanan. Aku mengeluarkan sesuatu dari balik kantong. Bukan sesuatu yang mewah, tapi berharap bisa mengurai rasa lelahnya.

Matur nuwun, Nak,” katanya. Seulas senyum lebar tergambar di sudut-sudut wajah yang termakan usia.

Baca juga: Investigasi Kasus Angsa dan Kelelawar

Aku mendesah, bayangan wajah almarhum ibu-bapak seperti menggelayut di atas lampu lalu lintas di atasku. Masih ada lansia yang tak punya keluarga seperti ini di sini. Bagaimana anaknya? Di mana keluarganya? tanyaku pada diri sendiri. Membatin.

Awan di atas kepalaku seperti menorehkan cerita dari cerpen halaman terakhir di buku terbitan Shira Media itu. Cerpen yang mengisahkan seorang Nenek yang pulang ke kampung halaman puluhan tahun lalu, ketika pecah perang saudara di Ambon. Anak dan Suaminya meninggal dalam tragedi di Ambon. Tapi, meski ia pulang ke tanah kelahirannya, raga dan asanya ingin dikubur dekat dengan keluarganya.

“Dan mengapa wajah almarhum ibu-bapak membayang di sana,” gumamku sambil menengadah. Takut embun-embun menyerobot masuk ke dalam mata. Tumpah.

Tetapi yang lebih penting dari itu, ia ingin mati di kampung yang sangat dikenalnya, yang menyimpan tubuh anak dan suaminya.

— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 125.

Bel klakson membuatku kembali fokus. Lampu merah berganti hijau. Awan itu pun memudar dan buku Kios Pasar Sore setebal 125 halaman itu berakhir dengan kata Bukan Wonogiri.

Baca juga: Kenanga yang Memecah Batuan Adat di Novel Oka Rusmini

Roda motor skuterku menggilas aspal sekali lagi. Menuju pulang.

Closing by Senja Hari

Minggu ini kalian sudah atau sedang baca buku apa nih gengs? Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo ini ceritanya bukan tentang hal-hal yang mewah atau dramatis, tapi banyak hal yang rasanya sering kita anggap biasa saja, yang nyatanya buat hidup jadi jumpalitan. Ada nggak yang udah baca buku dari mbak Reda ini? atau barangkali buku apa yang ongoing dibaca? Bisa share di kolom komentar ya.

Tetap ya, komennya dengan bahasa sopan semata-mata biar jejak digital kalian bersih.

Have a nice day!

Jya, mata ne~

View Comments

  • Berarti ini buku kumpulan beberapa cerita yang berbeda ya,,masing-masing ceritanya sepertinya mempunya pesan tersendiri,
    Kalo aku baru aja selesai baca buku "Rumah" karya JS Khairan yang termasuk salah satu buku baru karyanya..menceritakan seorang wanita yang merasa tidak mempunyai rumah untuk pulang karena rumah yang selama ini menjadi tujuan pulang menyimpan banyak luka yang harus dia tanggung

  • Aku baru pernah main ke Pasar Oro oro dowo

    kalo Psr Klojen malah blum pernah.
    jujurrr aku takjuuubbbb dan ngerasa amazed sangat dgn pasar oro. karena bersih dan sangat nyaman.
    moga² next bisa ke Klojen

  • Waaaah belum baca buku mba reda yg ini. Aku cuma punya yg seri nawilla .

    Kayaknya menarik sih. Sejak baca buku nawilla, aku JD sukaaaaa Ama cara dia bercerita. Mungkin Krn relate dan berasa Deket Ama kejadian sehari hari juga yaaa.

    Skr aku lagi baca buku2 lama mbak.. karangan penulis boomers 😄😄. Ntahlaah, aku nih tipe yg suka segala sesuatu yg lama . Yg klasik. Buku2 pun penulis fav ku itu penulis lama semuanya.

