Home / Pojokan

Kucing Bernama Dickens: Kisah Peliharaan dan Proses Penyembuhan

Senjahari.com - 21/12/2023

Kucing Bernama Dickens Cover

Penulis : Dinda Pranata

Siapa di sini yang enggak suka kucing? Sebagian besar orang pasti suka dengan hewan mungil dan menggemaskan ini. Kucing yang tiba-tiba manja di kaki orang yang ia temui sampai kucing yang garang karena tuannya mendadak cuek padanya. Anabul berbulu ini selalu bisa membuat orang berpaling dari rasa frustasi jadi lebih rileks.

Tahukah kalian bahwa banyak terapis dalam bidang kesehatan mental menyarankan untuk memeliharan hewan peliharaan sebagai bentuk proses penyembuhan? Dalam beberapa jurnal kesehatan pun menyatakan bahwa memeliharan hewan seperti anjing, kucing, kelinci atau apapun bisa membantu mengurangi tingkat stres, dengan catatan si pemelihara tidak memiliki alergi tertentu pada hewan peliharaan.

Inilah yang ada dalam buku Kucing Bernama Dickens, yang mana berisi beberapa kisah dari penyitas kanker, depresi, sampai krisis keluarga yang mendapatkan penghiburan dari kucing-kucing ini. Bagaimana kisah-kisahnya?

Kucing Bernama Dickens dan Kawan-kawannya

Quotes Kucing Bernama Dickens 1
Quotes Kucing Bernama Dickens 1

Dalam buku ini bercerita aneka kisah manusia bersama dengan peliharaan kucing mereka. Dalam buku ini ada dua puluh empat cerita pendek orang-orang dengan berbagai latar belakang kisah bersama dengan hewan peliharaannya. Mulai dari mereka yang menderita sakit kanker dan secara ajaib menemukan kesembuhan setelah memelihara kucing. Ada pula kisah orang-orang yang sekarat tapi menemukan kedamaian dan penghiburan dari penemuan seekor kucing.

Sekilas buku ini mirip dengan chicken soup of the soul yang bercerita tentang kisah-kisah inspiratif dengan tema-tema rasa syukur. Dari kisah-kisah di buku ini ada tiga yang benar-benar menyentuhku. Pertama kisah tentang seorang wanita yang menderita kanker ovarium yang mendapatkan kekuatan pribadi saat menjalani kemoterapi saat ia mulai memelihara seekor kucing bernama Dickens.

Baca juga: Matt Haig dan Karyanya yang Mengajarkanmu Banyak Hal Tentang Depresi

Kedua, cerita tentang seorang anak yang bernama Brenda, menderita anorexia dan berhasil sembuh berkat seekor anak kucing. Orang tua Brenda sudah berkali-kali berganti rumah sakit karena kondisi Brenda yang enggan makan dan sengaja menahan lapar. Karena kondisi itu, orang tua Brenda membawa ke klinik Gizi dan konselor yang menanganinya menemukan ide untuk memberikan peliharaan sebagai motode terapi.

Ketiga, cerita berjudul Konser Terakhir. Cerita ini menceritakan seorang pemain saksofon bernama Thomas Chapin. Thomas Chapin sendiri seorang penderita Leukimia yang dikenal sebagai penyayang kucing. Ketika Leukimia-nya bertambah parah dan ia harus berhari-hari di dalam kamar karena kondisinya, ia menemukan seekor kucing jalanan di musim dingin. Kucing itu bernama Moi yang menjadi hiburan bagi Thomas hingga akhir hayatnya. Menyedihkan? Bisa jadi itu menyedihkan, tapi bisa jadi tidak.

Terapi Penyembuhan dan Hewan Kesayangan

Melly, Anjing Berjenis Shih Tsu
Melly, Anjing Berjenis Shih Tsu

Ada yang tahu enggak kalau hewan peliharaan dapat membantu dalam proses penyembuhan penyakit terutama penyakit mental yang serius? Dalam beberapa jurnal ilmiah seperti salah satunya yang terbit tahun 2009. Jurnal ini mengatakan bahwa hewan peliharaan bisa membantu individu proses penyembuhan penyakit mental yang serius seperti memberikan empati dan; menyediakan koneksi dan membangun jalur sosial; penghiburan hadirnya anggota ‘keluarga’; menumbuhkan rasa kasih dalam diri sendiri/ pemberdayaan.

Ini pun pernah terjadi dalam kurun waktu dua tahun sebelum papaku meninggal di minggu ini. Tahun 2019, mama lebih dulu dipanggil oleh Tuhan akibat COVID-19, tak berselang lama (kurang lebih satu-dua minggu) kakak pertamaku juga dipanggil Tuhan dengan akibat yang sama. Papa yang memiliki riwayat diabetes dan jantung pun seolah begitu kehilangan dua orang di keluarga kami, yang membuatnya kesepian setiap ada di rumah.

