Home / Jendela

Mengejar Meja Kerja yang Kosong

Senjahari.com - 25/02/2026

Ilustrasi Dunia Kerja

Penulis : Dinda Pranata

“Aku pengen mengundurkan diri.”

Suara Nana terdengar lemas. Senja belum tiba, tapi kedai kopi “Titik Balik” sudah ramai. Mendengar suara Nana yang begitu putus asa, membuatku tak bisa menunggu untuk bertanya kenapa.

“Bukan passion-ku mengatur jadwal para ekspatriat,” katanya. Ia masih menatap layar ponselnya yang menghitam. Entah apa yang ia perhatikan. “Kau tahu aku lulusan akuntansi, tapi harus repot mengurus visa tinggal para ekspatriat. Pusing aku. Kayak nggak ada gunanya belajar laporan keuangan empat tahun,” keluhnya.

Aku tahu perasaan itu, tapi tak ingin banyak bicara. Keresahaan Nana dan mungkin jutaan lulusan universitas yang lain, seperti baru saja terjadi. Saat aku menekan tombol apply di sebuah tawaran kerja.

Meja Kerja yang Berharap Diisi

Demi meyakinkan mereka (orang tua), yang penting perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan besar.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 3

Aku baru saja menutup buku Toko Kobayashi tanggal 16 Februari lalu. Namun fenomena-fenomena yang dialami oleh Oomori Rika memang banyak terjadi di sekelilingku. Mahasiswa yang baru saja lulus, dihadapkan pada pilihan bekerja sesuai jurusan atau mengikuti realita dan berakhir sebagai pekerja di luar bidang keilmuan. Atau yang tragis, menganggur.

Aku ingat apa yang kukatakan pada Nana saat itu. “Kalau kamu mengundurkan diri, apa sudah ada pekerjaan lain?” tanyaku hati-hati. Namun ia hanya menggeleng. Katanya belum ada panggilan kerja lain.

“Aku pengen kerja jadi akuntan. Cuma kau tahu kan, jadi akuntan pun banyak sekali persyaratannya.”

Aku mengangguk sambil mengambil nafas. “Kalau kamu ingin jadi akuntan, kenapa nggak coba freelance saja atau buka jasa konsultan akuntan,” tawarku.

“Ribet. Pekerjaan yang sekarang saja, menuntutku lembur hampir tiap hari kerja. Senin sampai Jum’at,” gerutunya. Membanting pelan ponselnya di meja. Frustasi. “Belum lagi apa kata orang tuaku tentang aku yang memilih passion daripada memilih bekerja setelah kuliah,” tambahnya.

Baca juga: Yang Dilihat Postingan, Yang Dihakimi Kehidupan

“Pikirkan dulu baik-baik, Na,” jawabku pelan. Kusentuh pergelangan tangannya. Berharap perempuan tiga puluh lima tahun itu tenang. “Agustus 2025 lalu, 4,85 persen dari angkatan kerja menjadi pengangguran terbuka. Angka itu mungkin kecil bagi laporan statistik, tapi sangat besar di meja makan keluarga.” Nana menatapku. Mencari pernyataan lanjutan yang mendukung alasan perkataanku.

“Meski aku tahu kenyataan itu tak membuatmu merasa lebih baik,” imbuhku. Aku menatapnya sambil tersenyum simpul, lalu mengalihkan pandanganku pada seorang pramusaji perempuan yang membawa minuman dan cemilan kami.

Apakah Dunia Kerja Makin Tak Ideal?

Senja akhirnya benar-benar tiba. Suara pengeras dari masjid tak jauh dari kedai kopi memberitahukan waktu berbuka puasa. Nana tak lagi berbicara. Ia menangkupkan tangan membaca doa berbuka seperti yang diajarkan orang tuanya. Sementara itu, ponselnya tergeletak di meja. Seperti ikut lelah bersama pemiliknya.

Setelah menyesap thai tea-nya, “apakah dunia kerja sudah tak ideal ya, Din?” tanyanya padaku. Aku menggeleng.