    Penulis baru aku ga banyak yg bisa klik bukunya. Salah satunya mba reda.

    Tp kalau ditanya penulis fav, pasti semuanya penulis jadul. Ntah macam Pramoedya, s mara gd, Nancy Taylor Rosenberg, Irving Wallace etc.

    Minggu ini aku LG baca buku ttg hukum karya Nancy Taylor.

  • Belum baca
    Masih menyelesaikan Set Boundaries nih
    Semoga bisa segera reiew juga karena lumayan nampar isi bukunya

  • Terima kasih sudah menghadirkan tulisan yang membawa rasaku hadir dalam perjalananmu dalam pasar. Kesukaanku dengan hampir sama, melihat aktifitas insan-insan yang sedang hidup dalam alur kehidupan.

    Banyak hal yang menarik dan diantara semua tertulis, aku suka sekali dengan bagian >>Gambaran Utuh yang Justru Datang Dari Potongan Kecil<< buatku, potongan kecil itulah jadi hal sederhana yang kemudian menjadi yang istimewa.

    Aku sendiri belum membaca buku ini dan sedang berjuang menyelesaikan satu buku hadiah ulang tahun. Dengan ulasan-ulasan buku yang kau tulis, membangkitkan lebih besar lagi semangat untuk membaca lebih banyak buku tahun ini. Terima kasih ya Dinda.

  • Menyusuri kios di pasar tuh kadang bikin nyesek. Banyak banget nenek2 yang seharusnya mereka udh hidup tenang di masa tua, menimang cucu atau ngerumpi brg tetangga.

    Di sini malah ktmu nenek2 yg masih segar menjajakan dagangannya. Salut kpd mereka yg masih kuat bertahan hidup. Krn di situ lah mereka bs makan, bkn hanya yg sehat tapi jg berkah krn emg berasal dr usahanya sendiri.

  • Daku belum ada judul buku yang selesai dibaca Kak di bulan ini, masih beberapa halaman saja huhu.
    Dari ulasannya Kak Dinda ini, bervariasi ya ceritanya. Tapi bisa jadi bahasan yang menarik buat ditarik kesimpulan menjadi pesan moral yang mendalam.

  • seperti ikut diajak "jalan jajan" ke Pasar Klojen. Saya suka bagaimana Mbak menghubungkan aroma onde-onde hangat dengan potongan kisah di buku Kios Pasar Sore. Memang benar, karya Reda Gaudiamo itu kekuatannya ada pada hal-hal "biasa" yang justru terasa sangat personal.
    Bagian tentang kucing dan nenek di lampu merah sukses bikin saya merenung. Ternyata, setiap sudut pasar punya ceritanya sendiri ya?

    • Asyik yaa baca ulasan bukunyaa
      keknya aku juga bakal.meniqmati bangettt nihh
      buku yg cocok buat ngabuburead!

  • Jadi ini tuh kumpulan cerpen, tapi isinya fragmen cerita kehidupan sehari-hari ya mbak?
    Aku malah suka yang begini mbak, soalnya acapkali relate sama cerita kita. Dan setelah kubaca-baca, memang banyak yang universal juga yaaa premis ceritanya.
    Contoh perkara kucing tuh. Itu aku ngerasa relate si. Dan jujur, aku malah angkat topi sama mereka yang bener-bener ngurusin kucingnya dengan baik. Meskipun kucingnya ada puluhan sekalipun.
    Karena tak jarang, banyak juga yang ngurus kucing sekedar ngasih makan aja. Abis itu dilepas liarkan gitu aja. Kucing punya siapaa.. beraknya di pekarangan rumah siapa. HIH ZBL

  • Minggu ini ku lagi baca buku kumpulan cerita anak terbitan Forsen, karena lagi pengen nulis cerita anak lagi.
    Makasih review bukunya, jadi pengen baca tuntas, karena bukunya Mbak Reda ini udah punya, tapi belum sempat dibaca.