Penulis : Dinda Pranata
Hal-hal yang akan paling kita banggakan adalah hal-hal yang tidak kita miliki
Kappa dan Rashomon halaman 48
Wushhh! Krak Krak!
Malam itu hujan turun sangat deras. Angin ikut tantrum sampai dahan-dahan pohon frangipani menyentuh mengetuk-ngetuk genting garasi. Seperti minta tolong atau lolongan minta berhenti.
Mataku masih terbuka lebar. Jam digital terbaca 23:27. Di balik selimut aku menyalakan senter baca. Takut mengganggu si bocah yang sedang terlelap. Namun aku masih ada di halaman yang sama, setidaknya selama beberapa menit yang lalu. Halaman empat puluh delapan.
“Apa yang mengganjal dari kata-kata ini?” tanyaku. Sambil terus jariku bergeser di kalimat yang sama. Guntur pun menggelegar dan senter baca memukul dahiku. Menghidupkan badai di tubuhku. Detak jantungku.
Baca juga: Mana yang Lebih Sulit, Obsesi Cinta atau Obat Kolera?
Siapa yang Sakit Sebenarnya?
Malam di pukul dua puluh tiga itu seperti amukan yang tak berdasar. Setelah seharian benar-benar panas, cerah dan ceria. Menjelang tengah malam, cuaca seperti anak kecil yang tak diberi permen. Sungguh aneh. “Apa cuaca akhir-akhir ini memang sentimentil?” pikirku saat itu.
Memang kadang pikiranku sedikit ngawur. Tidak fokus. Dalam beberapa lembar membaca buku milik Ryonosuke Akutagawa, tiba-tiba ia merayap mengomentari soal cuaca malam itu. “Ah, sudahlah!” gerutuku lirih, “makin dituruti, pikiran ini makin ngawur saja.” Mataku melanjutkan kembali membaca cerpen Kappa itu.
Dalam beberapa lembar-lembar pertama, aku mendapati rasa geli. Aku seperti tergelitik di dunia kebalikan dari manusia yang seharusnya.
Kalau manusia memandang satu hal secara serius, maka Kappa cenderung akan menjadikannya bahan lelucon; dan sebaliknya, kalau manusia mendapati sesuatu itu lucu, bangsa Kappa justru memandangnya sangat serius.
Kappa dan Rashomon halaman 12
Aku terus membaca. Merasa bahwa buku ini membikin aku sudah merasa kesal di awal-awal halamannya. Bahkan, ketika Si Kappa menjelaskan bagaimana seharusnya pengendalian kelahiran berdasarkan pada alasan kemapanan orangtua.
Baca juga: Review Super Parent: Mengasuh, Mengasihi dan Empati
…Tidakkah Anda memandang itu sebagai puncak egoisme? — Kappa dan Rashomon, hlm. 13
“Wah, ini sudah kelewatan nih! Jelas harus dipikirkan lah Kappa. Gimana kalau orang tua yang nggak siap terus menganiaya anak, heh?!” suaraku sedikit menguat di tenggorokan. Menyadari suaraku agak berlebihan kerasnya, aku menjulurkan kepala. Mengintip bocah, takut-takut dia terbangun. Aku menghela napas. Lega.
Kuselundupkan lagi kepala ke dalam selimut. Kubaca lagi kalimat-kalimat dalam buku itu. Semakin ke belakang, rupanya rasa kesal dalam diriku seperti menguap. Ada yang mencubitku saat keras lebih keras dari kalimat di halaman empat puluh delapan itu. Saat si narator kembali ke dunia nyatanya. Meninggalkan dunia Kappa yang memuakkan dengan segala logika terbaliknya.
“Dimanakah letak batas kewarasan dan ketidakwarasan itu? Apakah anggapan umum harus jadi tolak ukur kenormalan atau kewarasan?” tanyaku tiba-tiba.
Pukul satu malam lewat sedikit. Dadaku agaknya lupa berdetak. Sama sunyinya dengan tanda titik tiga di akhir cerita pendek itu.
Baca juga: Buku Tentang Freud, Kelamin dan Serigala Betina
Andai saja si dokter yang bertugas di sini memperkenankan, akan sungguh menyenangkan jika aku bisa pergi mengunjunginya …
Kappa dan Rashomon halaman 81
Aku menutup buku itu untuk sementara. “Mengunjungi kemana? apakah …,” aku menghentikan kata-kata. Hujan masih saja turun tapi lebih pelan. Dan, mataku terpejam sembari membayangkan kemana si narator ingin pergi.
Siapa yang Menentukan Kebenaran?
Alarm tidak berbunyi atau memang belum berbunyi, pikirku saat itu. Aku yakin aku sudah tertidur cukup lama, lalu aku mengerjapkan mataku. Semua masih gelap. Dengung kipas masih sama seperti semalam, hanya ritmenya lebih pelan.
Aku melihat jam digital di sebelah nakas. Pukul 03.30. Ternyata bukan alarmku yang lupa berbunyi, tapi memang ia belum waktunya bekerja. Aku mendesah. Meski setengah mengantuk dan mata masih sayup-sayup terbuka, aku tetap beranjak dari ranjang. Menyentuh lantai yang dingin.
