Home / Pojokan

Orang Aneh yang Disalahpahami Dunia

Senjahari.com - 23/03/2026

novel orang aneh

Penulis : Dinda Pranata

Ibu meninggal dunia hari ini. Atau mungkin juga kemarin; aku tidak begitu (tahu) pasti

— Orang Aneh halaman 3

Aku mengerutkan kening membaca halaman tiga yang jadi pembuka di bab pertama itu. “Pembukanya saja aneh, apalagi isinya ya,” ucapku sambil terus membaca tanpa tahu pikiranku sudah kemana-mana.

Siang di alun-alun Kota Malang cukup berangin. Pohon cemara di atasku pucuknya sudah bergoyang tak tentu arah. Aku mendongak sejenak, memastikan tidak ada buah cemara atau burung yang bisa mengotori novel Orang Aneh milik Albert Camus, di pangkuanku.

“Kukira judul Orang Aneh ini, bisa membuatku ikutan aneh.” Kugelengkan kepala. Dan rasanya saat halaman itu terus bergulir, aku mengalami semacam distorsi arah. Tentang aku dan sebuah rasa … keterasingan.

Siapa yang Menjadi Orang Aneh?

Hal itu menimbulkan kesadaran padaku, seakan-akan aku telah melampaui Minggu yang lain, bahwa ibu hari ini telah selesai dikebumikan dan besok aku kembali bekerja seperti biasa.

— Orang Aneh halaman 32

“WHAT!”

Aku berteriak. Sadar akan suaraku yang bahkan mengagetkan burung dara sedang minum, aku tersenyum sungkan ke beberapa pengunjung. Lalu setelahnya, kusimak lagi kalimat terakhir yang mengejutkan itu.

“Memang ya Meursault (si tokoh utama) ini orang aneh,” gerutuku sembari menggeleng. “Bagaimana bisa dia tidak merasakan duka saat sang ibu meninggal. Apa dia memang tidak sayang pada ibunya?” Lagi-lagi aku berasumsi liar.

Brak brak brak!

Suara kepak sayap burung dara membuatku menggeleng lagi. “Tidak!” seruku lirih, “aku harus baca buku ini sampai habis,” tekadku saat itu. Meski di puluhan lembar pertama, niat menyudahi buku itu ada di level tertinggi.

Baca juga: Asus AiO V400 dan Panggilan Liar Di Ruang Otopsi

“Aku harus fokus. Jangan ikut-ikutan jadi orang aneh,” kataku lagi. Aku membaca lagi, meski lagi-lagi pikiranku berlari ke mana-mana.

Ketika kukatakan bahwa aku tidaklah terlalu bersedih hati cepat-cepat dan dalam sikap kikuk ia menambahkan bahwa beberapa orang teman yang ditemuinya mengatakan tentang sikapku yang tidak terpuji dengan mengirimkan ibuku ke Wisma Orang-orang Jompo.

— Orang Aneh halaman 62

“Nah kan!” seruku lagi kali ini lebih lirih. Aku mengetuk tepat di kalimat yang kubaca. Setengah mendengus, aku kembali fokus. “Ada ya manusia yang se-datar itu.” Buku yang setidaknya memiliki dua bagian cerita ini sangat absurd. “Tapi …,” ucapku ragu-ragu, “siapa sebenarnya yang aneh di buku ini? Benarkah Meursault ataukah … aku yang membaca?”

Aku memperhatikan anak-anak yang berlarian di depanku. Saat itu aku masih yakin bahwa orang aneh dalam cerita ini hanyalah Meursault.

Orang Aneh atau Kita yang Menuntut Lewat Lensa yang Berbeda?

Ia melanjutkan pertanyaannya dengan menanyakan apakah aku merasa sedih pada “peristiwa menyedihkan” (kematian sang ibu) itu.

— Orang Aneh halaman 87

Ketika masuk pada akhir bagian pertama, di mana Meursault (si tokoh) mengalami hal yang tidak terduga (ia secara tidak sengaja membunuh seseorang). Ia harus menjalani serangkaian pemeriksaan dari orang-orang yang tak mengenalnya. Dan di halaman 87 itu awal babak kedua dari buku orang aneh, pertanyaan dari pengacara yang akan membelanya, membuat perasaanku bergeser.

“Hmmm …,” aku berdeham, “sepertinya ada yang salah di sini.”

Semakin lembaran-lembaran itu kubuka, aku tak lagi ingin buru-buru menutupnya justru di bagian kedua dari buku itu. Absurditas tokoh Meursault seolah berputar seratus delapan puluh derajat. Entah mengapa di bagian kedua itu, justru aku merasa terganggu dengan pandanganku sendiri.

Aku tersenyum getir.

