Penulis : Dinda Pranata
“Apa yang menarik sih Din dari lampu oblik berkarat?” tanya Putri, teman perempuan di belakangku.
Kurang dari dua puluh tujuh langkah, aku sudah pasti berdiri tepat di bawah lampu oblik itu. Tapi, aku memilih diam. Mengamati. Rasanya ada sesuatu yang menggantung di lampu itu. Lebih tua dan dalam.
Sementara Putri terus komat-kamit. Sebal padaku yang terlalu banyak berpikir sebelum mengambil obyek. Akhirnya, aku mengalah.
Klik! Satu obyek terpantul di layar kamera.
Setelahnya, kricikkk! kricik! Suara air dari keran terbuka bersamaan dengan ingatan akan lolong kekanakan dalam pikiran, “Kak! toyané sing ngalih (Kek, airnya nggak ngalir),” kataku pada Pekak (panggilan kakek dalam bahasa Bali) di halaman rumahnya, di Sampalan Klod, Klungkung.
Baca juga: Ibu Rumah Tangga Serasa Wanita Kantoran
Dalam benakku pun muncul pertanyaan, “Pekak, kenken kabaré (Kek, gimana kabarnya?)” gumamku. Lentara di atasku masih terdiam, atau mungkin … ia justru mendengar lebih banyak.
Reza Riyadi yang Mencari Pemantik Lentera
Malam itu dadaku terasa membuncah, meski aku yang lain ini kerap kali memberikan pelatihan daring atau luring, namun malam itu aku kembali mengingat masa di mana Lentera dalam diriku mencari pemantiknya. “Perawat itu bukan cuma merawat yang sakit. Merawat itu juga pada mereka yang masih sehat,” kataku pada peserta workshop menulis.
Aku yang lain ini adalah seorang perawat dan seorang pemenang Satu Indonesia Awards tingkat provinsi tahun 2022. Namaku adalah Reza Riyadi Pragita. Tak hanya membawa rasa bangga, justru dalam benakku ada semacam gumaman rasa, apakah aku bisa meneruskan semangatku untuk merawat mereka yang ‘terlupakan’? Dengan segala perasaan campur aduk, aku masih meyakini bahwa profesi perawat itu seperti lentera.
Jika saja banyak orang yang membaca kisah Florence Nightingales, mungkin akan sedikit orang yang berkata bahwa perawat hanya bertugas untuk merawat pasien; menyuntik nadi; atau memperban luka. Karena sebenarnya, perawat hidup dalam siklus promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), rehabilitatif (memulihkan kehidupan) dan paliatif (memberi kenyamanan). Aku akhirnya menyadari filsafat itu, ketika aku mengucapkan panji sumpah profesi bertahun-tahun yang lalu.
Sampai suatu hari, kenyataan menghantam pandanganku tentang tempat tinggalku. Pulau Bali. Pulau dengan segala pesona keindahan, nyatanya memiliki sisi yang hampir tak terlihat oleh mata khalayak.
Baca juga: Diskusi Sehat Bubar, Anggota Barbar
Desa Ban, Karangasem. Lokasi di mana aku menemukan kenyataan bahwa siklus keperawatan tak hanya tentang teknis, melainkan tentang seni berkolaborasi dengan alam sekitar.
Barangkali di titik inilah, lentera yang dibawa Florence Nightingales mencari pemantiknya yang lain. Tak harus api untuk bersinar. Mungkin bisa dengan salah satu fondasi dasar pemikiran Nightingales. Air.
Saat Lentera Tak Menyala, Coba Tanyalah Pada Lenteranya

Kukira Desa Ban, Karangasem akan sama dengan desa panoramik yang terkenal di Bali. Dengan akses jalan yang penuh batu dan aroma debu tanah yang kering, membuatku berpikir mungkin air lupa cara mengalir di musim kemarau. Desa ini seperti peradaban yang terlupa oleh kebisingan kota karena letaknya di antara dua gunung besar. Gunung Abang dan Gunung Agung.