Kupikir masih ada tiga puluh menit untuk memulai kesibukan. Maka buku Ryunosuke Akutagawa, kubawa keluar dari kamar menuju ke ruang tengah. Dekat dapur yang lampunya cukup teduh. Dahiku berkerut. “Sial! apa karena aku bangun tidur, jadi tak bisa kupahami kalimat-kalimat ini,” gerutuku. Tapi aku terus membaca meski mengulangi kalimat yang sama dua-tiga kali. Lalu setelahnya …
Baca juga: Life Lesson, Karena yang Negatif Tak Harus Selalu Positif
Wajar bahwa ia tak lagi ingat bahwa baru sesaat tadi ia berencana menjadi seorang pencuri.
Kappa dan Rashomon halaman 84
“Ah, i see!” aku mengangguk-angguk seperti anak sekolah yang mendapat pencerahan. “ternyata seorang pencuri yang mendapati seorang menggunduli mayat-mayat. Lantas berpikir dia lebih bermoral dari penggundul mayat itu,” lanjutku. Namun setelahnya aku berkerut lagi. Mencari benang merah suara Akutagawa. “Eh, maksudnya?” tanyaku lagi.
Kubaca kembali baris-baris kata. Aku mencermati kembali.
Aku—aku sedang mencabuti—mencabuti ambut untuk membuat wig
Kappa dan Rashomon halaman 89
Kalimat lain kubaca. Percakapan antara pencuri yang dulunya seorang pelayan dan seorang wanita yang menggunduli mayat wanita, membuka hal yang kasat mata menggangguku.
Baca juga: Review When Marnie Was There, Benang Merah Anak Kesepian
… Wanita ini (si mayat) tahu apa yang harus ia lakukan, dan kupikir ia paham apa yang sedang kulakukan atas dirinya. —wanita penggundul mayat (Kappa dan Rashomon halaman 90)
… Kalau begitu kau tidak akan menyalahkan kalau aku menanggalkan pakaianmu. —pencuri (Kappa dan Rashomon halaman 91)
“Apa ini!” pekikku pelan. Suaraku nyaris meledak di kerongkongan. Lalu setelah jam kukuk di dinding ruangan berbunyi empat kali, “lalu siapa yang benar? mungkin hanya tokohnya yang tahu.” Aku beranjak dari meja makan menuju kompor.
Karena Kebenaran Punya Banyak Wajah
Buku Kappa dan Rashomon yang tebalnya hanya 104 halaman, kukira akan habis dalam satu atau dua malam. Seperti kenyataan, ia sangat berbeda. Setidaknya sejak halaman 91 terakhir kubaca pada pukul empat pagi, aku membiarkan buku itu teronggok di sisi mejaku.
Sesekali aku ingin membuka halamannya lagi, namun beberapa kali pikiran ini maju-mundur. Barangkali egoku sedang bekerja, menimbang salah dan benar pada cerita terakhir tentang Rashomon itu. “Padahal jelas-jelas dua orang itu salah. Satu pencuri, satu lagi penggundul mayat yang sama-sama gilanya,” kutukku.
Meski begitu, ingatan lama muncul di sela-sela ucap kutukku sendiri. “Apa benar buku yang tak bagus itu, benar-benar tak layak baca? atau hanya kau saja yang belum mengetahui polanya?” Aku bergumam sendiri di teras belakang rumah.
Dan begitulah, pada hari ke lima aku kembali membuka buku itu.
Itu benar, Yang Mulia. Sayalah yang menemukan jasad itu — Di Hutan Bambu (Kappa dan Rashomon halaman 89)
“Ah, ini cerita misteri sepertinya,” kataku antusias. Sejak kalimat pertama kubaca, kepalaku jadi lebih jernih. Seperti biasa, asumsiku mengambil alih lebih dulu.
Lembar-lembar terus kubuka. Meski ceritanya misteri, tapi ada yang lain, yang membuat alisku semakin menyatu. Aku teringat satu asas praduga tak bersalah, tapi dalam kisah hutan bambu itu semuanya pecah. Mustahil terjadi. Semua saksi dari awal cerita Di Hutan Bambu itu, membawa kebenarannya sendiri.
“Ini Pak Hakim gimana lah! Masa nggak diputuskan bersalah sih,” kataku gemas. Dan ada-ada saja komentar yang kulontarkan saat membaca buku Ryunosuke Akutagawa. Sekali lagi tanganku tanpa sadar meremas ujung buku, lalu setelahnya …
Jangan percayai perampok itu. Aku ingin membeberkan maksud itu padanya. — di Hutan Bambu (Kappa dan Rashomon halaman 101)
“Percuma, kebenaran tidak datang hanya dari satu mulut. Ia sudah bercampur dengan keyakinan, pandangan, masa lalu dan tetek bengeknya,” ujarku lagi.
Semakin ke belakang maka semakin sunyi.
Kemudian sinar itu perlahan pudar, sampai pepohonan sugi dan bambu tak terlihat lagi. Terbaring di sana, aku diliputi keheningan mendalam. — di Hutan Bambu (Kappa dan Rashomon halaman 104)
Ketika kata hampa udara menutup kisah pembunuhan itu. Aku hanya menahan nafas. Aku tahu benang merahnya. Kututup buku terbitan kakatua itu sambil berkata, “buku ini tak sepenuhnya salah.” Barangkali karena isinya beririsan dengan pemberitaan di luar yang sama-sama menuntut terlihat benar.
Ada yang sudah baca bukunya? Atau ada pengalaman nggak baca buku yang ceritanya remeh, tapi bikin mempertanyakan hal-hal besar nggak? Boleh dong berbagi pengalaman seputar proses membacanya, siapa tahu ada orang yang ternyata menjadikan buku sebagai perubahan besar di pola pikirnya. Tapi tetep ya, dengan bahasa yang santun. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~