Tapi sebelum kata-kata meluncur dari mulutku, ia mendongak ke depan dan bertanya apakah aku percaya pada Tuhan. Ketika kujawab “Tidak”, ia (jaksa penuntut umum) dengan marah menghempaskan dirinya ke kursi.

— Orang Aneh halaman 94

Kalimat yang tercetak di halaman sembilan puluh empat itu membuat dadaku tersentak. Ingin marah. Begitu menamparku dan menempatkanku pada kursi si jaksa penuntut umum seketika. Aku kembali membaca, tapi pikiranku sibuk membenarkan posisi diriku. “Gila!” ucapku.

Lantas kalimat lain membuatku berhenti berpikir.

Kau sadar, kau sadar! Dan sekarang apakah kau percaya pada-Nya dan mau mempercayakan kebenaranmu pada-Nya?

— Orang Aneh halaman 94

“Ini bukan pengadilan kasus pembunuhan yang ia lakukan.” Aku mengernyit. “Ini pengadilan di mana orang menuntut seseorang untuk memiliki pandangan sama. Dan …,” aku berhenti beberapa detik, “aku baru saja melakukannya,” kataku pada akhirnya.

Suara air mancur muncul di siang itu, seperti suara backsound musik yang tumpang tindih dengan pengakuanku.

Baca juga: The Path Made Clear: Optimisme sang Visioner Oprah Winfrey

Bisa jadi Kita Pun Menjadi Meursault

Aku menutup buku itu akhir Januari lalu. Butuh waktu sepuluh hari untuk buku yang tipisnya hanya 168 halaman. Kisah Meursault yang kehilangan sang Ibu tapi begitu datar tanpa ekspresi kesedihan yang dianggap tak normal oleh kebanyakan. Lalu setelahnya, ia tanpa sadar terlibat pembunuhan tanpa sengaja dan membuatnya diadili. Dan di pengadilan itu, ia tak hanya diadili untuk kasusnya tapi juga penghakiman atas sikapnya yang ‘berbeda’ dari kebanyakan orang ‘normal’.

Lima hari setelah halaman terakhir kututup, aku mencoba membaca kembali dua puluh lembar yang tersisa. Sementara hujan dan angin mengamuk di luar, kubuka buku itu dengan penuh kesiapan. Sekali lagi pikiranku berlarian ke sana kemari.

… di samping aku sendiri tergoda untuk turut berbicara tentang diriku. Tapi, pengacaraku telah menasihati aku untuk tidak berbuat begitu. “Kau tidak akan lebih baik menyelesaikan perkaramu dengan berbicara,” sekali ia memperingati aku.

— Orang Aneh halaman 136

“Tentu saja, Meursault terasing dengan dirinya sendiri,” kataku pada akhirnya, “ketika ia tidak diperkenankan menjadi dirinya sendiri dan bersikap jujur dengan dirinya.”

Ranting pohon mengetuk atap genting, seperti tamu yang meminta diizinkan masuk. Begitu pun dengan sebagian diriku yang membaca beberapa halaman terakhir. “Memang benar, kita punya banyak wajah. Tapi apakah lantas memiliki nilai yang berbeda itu sebuah dosa?” tanyaku pada hujan yang tak kunjung reda.

Baca juga: Review When Marnie Was There, Benang Merah Anak Kesepian

Dan sisa harapan yang ada adalah semoga pada pelaksanaan hukuman matiku akan banyak orang yang menyaksikannya. Dan mereka akan memberikan penghormatan padaku berapa teriakan-teriakan kutukan dan cacian.

— Orang Aneh halaman 168

“Barangkali aku dan banyak manusia di luar bisa saja menjadi Meursault ini.” Aku menutup buku karya Albert Camus itu. Memandangi sampulnya yang sama absurb-nya. “Dan ketika putus asa dengan keadaan, maka pikiran pun menjadi melepaskan keterikatan itu. Mungkin saja.”

Brak! Bunyi ranting terjatuh di halaman. Lalu setelahnya gelap gulita. Mati lampu.

Closing by Senja Hari

Albert Camus adalah sastrawan yang karyanya cukup fenomenal tentang masalah eksistensial. Salah satunya yang terkenal adalah novel Orang Aneh ini. Adakah dari kalian yang sudah pernah baca salah satu buku dari Albert Camus sendiri? atau bahkan novel Orang Aneh ini sudah kalian baca? Dan gimana menurut kalian nih gengs tentang novel Orang Aneh ini dan novel-novel Albert Camus yang sedang kalian baca?

Kalian bisa berbagi ya di kolom komentar. Tapi ingat … tetap dengan bahasa yang sopan ya, semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.

Baca juga: Lagu di Radio dalam Perpustakaan Tengah Malam

Have a nice day!

Jya, mata ne~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment