Penulis : Dinda Pranata
Kadang seorang pria harus berani melakukannya
Kisah Tikus dan Manusia halaman 168
Awan rupanya sedang berkumpul di sisi timur. “Apakah daerah Tumpang akan hujan ya?” tanyaku. Mataku beralih dari novel karya John Steinbeck ke langit yang mulai tertutup awan abu-abu. Tak pekat. Hanya saja, cukup menghalau hangat sinar matahari pukul delapan lebih dua puluh menit.
Dalam detik berikutnya, bola mataku kembali ke halaman terakhir dari novel bersampul biru itu. Kuketuk-ketuk halaman itu seperti mengetuk pintu. “Apakah perasaan ini hanya terjadi padaku saat membaca buku Kisah Tikus dan Manusia ya?” tanyaku lagi.
Lantas, awan-awan berkerumun di atas teras. Awan gelap dan awan putih. Seperti ingin bentrok.
Sampai Di Mana Batas Kasih Sayang Itu?
Mataku seperti kaca. Mengembun di permukaannya ketika halaman-halaman pertama buku ini kubaca. Cuaca di 12 Januari kala itu cukup terik. Burung dengan riangnya hinggap di sela-sela dedaunan pohon cempaka samping rumah. Kukira buku Kisah Tikus dan Manusia ini begitu manis. Berkisah tentang persahabatan dua orang anak manusia. Lennie Small dan George Millton yang bekerja di sebuah peternakan.
Baca juga: Buku Tentang Freud, Kelamin dan Serigala Betina
Pria-pria yang bekerja di peternakan seperti kita, adalah pria-pria yang paling kesepian di dunia. Mereka tidak punya keluarga. Mereka tidak memiliki tempat tinggal. Mereka datang ke peternakan dan bekerja keras.
— Kisah Tikus dan Manusia halaman 21
Glodak! Suara tong sampah di jatuh mengejutkanku. Kulihat Pak Amin (petugas kebersihan kompleks) mengambil bungkusan sampah rumahku. “Mereka bekerja keras,” gumamku pelan. Aku tak tahu kata-kata itu kutujukan untuk siapa, teks di buku itu atau Pak Amin di depan gerbang.
Masih terlalu pagi untuk aku merasa sentimentil di tanggal pertama kubaca John Steinbeck ini. Lantas kugelengkan kepala dan fokus kembali. “Kasihan Lennie, seorang pria yang punya cacat mental tapi harus bekerja keras. Tapi kasihan juga si George, yang harus bertanggung jawab atas Lennie meski mereka tak ada hubungan darah.” Sentimentil lagi. Aku tidak bisa memilih untuk menaruh empati di salah satunya.
Nafasku pendek-pendek dan penuh jeda. Halaman-halaman berikutnya, membikin geram. Rasa sentimentil setelahnya berubah jadi geraman dan omelan khas ibu-ibu kompleks. “Wah, ngapain harus kerja di peternakan Curley sih!” seruku.
Bila Curley menyerang seorang pria bertubuh besar dan memukulnya, maka semua orang akab mengatakan betapa tangguhnya si Curley ini sebenarnya. Tapi bila dia terkena pukulan, maka semua orang akan berkata bahwa seharusnya si pria besar itu berkelahi dengan orang yang berukuran sama dengannya …
— Kisah Tikus dan Manusia halaman 41
“Ini mah mirip orang-orang berpangkat di atas sana. Suka cari kambing hitam,” selorohku. Di mulai dari peternakan ini, agaknya tugas George Millton bukan lagi menjaga Lennie namun bertanggung jawab penuh atas dirinya. Meski itu artinya dia merasa terbebani.
Ya, Tuhan andai saja aku hidup sendiri, pasti hidupku akan lebih mudah
— Kisah Tikus dan Manusia halaman 16
Lennie dan Dunia yang Mulai Membuang Kepolosan

Seperti kebiasaan yang kulakukan saat membaca. Mungkin saja membaca hingga halaman 62 itu berlebihan. Membuat aliran pikiran-pikiran terasa padat. Seperti lalu lintas kota di jam-jam sibuk. Sesekali pikiran macam: cucian yang belum di seterika, iuran RT yang belum dibayar, pesan-pesan wali murid yang belum terbaca, dan beberapa pikiran remeh lain seperti pertanyaan seputar kucing belang telon yang lewat di depan rumah.
Aku menggeleng. Tulisan-tulisan yang kubaca terkesan hanya teks biasa tanpa arti dihadapan pikiran-pikiran yang lewat itu. Sampai akhirnya di beberapa detik kemudian, kubaca ulang teks itu. Entah untuk keberapa kalinya. Kutemukan satu kalimat yang begitu klik di mataku.