“Aku ingat saat kuliah dulu, dosen sering mewanti-wanti untuk rajin datang perkuliahan. Katanya jika kalian kompeten, maka akan banyak perusahaan yang menawar untuk kompetensimu. Ia mulai cerita. “Tapi setelah lulus, rasanya anggapan itu terasa patah, Din. Nggak nyata. Apalagi kalau kau lihat persaingan di bidangku untuk menjadi akuntan pun sangat ketat.”

Baca juga: Pintu Everlasting dan Antrian Selembar Administrasi

Aku tersenyum getir. Mengaduk-aduk es teh lemonku, sehingga esnya ikut berkeringat di luar gelas. “Ironi, bukan?” gumamku. Aku menyesap teh lemon dari sedotan.

“Terlebih banyak perusahaan mencari karyawan dengan spesifikasi serba bisa. Akuntan yang mahir desain, staf administrasi yang fasih bahasa asing, bahkan lulusan sastra yang dituntut memahami pemasaran digital,” Ujar Nana lagi.

Kali ini gantian aku yang menatapnya. Membaca keresahan di dahinya yang berkerut. Apakah ini berarti dunia kerja makin tak ideal? Atau memang sejak awal kami tak pernah dirancang untuk berseberangan dengan idealitas dunia kerja?

Aku mengenal Nana. Aku tahu dia mampu, hanya saja saat ini ia tak mengenali dirinya sendiri, saat duduk di meja kerjanya.

Agaknya yang berubah bukan hanya dunia kerja. Gaya industri, pola hidup, dan cara kita memandang realita ikut bergeser. Perlahan jargon “temukan passion-mu” kini harus siap bernegosiasi dihadapan realitas “temukan berapa besar penghasilanmu”.

Baca juga: Beli Mobil Tapi Garasi Nihil

Di antara keduanya, identitas individu di dunia kerja sering kali menjadi korban yang tak berteriak.

Mereset Kembali ‘Meja Kerja’

Percakapanku bersama Nana memang tak selalu menemukan solusi. Tapi, Nana selalu bilang di akhir pertemuan, “aku senang bisa mengobrol denganmu, Din.” Rupanya, kata itu saja cukup buatku merasa lega. Setidaknya Nana tidak pulang dengan hampa atau lebih frustasi.

Malam-malam menjelang pukul tujuh. Derai hujan memukul genting. Sementara angin terus mengamuk di depan rumah. Amukan alam di depan rumah, agaknya membuatku berhenti sejenak di depan rak jati. Menatap buku Tetsuya Kawakami dari sisi samping.

Entah itu tentang pekerjaan, perusahaan, maupun orang-orang di sekitar, carilah sesuatu yang bisa membuatmu jatuh cinta, satu demi satu.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 64

Kata-kata Yumiko-san itu agaknya menjadi kutipan favorit. Karena, itu salah satu kutipan yang menurutku memakuku cukup dalam. “Andai kutemukan kutipan ini di tahun 2013. Masa ketika aku merasa kosong di awal-awal pekerjaanku menjadi seorang pemandu museum.” Aku berandai-andai. Lalu seulas senyum geli mengiringi andaianku itu.

Baca juga: Tak Harus Sama Tinggi untuk Disebut Pohon

“Tapi dari seorang pemandu itu, agaknya aku mereset kembali meja kerjaku pada pekerjaan selanjutnya.”

Angin masih bertiup, tapi tak semarah sebelumnya.

Closing by Senja Hari

Gimana menurut kalian gengs? Fenomena lulusan yang bekerja di luar jurusan rasanya sudah banyak terjadi dan tak sedikit juga yang mengeluhkan bahwa itu bukan passion-nya. Sebagian dari mereka yang bekerja di ranah bukan passion-nya ada yang bertahan karena tuntuhan hidup, sebagian lagi justru menemukan passion baru atau bahkan antara mereka yang bertahan demi tuntuhan hidup masih bisa mengerjakan passion-nya. Boleh dong, kalian berbagi insight posisi kalian dan suka-dukanya di posisi itu?

Eits, tetap ya dengan bahasa yang sopan dan bijak. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih!

Have a nice day!

Jya, mata ne~

Tinggalkan Balasan ke NewsArt Story Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

Yuni Bint Saniro

Ketika masuk dunia kerja, terkadang kita memang dihadapkan pada tugas dan tanggung jawab yang sebenarnya bukan spesialisasi kita.