Mataku hampir tak bisa berkedip, ketika menatap seorang wanita yang mendorong gerobak penuh derigen air. “Ibu …,” gumamku. Sosok wanita itu membuat dadaku mengencang, sementara kepalaku seperti menghidupkan hologram sosok ibu. Begitu jelas. Kudekati wanita berkaos putih itu. Apa yang kudengar terus menggema hingga aku pulang ke Klungkung. Jelas terdengar kalau wanita itu harus membeli air bersih untuk kebutuhan hidupnya.
Aku mencari tahu lebih banyak. Angka-angka yang kubaca terus berteriak, “hei! Aku angka 391 untuk jumlah sungai di Bali yang mulai mengering tahun 2023! Sementara, aku angka lima untuk wilayah yang mengalami kekeringan ektrim. Apa kau akan diam saja jika digitku perlahan berganti?”
Baca juga: Sound Horeg Meriah, tapi Ada Kepala yang Pasrah
Angka itu semakin menggedor sabda-sabda ketuhanan yang kupegang segera diwujudkan nyata. “Sebaik-baiknya manusia, adalah ia yang bermanfaat untuk sesamanya,” gumamku.
Awalnya, kukira ide bedah rumah menjadi cara yang ideal. Sekali lagi aku mencermati setiap pilihanku. Namun, potongan buku-buku yang kubaca membuatku kenal bahwa manusia itu … bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku putuskan bertanya pada mereka yang tahu akan kebutuhannya.
Aku kembali ke Desa Ban. Bertemu dengan warga, kelian adat (pemimpin banjar). Kumendengar jawaban yang tak terduga. “Bedah rumah sudah pernah dilakukan oleh pemerintah daerah, tapi …,” suara pria tua yang duduk di depanku dengan pakaian adat Bali yang khas, “yang kami butuhkan sebenarnya adalah akses air,” lanjutnya. Cerita-cerita selanjutnya membuatku yakin akan keputusanku. Membangun cubang.
Aku yakin jika lentera tak menyala, ada kalanya bertanya pada lentera bisa memberimu terang.
Lentera yang Menyala, Senyum yang Merona
Siang menjadi lebih panjang, bahkan malam terasa begitu singkat. Perjalanan menuju swadaya air di Desa Ban, bahkan lebih terjal dari jalan-jalan yang harus kucapai. Entah sudah lewat berapa malam atau siang, aku berjibaku dengan rencana program ini. Mulai jalur penggalangan dana di kitabisa.com hingga jalur yang tak pernah kubayangkan yaitu politik, sudah meninggalkan jejak di kegiatan yang kuberi nama “SAUS (Sumber Air Untuk Sesama) untuk PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)”.
Sampai di suatu malam (yang aku lupa apakah itu musim hujan atau kemarau di mana cuaca tetap begitu gerah) total penggalangan dana yang kami harapkan tidak sesuai ekspektasi. Aku mencengkeram erat rambut-rambut keritingku. Seolah ingin menjerabutnya dan mengubahnya menjadi pundi-pundi emas yang bisa menyelamatkan senyum harapan di desa Ban.
Sudah terlintas rasa gagal yang mungkin terjadi. Berkelindan bayangan wajah-wajah anak-anak, para nenek dan kakek, serta semua penduduk yang sudah penuh harap akan kehadiran air untuk kehidupan mereka. “Apakah dengan dana segini program ini akan berjalan?” tanyaku lagi. Namun sepertinya penduduk malam pun ikut hening. Ngingggg!
Terombang-ambing dalam kegamangan, sebuah notifikasi muncul. Lentera dalam diriku yang sempat padam, muncul kembali. Tepat ketika pengalangan dana di kitabisa.com tutup. Seseorang dari sebuah yayasan dari luar daerah Bali mengirimkan donasi sebesar tiga puluh juta. Dan itu menyalakan kembali lentera diriku yang hampir padam. Program SAUS (Sumber Air Untuk Sesama) untuk PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) berjalan sebagaimana mestinya, bahkan jauh lebih dari apa yang kubayangkan.