Abangku, kakak kedua, yang tinggal di luar kota, kemudian memberikan seekor anjing berjenis shih tzu bernama Melly, sebagai penghiburan papa ketika kakak ketigaku (yang tinggal bersamanya di rumah) harus berangkat bekerja. Ternyata Melly sukses memberikan energi ke papaku yang kehilangan dua orang terkasihnya.

Baca juga: Life Lesson, Karena yang Negatif Tak Harus Selalu Positif

Papaku cukup disibukkan dengan merawat si anjing inI. Berkat si Melly, ia perlahan bisa melakukan hobinya di bidang otomotif kembali dan kesedihannya mulai berkurang. Meski dalam kurun waktu dua tahun itu, kondisi papa sempat naik turun akibat jantung. Namun kehadiran seekor peliharaan bisa mengalihkan kesedihan dan frustasinya, yang kalau tidak teratasi bisa mempengaruhi kesehatannya secara keseluruhan.

Itulah kenapa aku bisa tersentuh dengan cerita “konser terakhir” dalam buku ini, yang sekilas mirip dengan almarhum papa setelah memelihara hewan peliharaan. Lalu gimana sih menurutku isi bukunya?

Review PoV Senja Hari

Quotes Kucing Bernama Dickens 2
Quotes Kucing Bernama Dickens 2

Ketika membaca buku ini setidaknya ada beberapa hal yang aku suka:

  1. Kisahnya yang menyentuh dan mengajarkan pembaca untuk menyayangi hewan/binatang. Aku suka poin penting dalam buku ini yang mengajarkan kita semua untuk memperhatikan hewan-hewan baik yang terlantar dan yang kita miliki.
  2. Buku ini juga secara implisit membahas isu-isu kesehatan mental dan menghadapi krisis lewat perantara hewan peliharaan. Meskipun ide tentang hewan peliharaan dan proses healing itu sudah lama ada, hanya saja tidak ter-up sebanyak kasus-kasus masalah mental yang kerap wara-wiri di media sosial.
  3. Semua usia bisa membaca buku ini dan tergolong bacaan yang ringan. Siapapun bisa menikmati buku ini bahkan kamu (yang berperan sebagai orang tua) bisa membacakan ini untuk anak-anakmu. Tentu saja kamu perlu menyesuaikan dengan gaya bahasa usia anak-anak ya.

Overall aku menyukai isi buku yang related dengan kehidupan yang paling dekat denganku. Secara preferensi, aku kurang suka dengan cerita berjenis ini sih. Why?

  1. Kisahnya klise, semacam chicken soup for soul yang menggaungkan pembaca untuk percaya pada keajaiban. Di satu sisi buku ini bisa menghibur dan menginspirasi, tapi di sisi lain pembaca juga perlu bersikap realistis pada beberapa cerita keajaiban bersama hewan peliharaan ini.
  2. Tidak terlalu banyak kisah yang wow banget, yang berasa mungkin hanya beberapa saja. Meski ini berasal dari kisah yang nyata dari mereka yang memiliki hewan peliharaan, namun terkesan biasa saja.

Invitasi dan Diskusi

Kamu yang suka dengan cerita-cerita ringan, penuh cinta dan inspiratif buku “Kucing Bernama Dickens” ini bisa menjadi teman sela-sela harimu yang padat. Buku ini cocok juga untuk kamu yang mau mempelajari seputar perilaku anabulmu, yang juga terselip di kisah-kisah dalam buku ini.

Baca juga: The Path Made Clear: Optimisme sang Visioner Oprah Winfrey

Apa kamu sudah membaca buku ini? Ataukah baru memasukkan judul buku ini dalam wishlist kamu, nih? Kamu bisa share nih seputar pengalaman membaca buku ini, atau bagaimana pengalaman kamu bersama dengan si hewan peliharaan kesayangan, dalam kolom komentar.

Eits, komennya yang sopan ya, semata-mata agar jejak digitalmu tetap bersih.

Yang masih masuk wishlist, kamu bisa membelinya di link ini.

Happy Thursday!

Source:
Wisdom, Jennifer P., et al. “Another Breed of ‘Service’ Animals: STARS Study Findings about Pet Ownership and Recovery from Serious Mental Illness.” American Journal of Orthopsychiatry, no. 3, American Psychological Association (APA), July 2009, pp. 430–36. Crossref, doi:10.1037/a0016812.

Coakley, Amanda Bulette, and Ellen K. Mahoney. “Creating a Therapeutic and Healing Environment with a Pet Therapy Program.” Complementary Therapies in Clinical Practice, no. 3, Elsevier BV, Aug. 2009, pp. 141–46. Crossref, doi:10.1016/j.ctcp.2009.05.00

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

wah, cat lovers wajib membaca buku ini 😀

1 Response