Tak perlu punya akal sehat untuk menjadi orang baik. Menuurtku, terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Justru orang yang pintar biasanya bukan orang baik.
— Kisah Tikus dan Manusia halaman 62
“Apakah yang kupikirkan tentang buku setebal 170 halaman ini pas ya?” tanyaku pada diri sendiri. “Agaknya ini bukan novel tentang persahabatan, tapi sebuah ironi tentang dunia yang nggak ramah untuk mereka yang apa adanya.”
Kulanjutkan lagi membaca halaman selanjutnya sambil berpikir untuk menutup buku setelah bab tiga ini berakhir. Makin lama aku kepalaku meradang. Curley, si anak pemilik peternakan itu, suka sekali cari gara-gara. Kecemburuannya berlebihan atas wanita miliknya yang sering sekali menggoda pria-pria peternakan itu. “Sialan! Curley ini sudah cinta buta apa ya sama si istri. Masak istri tukang goda masih aja dipertahanin,” kutukku.
Sampai bagian di mana Curley memukul Lennie, tokoh dengan cacat mental itu hanya perkara kesan polos dan tak berdayanya. Terlebih aku yang berencana akan menutup bab tiga itu, akhirnya terus membaca hingga bab empat. Hingga … sekali lagi hingga … Lennie yang polos itu, berhadapan dengan kenyataan akan mimpiannya untuk memiliki lahan, runtuh seketika.
Lennie berkata, “Tapi itu bukan kebohongan. Tiap kata adalah sebuah kebenaran, kamu bisa bertanya pada George.
— Kisah Tikus dan Manusia halaman 108
“Tak hari ini, tak masa lalu, mengapa kejujuran dan kepolosan tidak benar-benar menang?” tanyaku menclos. Dan agaknya aku merasa ironi itu masih bekerja hingga hari ini.
Baca juga: Perawan Remaja yang Tak Pernah Memandang Sebuah Kota Bernama Tokyo
Niat Baik yang Tak Sejalan dengan Sistem
Ketika salah seorang kawan kuliahku memberikanku rekomendasi buku ini, karena menurutnya buku John Steinbeck ini syarat kisah kasih sayang dan persahabatan, tentu saja kusambut dengan hangat. Dan kesan itu memang terasa dalam hubungan antara Lennie dan George.
Namun ketika malam menjelang tidur, kubaca buku ini hingga akhir di halaman 169. Perasaanku berbeda. Entah mengapa kisah persahabatan dan kasih sayang itu buyar. Seolah belakang kepalaku terus mengomel tentang George yang harus mengalah pada sistem sosialnya. “Tragis,” kataku sambil menutup buku.
Lennie sangat percaya pada George. Namun George tak sepenuhnya mampu bertahan pada keyakinannya sendiri, di hadapan dunia peternakan Curley yang bergerak dengan logikanya sendiri. Ia mengalah pada arus yang membawanya.
Lennie berjuang untuk bisa memahami maksudnya. “George tidak akan mungkin begitu,” ulangnya. “George itu selalu berhati-hati. Dia tidak pernah terluka karena dia selalu berhati-hati.”
— Kisah Tikus dan Manusia halaman 111
Aku menyentuh dadaku sendiri. Kucoba merasakan detak jantungku yang tak beraturan itu. “Mengapa rasanya posisi Lennie ini sangat familiar,” ucapku. Lalu mataku bertumbuk pada dada anakku yang naik turun di sebelahku. “Niat baik kadang tak selalu menyelamatkan, ketika kau hidup di sistem yang sudah keruh. Benar kan?” tanyaku pada diri sendiri.
Baca juga: Review Animal Farm, Satir Manusia Dalam Animal Kingdom
Kutarik selimut sampai ke atas muka. Pikiranku berkelindan pada kata-kata di halaman 168. “Apakah seorang pria akan mendapat predikat maskulin, jika sudah membunuh kejujuran?” tanyaku lagi. Kunikmati gelap dan hembusan nafasku sendiri di baliknya. “Apakah anakku akan baik-baik saja?”
Tak ada jawaban dari semua pertanyaanku. Hanya desah nafas panjang di dalam selimut.
Nah, ada yang sudah baca buku Kisah Tikus dan Manusia atau karya John Steinbeck yang lain? Bisa dong berbagi di kolom komentar pendapatmu tentang kisahnya. Yang punya rekomendasi bacaan tentang buku bisa juga ikutan ngeramein kolom komentar ya, soalnya TBR-ku mulai menipis dan siap-siap cari rekomendasi bacaan buat temen di rumah.
Eits, tetep dengan bahasa yang sopan dan bijak ya, biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, Mata ne~