Kini aku bisa menyaksikan wajah-wajah mereka yang layu, bisa terukir senyum merona. Dari lentera yang kupikir harus menggunakan api (rencana bedah rumah), nyatanya lentera itu bisa menyala bahkan dengan lawannya. Air.
Baca juga: Pintu Everlasting dan Antrian Selembar Administrasi
Lentera Tak Harus Tentang Cahaya, Kadang Artinya Melawan Dahaga
Aku kembali ke asal semua ingatan dan suara ini bermula. Aku yang berdiri di bawah lentera berkarat. Imersi kenangan akan workshop semalam bersama dengan Reza Riyadi, pemenang Satu Indonesia Awards tingkat Provinsi Bali. Cerita Reza Riyadi itu membuatku merasa lentera di depanku, bukan tentang karat. Tapi lentera yang menemukan cahaya dari aliran air.
Dari lentera di atas kepalaku, aku bisa mengingat kegelisahan pekak di Sampalan Klod-Klungkung ketika aku masih bocah. Kala air tidak mengalir ke pekarangan pekak karena kebocoran pipa perusahaan air daerah, Pekak Kace mendorong gerobak cukup jauh sambil menggendongku di punggung untuk membeli air bersih.
Dering ponsel mengangkat semua imersi kenangan itu, nama Paman muncul di layar ponsel. Tak lama kemudian, suara Pekak Kace terdengar. Seperti kebiasaannya yang sering menggunakan ponsel paman untuk menelepon cucunya.
“Eh, Kak! Napi ni telepon Dinda? (ada apa ini telepon, Dinda?),” tanyaku rindu.
“Be, pidan lakar mai malih ka Klungkung? Pekak lakar ngajak ka Tukad Unde. Di ditu yehne deras tur seger munang udan. (Kapan main ke Klungkung? Kakek mau ajak kamu ke Sungai Unde. Di situ airnya deras dan segar setelah hujan),” suara kakek terdengar mendesis setelah giginya banyak yang tanggal. Mendengarnya aku cuma bisa tersenyum.
Baca juga: Masyarakat Adat dan Para Pengabdi Modernitas
Seperti aku ketika aku mendengar setiap kisah perjuangan Reza Riyadi malam sebelumnya, Lentera dan air kadang bukan saling menolak. Sesekali mereka bisa bersatu. Seperti bagaimana Nightingales mendobrak praktek keperawatan dengan cara yang holistik. Begitupun Reza yang menemukan cara lewat lentera yang ia nyalakan.
Terlepas dari betapa indahnya panorama Bali, aku percaya ada sudut kecil yang mungkin terlewat jika peta perjalanan kita diperbesar.
Closing Statement Senja Hari
Gimana nih gengs, cerita inspirasi dari Mas Reza Riyadi. Di balik keindahan Pulau Dewata, kadang kita tak ingat ada sudut-sudut terlupa yang perlu dirawat. Nah, dari sini ada nggak sih yang pernah bertemu dengan sisi lain dari tempat kalian tinggal?
Bisa dong untuk share di kolom komentar, siapa tahu cerita kalian bisa menginspirasi pihak lain untuk ikut bergerak bersama. Eitz, ingat komennya yang bijak ya. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day! Jya, mata ne~
Source:
https://inarisk.bnpb.go.id/pdf/Bali/Dokumen%20KRB%20Prov.%20Bali_final%20draft.pdf
https://www.balipost.com/news/2023/10/11/367152/Debit-Air-Sungai-di-Bali…html
https://www.balisharing.com/2025/03/12/krisis-air-mengancam-bali/
https://nurseslabs.com/florence-nightingales-environmental-theory/
Gilbert, H. A. (2020). Florence Nightingale’s environmental theory and its influence on contemporary infection control. Collegian, 27(6), 626–633
Comment
Aku pernah zoom langsung dengan beliau dan memang orangnya sangat passionate soal gerakan yang dia usung karena memang melihat langsung kondisi desa-desa yang kekurangan air padahal berada di provinsi dengan pariwisata terbaik di Indonesia sampai nangis dong dia ceritanya. Hebat banget sih orangnya
Kalau suatu tempat sampai susah air, itu sedih sih. Sesuatu yg vital soalnya. Aku JD inget pas masih di Banda Aceh mbak . Samaaaa. Air itu susah, lebih sering mati, giliran pake air pompa, kotooooor. Ntahlah kenapa bisa gitu.
