Penulis : Dinda Pranata
Aku tak pernah menganggap istriku luar biasa sebelum dia menjadi vegetarian.
—The vegetarian halaman 5
Detak jam di atasku terus berdetak. Berderu dengan dentuman hujan yang menabrak atap semi-asbes di atas garasi.
Kalimat pertama yang kujumpai agaknya membuatku terhibur sejenak. Seperti tubuhku yang berangsur mendingin akibat sensasi panas tak hanya karena udara kota Mataram yang terik. “Agaknya novel ini bukan novel yang serius,” sangkaku antara hujan yang terus jatuh tanpa permisi.
Lalu ketika kalimat itu terlewat dan halaman berbalik. Yang kusangkakan semuanya runtuh.
Mengkhianati Pilihan Umum Untuk Menjadi Vegetarian
Namun, mengapa istriku menjadi begini pada usia yang sudah bukan remaja puber lagi? Ia mengubah gaya makannya hanya karena sebuah mimpi ….
—The vegetarian halaman 18
“Ya, ya ….,” ujarku lirih, “di Korea Selatan, makan daging seperti sudah menjadi budaya apalagi dengan temannya. soju,” lanjutku.
Buku karya Han Kang yang ada di tanganku ini, sangat kental dengan budaya-budaya K-pop yang sering kulihat dalam drama-dramanya. Agaknya, memilih menjadi vegetarian sering menimbulkan kekhawatiran dalam keluarga dengan generasi sebelumnya.
Aku menatap ke langit-langit kamar. Seperti mencari korelasi dari beberapa hal yang pernah kulihat di sebuah tempat. “Mungkin generasi sebelumnya mengaitkan vegetarian dengan kehidupan para biksu dan bikuni. Mungkin saja.” Mataku kembali pada buku setebal 222 halaman di hadapanku.
Semakin aku membuka halaman-halaman selanjutnya dari kisah Young Hye, tokoh utama yang memilih menjadi vegetarian, aku merasa bahwa wanita itu mengalami tekanan psikis.
Ayah bilang tidak akan menggantung anjing itu di pohon lalu membakar dan memukulinya. Katanya ia pernah mendengar bahwa mati karena kelelahan berlari merupakan cara yang lebih halus…
—The vegetarian halaman 50
Deg!
Seketika potongan kisah masa lalu Young Hye membuatku bergidik. Kisah itu tidak satu lembar. Hanya sedikit. Tapi membuat imajinasiku berkelindan semakin liar. “Apa karena Young Hye melihat penyiksaan anjing yang dilakukan ayahnya, sehingga ia menjadi pendiam begini?” tanyaku menerka-nerka.
Perutku mendadak mulas. Bergolak seperti ombak yang ingin memeluk pantai. Aku menggelengkan kepala sebentar. Menghela nafas sembari kembali mendengar irama hujan yang menjadi lebih ramah. Aku membuka buku itu kembali. Tidak untuk melanjutkannya, tapi bergerak mundur. Menuju label berwarna biru tua di sebuah kalimat. Bagian ketika ia menceritakan isi mimpinya.
Darah masih mengotori bajuku. Saat tak ada yang memperhatikan aku meringnkuk dan bersembunyi di balik pohon.
—The vegetarian halaman 15
“Apa yang ia takutkan? Apakah ia merasa jijik dengan penyiksaan anjing yang dilakukan ayahnya?” aku berusaha menerka. Dan ketika aku maju kembali membaca. Mataku seperti terbelah oleh sesuatu di sebuah adegan penyiksaan lain, akibat dari mengkhianati pilihan umum menjadi seorang vegetarian.
Baca juga: Dubliners yang Menolakku di Lembar-lembarnya
“Bukan dadakan menjadi vegetarian,” kata-kataku terbenam kembali oleh hujan yang kembali ramai di tengah malam.
Tentang Darah dan Daging Wanita

Di sudut dapur, suara ibu menggema bercerita tentang ini itu. Dari sisi samping aku menatapnya cukup lama, kerutan-kerutan kulitnya yang menandai perjalanan hidup.
“Bu, biar aku aja yang memasak. Ibu istirahat dulu,” kataku. Tak tega karena pagi-pagi sekali ibu sudah bangun, memasak dan di kamar mandi tergeletak banyak ember berisi pakaian kotor.
“Nggak kok, hari ini kita masak yang simple-simple aja,” sahutnya tersenyum. Aku tahu ibu mertua sedang menghilangkan kekhawatiran di mataku.
Aku mengaduk wajan di atas tungku. Berisi daging ayam yang mengapung di dalam saus kental kemerahan.
Baca juga: Kucing Bernama Dickens: Kisah Peliharaan dan Proses Penyembuhan
Yang bisa dibilang istimewa dari wanita itu (Young Hye) saat ini hanya bahwa ia masih tidak makan daging. Pertengkaran dengan keluarganya dan sikap-sikap anehnya—termasuk bertelanjang dada—dimulai karena ia tidak mau makan daging sehingga suami adik ipar menganggap bahwa wanita itu belum kembali normal.
—The vegetarian halaman 82
“Daging ayam ini ….,” kataku sepelan gerakan asap yang menghilang, “bukan hanya milikku. Tapi milik mulut orang yang ada di sini,” lanjutku. Aku menghela nafas menikmati aroma wangi dari bumbu kemerahan di depan.
“Lantas mengapa hanya wanita yang dianggap tidak normal jika mempertontonkan dadanya? Bukankah pria juga memiliki dada yang sering dipertontonkan untuk umum.” Kata-kata pelan itu meluncur begitu saja. Meski pelan, tapi aku tahu pertanyaan itu seperti menghidupkan insting purba yang tak pernah keluar sebelumnya.
Novel The Vegetarian yang kubaca malam itu benar-benar mengusik sesuatu yang purba dari diriku. Novel yang mengambil sudut pandang dari suami Young Hye, suami kakak perempuannya dan kakak perempuannya (Young In Hye), nyatanya bukan tentang novel gaya hidup.
Saat daging bumbu kemerahan itu masuk ke dalam daging ayam di wajan. Kalimat dalam buku itu bertubrukan satu sama lain.
Baca juga: The Will to Meaning, Lebih dari Sekedar Mencapai Sesuatu
Mimpi kali ini bukan yang pertama. Sudah tak terhitung berapa kali aku memimpikan ini….. Aku tak dapat menghitung berapa kali seseorang membunuh seseorang…. (mimpi Young Hye)
—The vegetarian halaman 82
Young Hye seseorang yang harus ia lindungi, harus ia peluk dengan rasa tanggung jawab layaknya seorang ibu kepada anaknya sejak ia masih kecil, sejak ayahnya yang ringan tangan suka menampar mereka. (Suara Young In Hye)
—The vegetarian halaman 155
“Jauh lebih tragis dari Kim Ji Young,” kataku lirih pada daging-daging di atas wajan. “Darah dalam mimpi Young Hye adalah akumulasi amarah bertahun-tahun.” Kumatikan kompor. Ibu mertuaku menyerahkan mangkuk besar untuk wadah daging sambil tersenyum kembali. Benarkah senyum ibu mertuaku adalah miliknya? batinku lagi.
Dibalik Gelap Keinginan Menjadi Pohon
Kak, aku berdiri dengan tanganku, daun tumbuh dari tubuhku, akar mencuat dari tanganku … Aku menancap ke dalam tanah. Tanpa henti, tanpa henti ….
—The vegetarian halaman 152
Kalimat di halaman 152 dalam novel The Vegetarian kutandai dengan label warna hijau. Kubiarkan hujan di kota Mataram mengusik jelang tengah malamku menghabiskan lembaran yang tersisa dari novel itu.
Baca juga: Lebih Senyap dari Bisikan, tapi Lebih Keras dari Gosip Tetangga
Lewat pukul dua dini hari kuakhiri novel The Vegetarian.
In Hye menatap tajam pepohonan. Seakan-akan tengah menunggu jawaban. Tatapannya gelap dan pasti, seperti sedang menyangkal sesuatu.
—The vegetarian halaman 221
Aku menutup buku itu sambil menutup mataku. Dadaku terasa membatu. Berat.
Kuberanjak dari ranjang, memasukkan buku itu dalam koper. Aku mengambil buku catatan berwarna hijau daun dalam tas ransel. Penanya bergesekan dengan kertas polos tanpa garis itu.
Hanya ingin menulis: dibalik keinginan menjadi pohon, seringkali ada satu sangkal demi melindungi orang lain.
Baca juga: Review Buku The Man Who Loved Books Too Much
Aku meletakkan buku catatan dan penanya. Sementara, hujan masih saja menggoyur tanpa ampun di luar pagar.
Closing by Senja Hari
Apa ada yang sudang baca novel The Vegetarian milik Han Kang? Sekilas buku ini tampak ‘tak biasa’ di bagian awal tapi semakin dibaca akan ada banyak sekali menganggkat isu-isu sosial bertema feminis dan stigma sosial. Novelnya tak tebal, tapi lumayan bikin bergidik.
Boleh dong bagi pengalaman membaca buku novel The Vegetarian atau buku-buku lain yang pernah bikin kalian bergidik ngeri di kolom komentar. Inget ya, komen dengan bahasa yang sopan. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~