Tapi, itu lebih baik ketimbang harus menganggur karena nggak mau dengan perbedaan itu.

Toh, skill bisa dipelajari kan ya.

Fenomena seperti itu rasanya memang sudah terjadi sejak dulu mbaaa…aku saja dari 3x tempat kerja semuanya tidak berhubungan dengan background pendidikan kua heheh awalnya bingung namun lama-lama saya menikmati dan serasa belajar hal baru,,,memang yang bekerja sesuai dengan background pemdidikan tetap ada dan banyak,,tinggal bagaimana kita menjalani dan beradaptasi dengan bidang yang kita geluti sekarang gt sie ya menurutku hehe…dan dimanapun kita bekerja tidak ada yang mudah pasti semua ada tantangannya sendiri

Daku Kak Din, jurusan kuliahnya apa – SMA jurusannya apa – eh kerjanya malah ke mana² hihi.

Jadinya kadang ngerasa unik juga sama hidup, soalnya berapa uniknya daku kok jadi berkelana yang nggak sesuai jurusan.

Yang penting sih pas jurusan buat naik transum adalah sesuai jurusan hehe

Bersyukurlah orang-orang yang bekerja sesuai passion dan latar pendidikan yang telah ditempuh bertahun-tahun karena memang pada faktanya masih banyak yang bekerja karena harus bertahan hidup tanpa memikirkan apakah pekerjaannya cocok atau tidak.

Dulu saya juga kerja di bidang listrik. Sesuatu yang bukan saya sama sekali. Mencoba bertahan bertahun-tahun, namun akhirnya tumbang juga dan alhamdulillah sekarang serasa menemukan hidup kembali ketika bisa bekerja di lingkungan pendidikan

Waduh mbak, ini tulisan kok berasa menamparku ya? Hahahaha. Aku tuh sekolah jurusan Multimedia – Kuliahnya Jurusan Manajemen (Karena Terpaksa) – Dan sekarang kerjanya? Di Toko Daging! Hahahaha.
Sempet kepikiran pengen career switch si, tapi entahlah kapan bisa. Soalnya persaingan kerja disini sulit bangetttt.. Ya Allah, bener-bener dah. Mana tuh janji 19 juta lapangan kerja. HOAKS -_-

Tapi kan ilmu Kang Fajar alhamdulillah bisa banget dipake buat ngembangin blog nya. Buktinya tampilan blog fajarwalker ciamik di tangan dingin si empunya. Keren.

Eh, btw harga daging naik nih lebaran, alhamdulillah berkah untuk Kang Daging.. hehe dan insyaAllah kita pun bersyukur ada ayam atau rendang di idulfitri

Mbak itu fotonya bisa jadi kek lukisan diedit pakai aplikasi apa? *malah galfok ma poto haha.
Kayaknya fenomena bekerja tidak sesuai bidang yang dipelajarinya banyak ya mbak. Maka beruntunglah yang bidang kerjanya memang sesuai jurusan atau bahkan passionnya juga 😀
Meski demikian emang di era sekarang tu ada pekerjaannya aja keknya udah bersyukur banget gitu. Apalagi buat yang udah usia cantik, 30an ke atas, kalau masih ada pekerjaan selama itu nggak menentang prinsip (misal bosnya melarang ibadah) kyknya pertahanin aja. Mengenai perasaan bukan passionnya mungkin bisa sekaligus disambi dengan berwirausaha di bidang yang diinginkan. Kek misalnya akuntan mungkin buka jasa konsultasi pajak kali ya.
Tapi kalau emang udah jenuh banget dan mengusi prinsip serta bikin mental down, ya sudah sih resign saja, asal dengan persiapan matang hehe 😀

Tulisan ini menyentuh sekali! Dilema antara passion dan tuntutan hidup di dunia kerja memang nyata dirasakan banyak lulusan muda. Fenomena bekerja di luar bidang studi bukan hal baru, namun tetap meninggalkan kegelisahan yang sulit diungkapkan. Semoga lebih banyak orang berani “mereset meja kerjanya” dan menemukan makna baru dalam perjalanan karier mereka.

Seperti passionku yang terjadi sekarang. Apalagi di dunia sekarang ini pasti susah untuk dapatkan passion yang kita mau. Tapi apapun kerjaan tetap dikerjakan meskipun beda passion.

Bambang Irwanto

Fenomena ini memang sudah lama terjadi Mbak.seauai pengamatan saya, paling hanya 25 % yang bekerja sesuai ijazahnya. Lainnya itu kuliahnya dulu apa, kerja apa. Dan sebenarnya ini sudah terjadi saat masuk kuliah juga. Banyak yang kuliah dulunya asal ambil jurusan atau istilah dulu nembak jurusan. Yang penting kuliah. Apalagi kalau ternyata sudah lulus di PTN favorit. Jadi intinya, kembali ke hati saja. Kalau hati sudah nyaman, walau bekerja tak sesuai jurusan, tetap oke saja. Apalagi fasilitas dan gaji sudah mendukung. Nantinya bisa sambil belajar dengan pekerjaannya agar semakin nyaman dan menguasai lagi.

Memang dunia kerja itu cukup keras Mba, saya pun mengalami dulu bekerja dari jam 6 pagi kadang kalau lembur bisa sampai jam 9 malam. Mungkin Nana sedang burnout di pekerjaaannya. Seetelah saya resign, saya baru menyadari bertahun-tahun setelahnya coba aja dulu lebih menerima hatinya mungkin sekarang masih bekerja dan punya penghasilan sendiri steelah menikah. Harus dipertimbangkan baik-baik kalau mau resign, belum tentu setelah resign keadaaan jadi lebih baik.

Menurutku bekerja di luar jurusan kuliah itu nggak apa-apa. Bekerja di luar passion pun boleh saja. Karena sejatinya apa yang kita suka belum tentu baik, belum tentu jalan rezeki kita, dan sebaliknya, sesuatu yang tidak kita sukai juga belum tentu buruk. Bisa jadi itu jalannya. Nikmati saja alur kehidupan.

(Ngomong apa sih? Hahahaha maafkan…)

Heni Hikmayani Fauzia

Mencafi pekerjaan di masa sekarang itu susah lho. Kalau menurut saya jika ternyata bekerja di luar jurusan saat dia kuliah ya gpp, hitung² cari pengalaman bafu diluar hal yang dipelajari selama kuliah. Kan bagus buat pengalaman. Sambil mencoba apply² lagi pekerjaan sesuai jurusan. Semoga berjodoh, kalau pun tidak yaa nikmati jalan hidup dan alur takdir yang sudah ditetapkan pada kita. Itu jauh lebih menenangkan.

Aku salah satu orang yang mengalami selalu salah jurusan saat bekerja, sejak awal bahkan. Jadi angan ku menempati kursi dan posisi IT sudah punah. Cuma, memang idealis ingin mengejar passion tetapi realita nya sekarang ini lowongan pekerjaan sedikit dan jarang serta kualifikasi nya gila-gilaan seperti yang mbak sebutkan. Masa administrasi mesti memahami digital marketing, dkk. Belum lagi tantangan antar rekan kerja yang seringkali saingannya kurang sehat hehehe. Begitulah, mesti cari yang nyaman, balance, meski kayaknya jarang juga. Pasti ada kurangnya, cuma beberapa hilang nikmati saja.

Bersyukur teman mbak menemukan damai dan tenang setelah ngobrol sama mbak.

Aaakk memgalirr bangett nih postingannya.
selalu sukaaa dgn gaya nulis ala Dinda.

no wonder sering jadi Artikel utama d Kompasianaaa

Banyak, mbak
Seperti saya sendiri masih ingat waktu masih jadi dosen
Pekerjaan dosen senior saya yang notabene latar belakang pendidikannya beda diserahkan ke saya karena bentuk perpeloncoan di dunia kerja

Sekarang yang penting dapat pekerjaan ya Alhamdulillah kalau akhirnya kita bisa beradaptasi dan mencintai pekerjaan itu.. bisa bekerja itu kemewahan di masa seperti ini.. untuk passion bisa dengan bekerja freelance saja..

Bacanya tuh ngena banget sama pengalamanku dulu yang lagi berjuang cari kerja. Tulisanya mba ringan tapi relate dan penuh insight, bikin kita ngerasa nggak sendirian dalam prosesnya…. Meja kerja yang kosong itu kadang emang bikin deg-degan, tapi baca ini jadi semangat lagi.

Dian Restu Agustina

Kebetulan aku (dulu) dan suamiku angkatan jadul jadi ya bekerja sesuai latar pendidikan kami…
Jadi saat tahu makin ke sini fenomena ini marak. Tapi ini menegaskan bahwa ijazah tidak selalu menjamin kesesuaian karier, dan fleksibilitas skill (bukan sekadar jurusan) menjadi kunci di dunia kerja saat ini.

Tukang Jalan Jajan

Membaca kisah Nana rasanya seperti bercermin. Memang ada ironi besar ketika idealisme bangku kuliah berbenturan dengan realita “meja kerja” yang seringkali menuntut kita jadi superhuman yang serba bisa.
Saya pun sempat di titik itu, bekerja jauh dari latar belakang pendidikan demi dapur tetap ngebul. Tapi benar kata kutipan Yumiko-san, kuncinya mungkin bukan di mana kita duduk, tapi bagaimana kita menemukan satu hal kecil untuk dicintai setiap harinya. Semangat buat semua yang sedang mereset meja kerjanya!

Di dunia kerja memang kita bisa ketemu dengan gerbagai background pendidikan. Bahkan mungkin gak nyambung dengan pekerjaannya. Kalau saya, tetap mengingatkan anak untuk tekun. Namanya kerja mungkin ada capeknya. Tapi, jangan lekas ambil kesimpulan atau bahkan resign mendadak hanya karena merasa capek. Pikir panjang dulu.

Selepas lulus kuliah, aku baru tersadar kalau ternyata dunia kerja itu “kejam”. Kalimat dari dosen yang menuntut untuk rajin masuk kelas demi mengejar kompetensi, pada akhirnya memang buat patah hati. Kenyataamnya, setelah mencicipi rasanya bekerja, ada perjuangan lain yang nggak pernah dibagikan pengalamannya di ruang kelas. Bisa jadi juga karena para dosen memang bergelut sebagai akademisi, bukan praktisi. Makanya pengetahuan dan pemahaman tentang dunia kerja belum tentu sefrekuensi dengan yang akhirnya dialami oleh para mahasiswanya.

Dan ya … di masa sekarang, rasanya bisa menghasilkan pemasukan bulanan dari pekerjaan yang dijalani walaupun lari dari jurusan yang dipelajari, berat dirasa, tapi nggak apa-apa juga. Bertahan dulu. Tapi sambil berjuang menemukan peluang yang sesuai keinginan hati.

Selepas lulus kuliah, aku baru tersadar kalau ternyata dunia kerja itu “kejam”. Kalimat dari dosen yang menuntut untuk rajin masuk kelas demi mengejar kompetensi, pada akhirnya memang buat patah hati. Kenyataamnya, setelah mencicipi rasanya bekerja, ada perjuangan lain yang nggak pernah dibagikan pengalamannya di ruang kelas. Bisa jadi juga karena para dosen memang bergelut sebagai akademisi, bukan praktisi. Makanya pengetahuan dan pemahaman tentang dunia kerja belum tentu sefrekuensi dengan yang akhirnya dialami oleh para mahasiswanya.

Dan ya … di masa sekarang, rasanya bisa menghasilkan pemasukan bulanan dari pekerjaan yang dijalani walaupun lari dari jurusan yang dipelajari, berat dirasa, tapi nggak apa-apa juga. Bertahan dulu. Tapi sambil berjuang menemukan peluang yang sesuai keinginan hati. Semoga semangat terus, pejuang pemasukan bulanan.

Iyaaa mbak, pas udah kerja, jadi dewasa, ternyata huwaaahh, tahu rasanya nyari uang gimana susahnya. Berdarah2 deh nyarinya tapi yang datang kadang seuprit belum lagi dicekek pemerintah lewat pajak2nya heuheu.
Bener sekali kalau saat ini masih ada keberuntungan bekerja, apalagi rutin menerika gaji bulanan, sebisa mungkin bertahan dulu, sembari mengasah skill yang diinginkan. Siapa tahu nanti saat waktunya siap melepas, sudah menanti hal2 lain sesuai passion ya. Apalagi kalau keduanya bisa jalan dengan baik, makin manteb tuu.

Saking banyaknya pengangguran yang jurusan apa kerja di bidang apa juga sekarang udah bukan hal aneh lagi
Di sekolah di kampung saja, ini banyak guru lulusan pmp dan bahasa Indonesia tapi keseharian ngajar matematika dan serumpun lainnya. Mau bagaimana lagi, ga ada guru sementara kegiatan belajar mengajar tetap harus jalan kan?

Muhammad Rifqi Saifudin

Banyak memang orang yang bekerja tidak sesuai passion atau jurusan kuliah yang diambil, menurutku semuanya tergantung gimana kita ngelihatnya sih. Ini bisa jadi hal baik karena kita bisa jadi tau banyak hal, tapi di sisi lain kembali lagi, apa yang sebenarnya kita kejar?

Agustina Purwantini

Sejak dahulu kala fenomena orang bekerja di luar jurussan pendidikannya. Tampaknya gini. Termasuk pada saya. Tak jadi soal bekerja di luar jurusan asalkan gajinya oke dan kita memang bisa mengerjakannya.

Bagian tentang “meja kerja yang kosong” itu terasa simbolis sekali. Kadang yang kita kejar bukan cuma posisi atau jabatan, tapi validasi kalau kita benar-benar dibutuhkan. Aku pernah ada di fase merasa lelah mengejar sesuatu yang ternyata bukan tempatku. Jadi kalimat-kalimatnya terasa dekat

Suka suka mengejar passion karena sedari awal lulus kuliah nggak pernah mengalami kerja sesuai jurusan. Tetapi lama kelamaan berdamai dengan keadaan dan mendalami hal-hal lain yang dirasa lebih relevan. Menantang memang, belum lagi harus berhadapan sama drama kantor, rekan kantor aduh hehehe. Kadang hal-hal yang begitu suka ngalihkan fokus dan sesekali bikin nggak betah juga.

But, tahun ini aku nganggur udah dua bulan lebih. Aku merasa rindu sama meja kerja hehehe. Meski jarang ditemukan pekerjaan ideal, tetapi bekerja full timer jauh lebih baik ketimbang saat ini terseok-seok menjadi freelance.

Aku suka sekali kutipan Entah itu tentang pekerjaan, perusahaan, maupun orang-orang di sekitar, carilah sesuatu yang bisa membuatmu jatuh cinta, satu demi satu.
— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 64. Sangat menarik dan bikin merenung.

Saya sangat suka dengan gaya penceritaan yang mengalir dan penggunaan kutipan buku yang pas. Artikel ini memberikan perspektif baru tentang cara kita memandang meja kerja setiap harinya.

Aku dulu juga pas kerja di HSBC bank, ga sesuailah Ama background kuliah 🤣. Tapi gimana , dapat panggilan di sana, dan gajinya gede 🤭😄. Realistis aja sih kalau aku. Walaupun itu bukan kerja yg sesuai passionku, tp kalau bayarannya bisa bikin aku menikmati passion di luar jam kerja, kenapa ga. Aku sendiri jatuh cinta dengan traveling. Bisa dibilang itu passion yg butuh duit ga sedikit. Makanya aku ga mau idealis. Cari kerja sesuai background kuliah, ga dapat2, malah dpt yg lain, dengan gaji di atas UMR, ya masa aku nolak 🤭😄. Toh dengan gaji yg didapat, aku bisa enjoy traveling di saat cuti kan.

Jadi, saranku buat yg udah dpt kerja, tp ga sesuai passion atau background, udahlaaah, tahanin aja. Emang rezeki udah di sana. Di luar banyak bgt pengangguran yg pasti dengan senang hati mau mengisi jabatan kita. Kecuali udh dpt ganti kerja yg lebih baik, baru deh mikirin resign 😄

Menurut saya, selama gaji, fasilitas, dan lingkungannya nyaman, masih bisa dipertahankan sembari coba kejar passion. Passion dijadikan hobi saja. Karena orang dewasa punya kebutuhan. Selain itu, jika passion dijadikan pekerjaan, ketika penat, agak sulit mencari pelarian buat healing.

32 Responses