Dia suka menuding orang-orang yang tampangnya tidak dia sukai, seakan mereka itu perampok dan telunjuknya adalah senter polisi.
— Pria Bernama Ove halaman 5
Aku ingat kata-kata itu tiba-tiba. Kata-kata seorang pria tua, yang tinggal di depan rumah kedua orang tuaku ketika aku baru saja pindah ke Banyuwangi. Pria itu punya pohon mangga yang selalu berbuah tanpa peduli musim. Pak tua yang kata para remaja di sekitar adalah Bujang Tua Pemarah.
Dan hujan sore itu, menutup langit senja menjadi benar-benar kelabu, juga menutup Novel Pria Bernama Ove di halaman 384 dan bersamaan dengan terbukanya ingatanku tentang pak tua jutek itu. Aku mendesah. Menyeka air mata datang tanpa permisi.
“Apakah aku terlalu sentimentil karena cerita buku ini atau ingatan lainnya?”
Namanya Pak Damar. Pria yang tinggal di depan rumah kedua orang tuaku itu terkenal di area kompleks sebagai bujang tua pemarah. Meski ia mudah naik pitam dan terkesan jutek, tapi tak pernah sekalipun beliau mengganggu dan melukai tetangga lain. Malah aku ingat sebaliknya. Dialah yang sering terganggu oleh perilaku tetangganya yang cukup merepotkan perkara suka parkir sembarangan di depan rumahnya.
Baca juga: Life Lesson, Karena yang Negatif Tak Harus Selalu Positif
Bagaimana jadinya kalau semua orang parkir di mana pun sesukanya? Pasti kacau. Akan ada mobil di mana-mana.
— Pria Bernama Ove halaman 13
Awalnya aku merasa Pak Damar adalah tukang komplain untuk hal-hal sepele. Tapi, sejak kumemiliki rumah sendiri dan menghadapi tetangga yang punya karakter beragam, kukira alasan Pak Damar cukup sah untuk merasa jengkel.
Barangkali perasaan sentimentil inilah yang membuatku merasa dekat dengan cerita pria bernama Ove ini. Pria tua pemarah dan ketus yang dianggap anti-sosial oleh lingkungannya. Sikap pemarah dan ketusnya benar-benar mengingatkanku pada Pak Damar, bujang tua pemarah di komplek tinggal kedua orang tuaku.
Suatu hari, aku jengkel mendengar Pak Damar selalu mengomel tentang sampah plastik yang tergeletak di depan rumahnya. Aku bercerita pada bapak-ibu dan tanggapan mereka membuatku heran.
“Ya, biarkan saja. Selama bukan kamu yang membuang sampahnya di sana,” kata Ibu.
Baca juga: Review Super Parent: Mengasuh, Mengasihi dan Empati
“Jangan suka menilai orang,” kata bapak sambil melipat korannya, “kita tak tahu cerita lengkapnya kenapa Pak Damar seperti itu.”
Aku terdiam. Bukan karena aku memahami situasi Pak Damar, tapi aku paham ketika bapak sudah bicara seperti itu, artinya bapak tahu sesuatu tentang Pak Damar.
Buku karya blogger Swedia bernama Fredrick Backman itu terlampau menyentil masa laluku. Tiap lembar yang kubuka rasanya mirip membuka dosa-dosa masa remaja kala itu.
Kata pepatah, orang-orang terbaik lahir dari kesalahan-kesalahan mereka dan menjadi lebih baik setelahnya, ketimbang kalau mereka tak pernah berbuat salah
— Pria Bernama Ove halaman 13
“Tapi mengapa rasanya aku masih malu dan berdosa atas pikiran-pikiranku pada Pak Damar?” tanyaku ketika hujan selamat datang menyambut pukul sepuluh malam.
Baca juga: Mendadak Vegetarian yang Tak Memakan Daging
akibat sifat pemarah itulah, beliau tak pernah punya tetangga yang akrab. Sampai sebuah kejadian yang membuatku merasa bersalah Pak Damar.
Tak sengaja, ada seorang pemotor yang ugal-ugalan di komplek dan nyaris saja menabrakku. Aku ingat waktu itu sore hari selepas belajar kelompok bersama Retno. Teman sekelas yang rumahnya di ujung gang. Betapa murkanya Pak Damar itu pada pemotor yang nyaris menabrakku dan kabur itu.
“Buta apa ya! Sudah tahu ada papan tulisan ‘HARAP PELAN BANYAK LANSIA DAN ANAK-ANAK’!” serunya sambil menunjuk-nujuk papan yang ada di atas kepalanya itu. Beliau lalu menolongku berdiri. Tentu saja, dengan wajah asam kencurnya. Lalu dengan berani melabrak Pak RT, mengatakan betapa tidak tegasnya Pak RT kompleks.
Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Itu kata mereka. Dan Sonja (alm. istri Ove) memperjuangkan apa yang baik. Memperjuangkan anak-anak yang tak pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja.
— Pria Bernama Ove halaman 234
Tanganku bergetar ketika membaca kalimat itu. Halaman yang kunikmati pada pukul sebelas malam di mana hujan masih belum berhenti. Malah kukira genting rumahku bocor, karena sudut mataku terasa basah.
Baca juga: Pojokan dan Suara Kertas Berceloteh
“Pikiranku sendiri kejam. Tak hanya ketika awal membaca buku pria bernama Ove, tapi juga pada Pak Damar saat itu.” Suaraku bergetar dan hidungku meremang.
Setelah kejadian pemotor itu, aku bercerita pada Bapak dan Ibu di rumah. “Kau harus berhenti berpikiran buruk pada orang lain yang tak kau kenal,” kata Ibu.
“Tapi bagaimana bisa? Lha wong yang bikin rumor Bujang Tua Pemarah bukan aku, tapi orang-orang kompleks!” gerutuku sambil mengusap-usap hansaplast pemberian Pak Damar.
“Hush!” seru bapak sambil menjewer telingaku. “Jaga bicaramu!”
Sambil mengusap-usap telingaku yang memerah. Aku mendengar kisah yang tak banyak orang tahu dari balik pagar rumah Pak Damar. “Pak Damar itu tidak menikah, karena dia sudah punya calon istri. Dan sayangnya, sebelum mereka menikah calon istrinya meninggal lebih dulu.”
Baca juga: Ketika Uang Cuma Numpang Lewat, Perhatikan Kesehatan Mental si Uang!
Mendengar itu dari bapak jantungku terasa ikut berhenti. “Jadi, jangan lagi-lagi menyebut Pak Damar Bujang Tua pemarah. Itu tidak pantas,” kata ibu memperingatkan. Dan aku diam saja.
Orang-orang Seperti Ove dan Rune (sahabat, tetangga sekaligus musuh Ove) lahir dari generasi ketika orang dinilai berdasarkan tindakannya, bukan omongannya.
— Pria Bernama Ove halaman 309
Ketika aku membaca lebih banyak lembar-lembar buku pria bernama Ove itu, rasa bersalahku pada Pak Damar semakin menjadi. “Pak Damar dan Ove sama-sama pemarah. Itu karena ada hal yang ia ingin lindungi.”
Setelah Ove kehilangan Sonja yang merupakan dunianya, maka bukan tidak mungkin ada kesepian selama bertahun-tahun kehidupannya. Ove tidak marah pada tetangganya, tapi ia marah pada dunia yang seolah mengambil Sonja (istrinya), calon anaknya dan kehidupan berwarna mereka.
“Barangkali Pak Damar seperti Ove. Kehilangan calon istrinya, kehilangan orang tuanya dan kini hanya sebatang kara.” gumamku. Lalu hening.
Satu kata terakhir Pak Damar yang hangat dan datang tak terduga dari pria pemarah sepertinya. “Jika kau ingin menilaiku, galilah sampai ke dasar!”
Aku tahu Pak Damar mengetahui pikiranku yang sering mengatakannya Bujang Tua Pemarah. Satu kata yang diucapkannya menjadi pengingat dosa seumur hidupku karena sudah menilai terlalu cepat. Lalu, ketika buku itu berakhir dengan di pangkuanku dengan kalimat:
Sampaikan salam sayangku pada Sonja, dan terima kasihku karena dia telah meminjamkanmu pada kami.
— Pria Bernama Ove halaman 376
Sebuah ketukan keras dari pintu membelalakkan mataku. “Bun … di toiletnya jangan lama-lama. Aku mau BAB nih!”
Flush kunyalakan. Aku menghembuskan nafas pelan-pelan.
Adakah dari kalian punya kenalan yang pemarah atau jutek tapi sebenarnya orangnya baik? Kira-kira seperti Pak Damar (tetanggaku) dan Ove dalam novel ini. Bisa dong cerita gimana interaksi kalian dengan mereka di kolom komentar.
Sudahkan kalian membaca novel Pria Bernama Ove ini atau novel yang sejenis sepertinya? Boleh lho kalian juga berbagi pengalaman seputar membaca. Barangkali juga ada nih film-film yang serupa dengan novel Pria Bernama Ove, boleh banget ikutan komen buat berbagi cerita seputar pengalaman nontonnya. Tetap ya gaes, dengan bahasa sopan. Semata-mata biar jejak digital kalian bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
View Comments
Wow ada blogger Swedia menulis buku. Eh di kita juga banyak sih bloger penulis buku juga hehe.
Waduh Pak Damar Pak Damar, apakah blio pensiunan? Soalnya aku dulu punya tetangga demikian juga mbak, setelah pensiun kek post power syndrom sehingga kek udah gak punya relasi kuasa akhirnya hobinya marah2 gitu.
Eh tapi kalau Si Ove keknya masih muda yaaa. Nah kalau OVe kulihat dia lebih ke depresi, marah pada dunia karena rencana2nya gak berjalan lancar gak siihh?
Emang sebaiknya kalau kasus Pak Damar punya aktivitas ringan tapi konsisten gitu kek berkebun, dll, asal jangan dikasi kegiatan memimpin negara aja #ups hahah
Eeeeh aku kok tiba-tiba keingetan sama satu film berjudul After Life (TV Series 2019-2022). Kurang lebih, ceritanya mirip sama Ove, atau mungkin Pak Damar? Dimana sang karakter utama merasa hidupnya hampa setelah kehilangan sosok yang ia sayangi. Dari situ, beliau berangsur menjadi karakter yang tak hanya menyebalkan, tapi juga tegas dan tak peduli lagi dengan perasaan orang lain.
Kalau aku, kebalikan dari pak Damar sih ya. Aku gak suka keributan. Tapi, aku lebih suka mencegah dan mengatasi keributan. Satu waktu di ramadhan ini, tetanggaku reseh karena sering berisik sampai waktu malam hari. Tak pernah kutegur, tapi langsung saja kurekam dan kulaporkan ke pemilik kontrakan. Hasilnya? Awal bulan kemarin dia diusir pergi. masalah selesai, wkwkwk
Lapar teratasi dengan sebuah roti
Ditemani lampu di sudut bekasi
Kala diskusi tak lagi berarti
Menjadi cepu bisa jadi solusi
ahahaha
Karakter Ove ini memang unik banget ya, di balik sifatnya yang kaku dan pemarah, ternyata ada luka masa lalu yang bikin pembaca jadi simpati. Perubahan pelan-pelan dalam dirinya saat mulai berinteraksi dengan tetangga barunya itu yang paling menyentuh. Novel ini benar-benar membuktikan kalau di balik sosok yang menyebalkan, pasti ada cerita yang belum kita tahu
hhmmm sepertinya aku belum pernah sie mb bertemu seseorang pemarah seperti pak damar ataupn ove..
tapi kalo sempet terpikirkan hal jelek tentang seseorang aku pernah tu beberapa kali..mis kalo ada yg tidak menepati janji atau ada alasan apa gt aku kadang suka berpikiran buruk tapi ternyata setelah ditanyakan alasannya malah diluar dari perkiraaanku dan aku jadi merasa sangat bersalah banget..makanya aku lagi berusaha gak berpikir yang enggak2 pokoknya positiv thingking aja semoga semesta nanti juga ikut mendukung ;)
Saya belum pernah baca
Namun pernah ikut klub baca dan ada yang bahas buku ini
Seru sih ceritanya
POV kalian berdua beda tetapi sama-sama menarik pengambilan sudut pandangnya
Jadi makin penasaran simak POVku nih
Aku juga baca buku "A Man Called Ove" dari iPusnas...
Tapi ittuu.. aga drained ma emosyenel yaah.. soalnya Pak Ive hobinya ngamookk..
Jadii, ga selesai bacanya.
Tapi aku seneng..
Soalnya ka Senja membahas secara garis besar yang bikin pembaca penasaran.
Karena ini buku terjemahan.. jadi memang radaaa.. beda yaa.. versi indo-nya.
Novel Pria Bernama Ove ini rasanya seperti sedang diajak memeluk kakek pemarah yang sebenarnya berhati emas ya mbak! Apalagi saat ini, di mana dunia terasa makin cepat dan individualis, kisah Ove benar-benar jadi pengingat yang menyesakkan sekaligus menghangatkan tentang pentingnya komunitas dan kasih sayang yang tulus.
Aku sepakat sih bagaimana Fredrik Backman berhasil mengubah rasa kesal kita pada karakter Ove di awal cerita menjadi rasa sayang dan empati yang mendalam di akhir. Menarik sekali melihat ulasan ini menyoroti betapa "kehilangan" bisa mengubah seseorang, namun "kehadiran" orang-orang baru—seperti tetangga yang berisik—justru bisa menyelamatkan nyawa.
Ini kok relate banget ceritanya dengan saya. Ketika pindah rumah, kami mendapati salah satu tetangga di lingkungan baru ini ada yang terkenal temperamen. Seorang yang dijuluki oleh warga sini sebagai bujang lapuk. Dari 2 kasus seperti Ove dan Pak Damar, saya tetiba berkesimpulan, sepertinya tetangga yang suka marah-marah di sini pun mungkin merasakan hal yang sama, kesendirian akan dunianya di usia yang semakin tak muda lagi, tanpa pasangan yang selama ini diimpikannya
Pria pemarah itu kakekku. Tapi beliau nggak jutek. Beliau ramah dan baik, tapi tegas. Sudah terkenal di kampungku, terutama di kalangan anak-anak. Bagi kami cucu-cucunya pun, beliau kakek yang galak tapi penyayang.
Buku Pria Bernama Ove ini kayanya sedih ya. Nggak terbayang rasanya kehilangan belahan jiwa. Apalagi sekaligus calon anaknya.
Saya setuju sekali ini. jangan langsung menilai seseorang secara dangkal. Karena bisa saja orang seperti Pak Damar dan Ove mudah marah, karena terlalu kesal dengna kejadian menjengkelkan yang dialami berulang. Padahal harusnya orang lain pun belajar dari kesalahan yang dia lakukan. Apalagi ulah tetangga itu beragam. ada yang ndablek ampun-ampunan dan tak peduli tetangga. Tidak pengertian, kalau diingatkan malah marah.