Sejak pindah JKT baru kayak legaaaa banget. Syukur tempatku air lancar, bersih. Harus diakui masih banyak tempat2 di Indonesia yg susah air. Harus cari jauh dulu. Ga tega liat bapak2 tua yg masih narik gerobak utk bawa air 😞😞. Makanya anak2 aku ingetin, jangan buang2 air. Secukupnya pakai.
Baca bahasa bali jadi inget masa² dl waktu tinggal bali..bahasa bali dgn iramanya yg khas 😁
Karangasem dl jg pernah kesana tapi dalam rangka liburan dn gak nyangka klo ternyata disana ada daerah yg kekeringan ya mba…
Kalo di tempat tinggalku dl sempet terkena banjir yg lumayan tinggi mseki gak sampe masuk rumah tp waktu itu sempat was2 juga sie..bersyukurnya skrg sudah gak pernah lagi kejadian spt itu dan semoga tdk ada lagi
Begitu lihat lampu petromax, saya jadi ingat punya bapak saya yang masih ada sampai sekarang. Kalau di Makassar disebut lampu Strongki. Strong artinya terang, Ki jadi kata vnati bisa berati sekali. Lampu Strongki lampu terang sekali hehehe.
Memang ya, lentera selama ini dikaitkan dengan cahaya penerang dalam kegelapan. Padahal bisa berarti sesuatu penyelamat, sumber pengharapan baru ya. Termasuk setitik air di Padang tandus.
Dan di tengah gemerlap sebuah kota, pasti ada sudut-sudut juga. Termasuk provinsi Bali. Masih ada desa-desa yang kekurangan air. Padahal air adalah kebutuhan pokok sumber kehidupan. Makanya keren yang dilakukan Mas Reza ini. Lewat air, dia menyalakan lentera memberi harapan dan kehidupan lebih baik bagi banyak orang.
Inspiring banget ceritanya. Nggak usah jauh-jauh ke pelosok, ketika pompa air macet atau listrik mati dan persediaan air terbatas, berasa banget betapa air tu sumber kehidupan. Senangnya masih banyak anak muda bertalenta, pintar, berbakat, punya empati yang tinggi untuk membangun sekitarnya jadi lebih baik.
Saluutt bangettt 😍🙏proficiat karena udah begitu baiikknya bikin program yg bantu dan memberdayakan masyakarat Bali pastinya.aku juga takjub dgn Astra yg support manusia2 inspiring kayak gini. Aaakkk, semoga bs diduplikasi korporat2 lainnyaaa
Filosofinya bagus banget, jangan fokus pada karatnya tapi pada cahaya lenteranya. Selamat untuk Reza Riyadi yang menerima SATU Indonesia Awards dari Astra (provinsi Bali). Semoga makin banyak yang menerima manfaatnya.
Begitulah faktanya ya. Di Bali yang terkenal dengan wisatanya ternyata masih ada daerah-daerah yang sulit mendapatkan air bersih. Padahal air bersih itu penting sekali. Mati air beberapa hari saya sudah bikin kelimpungan.
Syukurlah Reza Riyadi bisa membawa perubahan pada Desa Ban, sehingga mereka bisa menikmati akses air bersih.
Mas Reza seorang pemuda dengan niatan tulus dan baik hati ini sukses membuat aku tersentuh dan terenyuh akan usaha dan perjuangannya. Terkadang di sebuah sudut terdekat kita, masih ada yang membutuhkan uluran tangan. Termasuk kebutuhan akan air bersih, di beberapa titik Kota Bogor sekalipun masih ada yang mengalami sulit cari air bersih.
Sangat menginspirasi sekali, kadang ada mukjizat yang turun di akhir perjuangan. Sehingga perjuangan kian berarti dan merawat orang untuk sehat melalui air bersih adalah upaya baik. Secara air bersih adalah kebutuhan utama untuk semua orang tanpa terkecuali.
Mas Reza Riyadi keren banget lewat program nya banyak membantu masyarakat mendapatkan air yang sangat dibutuhkan. Apalah daya kita kalau hidup tanpa air. Terbayang betapa susahnya hidup di daerah yang susah air. Syukurlah ada pelopor seperti Mas Reza ini jadi bisa memberi solusi terbaik untuk masyarakat yang kesusahan air di desa Ban
jujur gk ekspect di bali punya banyak tmpat yang krisis air apalagi jumlahnya lumayan banyak ya, sungai sampai ratusan pula di 2023 mungkin salah satu alasanya karna ketutupan berita wistanya jadinya gk updte sisi sulitnya.
Betul, berita keindahan Bali seringkali menutupi sisi kelam dari pulau itu sendiri. Karena mungkin nggak cocok sebagai brosur wisata… 🥹
Sedih banget yaaaa, negara udah lama merdeka, nggak ada perang tetapi ada yang masih susah dapat air. Bukti pembangunan bertahun2 nggak merata. Untung ada yang peduli untuk “ambil alih” ngurusin, ketimbang nungguin pemerintah kelamaan.
Apalagi ini Bali gitu, lho, yang bertahun2 menjadi jujugan pariwisata.
Bali bisa besar tanpa nambang2 dan ngrusak alam, cukup membesarkan wisatanya mestinya bisa menjadi maju yaa. Sayang kadang aku merasa Bali salah urus dan cuma dijadikan perahan politikus rakus hiks.
Semoga nanti program yang digagas Mas Reza dan temannya awet dan banyak masyarakat selalu menjaga dna kasi dukungan.
Salut juga sama donatur2nya yang memberikan sumbangan buat program tersebut.
Btw OOT Mbak Dinda keluarga besarnya ada di Klungkung?
Bener mbak.. Selama ini tuh aku merasa Bali digadang² sebagai lahan investor mulai dari hotel² taraf internesyenel sampai cafe² dan propertinya. Tapi dibalik investasi megah itu, sangat sedikit yang masuk untuk pemerataan fasilitas prioritas kayak air ini. Dann, kadang jadi mikir apa mungkin air bersih yang ada di sana pun sebagian besar lari ke hotel² mewah ya. Ahh, miris.. 😢
Hu’um mbak, keluarga besarku dari pihak bapak ada di Klungkung sama Ubud.. 🤗
membaca cerita ini, sedikit-sedikit jadi tahu bahasa daerah Bali
Seneng membaca kisah inspiratif anak muda yang peduli akan sekitarnya
dan di Bali masih ada daerah yang akses airnya masih susah. Semoga ke depannya, semua wilayah di Bali bisa mendapatkan akses air bersih
karena biar gimanapun, air merupakan kebutuhan pokok. Sanyo air dirumahku mati sehari aja rasanya bener bener bingung mau ngapa-ngapain
Iya kan.. bayangin PDAM mati sehari aja kalang-kabutnya luar biasa. Apalagi di sana yang tiap butuh air bersih kudu beli dulu. 😭
Relate banget mbak. Di rumahku yang sekarang tu PDAM sering mati. UDah gitu suka gak ngangkat mengalir ke torenku. Pernah ditinggal suami dinas ke luar kota, nggak punya air, untungnya masjid dekat rumah punya sumur, akhirnya tiap sholat bawa botol buat nampung air =))
Nggak kebayang kalau nggak ada air sama sekali Ya Alloh 🙁
Miris sih, di jaman serba modern seperti sekarang masih saja ada daerah yang kekurangan air bersih. Tapi sebenarnya memang dunia ini sedang menghadapi krisis air bersih di mana-mana. Beberapa warning sudah dilakukan, tapi langkah Reza Riyadi ini salah satu yang paling nyata banget. Kita butuh lebih banyak pemuda sepert Reza di Indonesia untuk menangkap permasalahan yang terjadi di banyak daerah. Salut! Pantes banget dia dapat anugerah Astra Awards 🙂
Aku suka banget dengan caramu bercerita! Anak-anak muda kayak mas Reza ini keren banget karena mencari solusinya dari menanyakan langsung apa yang jadi masalah pada yang mau diberi solusinya. Jadi tepat dan manfaatnya langsung dirasakan.
Do tengah berita kebobrokan pejabat, sepak terjang anak muda ini sungguh bak oase di padang tandus.. semoga lebih banyak lagi pemuda pemudi yang peduli akan sekelilingnya dan memberikan harapan kalau Indonesia akan lebih baik di masa depan..
Kisah Reza ini inspiratif banget, bisa melihat masalah air dari dekat lalu bergerak cari solusi nyata. Salut sama semangatnya yang fokus membantu masyarakat tanpa banyak bicara tapi penuh aksi.
Kisah Reza Riyadi ini inspiratif sekali. Perjuangannya sebagai penerima Satu Astra menunjukkan bahwa kerja keras dan kepedulian sosial bisa membawa perubahan nyata
Masya Allah, tulisanmu indah sekali. Membuat teebaru yang membaca kisah kehidupan seperti ini. Lentera bukan hanya berfungsi dalam kegelapan dan kesunyian tetapi sebagai penolong, penghapus dahaga ibaratnya… penerang jiwa raga mereka yang membutuhkannya. Salut banget sama pemenang Satu Award. Apalagi kisahnya di Bali ini sangat memggugah hati. Perawat merupakan profesi yang sangat mulia. Bukan hanya membantu mereka yang sakit, tapi juga yang sehat, bahkan menolong jiwa2 yang rentan gara2 pikiran yang merasukinya.
Menghidupkan kembali Lentera, yang bukan hanya sekedar menyalakan cahaya.
Aku pikir karangasem itu daerah yang sangat asri dan subur. Ternyata krisis air menjadi sisi gelapnya. Padahal yang kita tau, Bali adalah surganya pariwisata yang seperti punya segalanya.
Pas lihat gambar lentera, jadi ingat di rumah juga ada lentera itu.
Cerita inspirasi dari Mas Reza Riyadi di Pulau Dewata sangat inspiratif.
Apa yang kita lupakan, ternyata bisa jadi kisah yang besar ya
Hal yang sangat tragis sih melihat Bali. Terkenal dengan keindahan alamnya tapi ada lebih 300 sungai hilang oleh ulah manusia dengan tujuan menjual keharmonisan alam.
Sungguh tak saya sangka sama sekali. Ternyata di balik gemerlap Bali ada sudut gelap yang amat kontras dengan ingar bingar pariwisata. Kok saya jadi mikir, lalu apa makna semua gemerlap pariwisata itu jika penduduk Bali bahkan kesulitan akses air bersih?
Menarik bangettt
MANTAPPPP
hebat banget! program SAUS-nya kerenn, semoga semakin banyak pemuda yang punya punya semangat seperti ini.
Kita butuh lebih banyak orang seperti Reza Riyadi, bahkan kita harus berusaha menjadi seperti beliau. Mungkin bukan dari tindakan, tapi dari semangat dan empati yang beliau miliki
Sebuah refleksi akan berbagi kebaikan dengan sesama di sudut terpencil pulau dewata. Semoga menjadi penerang di kegelapan akhirat nanti.
Tulisan yang puitis menarik dan buat penasaran baca sampai akhir, inspiratif banget bacanya dan tergerak banget buat memulai dari hal terkecil tapi berdampak seperti ini, kerenn!
bikin refleksi kalau hal kecil seperti akses air bersih bisa jauh dari dianggap sepele. Salut banget sama usahanya untuk bantu warga di pelosok Bali.
Di tengah hingar-bingar, gemerlap, dan glamornya sebuah tempat, selalu ada sudut yang tersisihkan, terabaikan, dan tidak dipedulikan. Salut untuk orang-orang seperti Mas Reza Riyadi, serta program SAUS dan PHBS, yang mampu menjangkau ruang-ruang yang sering luput dari perhatian. Semoga semakin banyak “pahlawan lentera” yang hadir dan membuat setiap sudut Indonesia menjadi lebih baik.
Kisahnya Reza Riyadi ini bikin semangat deh ngebuktikan kalo kesempatan bisa datang ke siapa aja dan kerja keras itu nggak bohong. Inspiratif banget, bikin pengen juga terus maju dan nggak nyerah.
Wah, benar-benar kisah yang menginspirasi! Salut sama semangat dan kerja kerasnya untuk bantu warga lewat akses air bersih. Ceritanya bikin kita ingat, bahwa kadang hal sederhana seperti air bisa jadi harapan besar…
Sangat membantu untuk menambah pengetahuan.
Luar biasa kisah Mas Reza Riyadi ini! Benar-benar bukti kalau satu orang dengan ide brilian bisa membawa perubahan besar, apalagi di bidang lingkungan dan pendidikan di Bali. Salut banget sama Astra yang bisa menemukan talenta-talenta keren begini.
Ceritanya menginspirasi, terutama tentang perjuangan dan prestasinya.
Kisah yang inspiratif! Reza Riyadi layak mendapat sorotan.
Aku blom pernah berkunjung ke tempat yang punya sisi lain, tapi dari ceritamu aku jadi pengen eksplor Bali lebih lama hehe.
Kisahnya sangat inspiratif! Penulis berhasil membawa emosi pembaca sampai akhir. Terima kasih sudah menuliskan perjalanan yang memotivasi banyak orang ini
kisah Reza Riyadi ini memberikan saya gambaran nyata tentang perjuangan dan harapan. Terima kasih sudah membagikan.
Wah, kisah mas reza ini bikin senyum sendiri! Nggak cuma soal penghargaan, tapi tentang gimana satu orang bisa bikin perubahan nyata buat banyak orang. Inspiring banget!
Inspiratif sekali! Semoga semakin banyak anak muda seperti Reza yang peduli dan mau bergerak.
Artikel di Senjahari-nya sangat informatif dan mendalam aku jadi makin menghargai betapa besar kerja keras dan dedikasinya untuk bisa mendapat satu Astra di Bali
wah menarik banget kak , thanks atas sharingnya kak reza
semangat dan kerja keras Mas Reza Riyadi seperti ini bisa menginspirasi banyak orang
Wah, kisah yang sangat inspiratif. Inilah yang disebut dengan pahlawan tanpa tada jasa jaman now! Benar2 berjasa!
keren ka artikelnya sangat menginspirasi
Begitulah faktanya ya. Di Bali yang terkenal dengan wisatanya ternyata masih ada daerah-daerah yang sulit mendapatkan air bersih.
wahhh jadi prihatin yg ga dapet air bersih cuy
Jarang terdengar, bahwa pulau dewata yg indah dan bahkan banyak pantai ada salah satu wilayah yg sempat mengalami krisis air bersih.
Respect dengan apa yg telah dilakukan Mas Reza Riyadi bersama kawan2 dan gerakan yg di usung telah menjadi “penerang” bagi yg membutuhkan kontribusinya
Saya mendapatkan banyak pengetahuan baru dari sini.
Kisah Reza Riyadi ini bener-bener inspiratif. Jarang ada anak muda yang mau turun langsung melihat kondisi masyarakat dan mencari solusi nyata seperti akses air bersih. Artikel ini juga membuka mata bahwa Bali bukan cuma soal pariwisata, tapi juga tentang warga yang masih membutuhkan perhatian. Salut untuk Reza dan semoga program seperti ini terus berlanjut dan makin banyak yang ikut tergerak.
Inspiring banget ceritanya. Nggak usah jauh-jauh ke pelosok, ketika pompa air macet atau listrik mati dan persediaan air terbatas, berasa banget betapa air tu sumber kehidupan. Senangnya masih banyak anak muda bertalenta, pintar, berbakat, punya empati yang tinggi untuk membangun sekitarnya jadi lebih baik.
Air memang kebutuhan vital. Apalah arti hidup ini tanpa air di keseharian kita…bisa² tak ada kehidupan. Keren kisah Mas Reza ini, membantu masy yang kekurangan air. Masih muda lagi sudah memberi manfaat banyak bagi masy luas
Pastinya memiliki dampak positif apa yang dilakukan oleh Kak Reza, karena memberikan cahaya kehidupan yang bermanfaat bagi warga sekitar, di mana hal tersebut tak tersentuh oleh siapapun atau mungkin belum tergerak untuk memberikan dampak
kisahnya sangat menginsiparasi bagi anak muda dan juga keren banget lewat program nya banyak membantu masyarakat mendapatkan air yang sangat dibutuhkan.
saya kira di Bali itu daerahnya sudah makmur semua, ternyata masih ada juga yang krisis air yah
kisahnya bagus sekali bisa menginspirasi anak mjuda jaman sekarang dan mas reza riyadi keren banget lewat program nya banyak membantu masyarakat mendapatkan air yang sangat dibutuhkan.
Inspiratif banget! Kisah anak muda yang berprestasi dan memberi dampak positif di Bali melalui program Satu Astra ini patut jadi contoh. Salut dengan dedikasi Reza Riyadi, semoga makin banyak anak muda yang termotivasi!
Bahasannya bikin mikir—tapi bukan yang bikin stres. Pas banget.
ternyata bisa jadi bukti kalau kerja keras dan semangat bisa bawa hasil, nggak peduli dari mana kita mulai. Salut juga sama apresiasi di provinsi Bali, semoga kisah ini bisa bikin yang baca makin semangat kerja keras juga
Wah aku bru tahu mbak ada beberapa daerah di Bali yang kekurangan air. Apa yang dilakukan Reza Riyadi ini pastinya sangat membantu masalah kekurangan air di Bali
Kisah ini hangat, inspiratif, dan memberi perspektif baru tentang perjuangan dan dedikasi seseorang ya
wahh aseli ini keren bangett kisahnya sangat inspiratif… tapi ada satu hal yang saya heran, bali yang identik dengan pulau yang sangat indah dan sering dikunjungi wisataw mancanegara ternyata masih banyak yg kekurangan air bersihh cukup disayangkan sekali tapi overall bali memang keren sii, salah satu tempat wisata yang ingin saya kunjungi..
Bagus bgt programnya, karena sejatinya sumber utama kehidupan kita yaa di air sendiri. Gimana kalo air tu sendiri yg susah didapatkan, ngga kebayang seperti apanya.
Jujur beberapa hari ini daerah Sumatera terutama tempatku di Padang kena banjir bandang tapi wilayahku masih aman. Namun krna musibah jadinya air jga sulit hidup. Jadi memang faktor utamanya sumber air itu mesti dialiri, kalo udah rusak apalagi kalo rusak karena alam atau memang ndak dialiri jdinya air susah didapatkan..Tapi memang bersama Astra mas Reza saling support utk kemajuan daerah ini yaa
Semoga program-program Astra yang seperti ini berkelanjutan supaya makin banyak yang merasakan manfaatnya.
Salut sama perjuangannya. Kisah seperti ini selalu ngingetin kalau tiap orang punya jalan dan tantangannya masing-masing. Semoga kisahnya bisa menginspirasi banyak orang.
Kadang memang agak sulit mengidentifikasi masalah suatu daerah di daerah yang emang terkenal. Katakanlah Pulau Dewata, Bali. Terkenal sebagai daerah wisata.
Dalam bayanganku, Bali secara keseluruhan ya menyenangkan. Tanpa masalah apapun.
Eh, ternyata masih ada daerah yang kesulitan air bersih.
Di Pulau Bali yang terkenal dengan wisata pantai indahnya aja masih banyak sudut-sudutnya yang sulit air… Nggak kebayang rasanya kalau hidup tapi kesusahan buat dapat akses ke hal yang penting buat hidup. Salut banget sama perjuangan Reza Riyadi. Sudah pasti ia jadi lentera di sekitarnya. Banyak yang terbantu dengan gerakannnya dan sudah semestinya diapresiasi..
73 Responses