Penulis : Dinda Pranata
Jam di atas kepalaku berdetak. Tik tak tik tak! Baru saja jam panjang mengarah ke angka dua dan jam pendek di angka delapan. 8.20 malam.
Hujan belum berhenti sejak sore. Awet. Dan, tentu saja menggagalkan rencana kami ke pasar malam. Rencana untuk duduk di pojok taman berumput di pasar, sambil menemani si bocah main ketapel terbang. Akhirnya, aku dan suami berakhir di rumah duduk di ruang keluarga dengan masing-masing kegiatan kami.
Tak tak tak! Aku mengetuk buku Doctor Zhivago di atas pangkuanku. Di halaman itu aku mengambil note kecil. Mencatat sebuah kata yang akan kuingat cukup lama.
Apa Itu Menjadi Manusia?
Yury tidak bisa menerima akibat mengerikan yang disebabkan oleh peperangan modern.
Doctor Zhivago halaman 38.
Kutipan kata itu tidak muncul ketika kertas-kertas di halaman pertama terbaca. Seperti kebiasaan yang kulakukan ketika membaca, selalu ada asumsi yang menggulung pikiranku ketika melihat sampulnya. “Ah, ini pasti buku romantis,” kataku saat melihat sampul. “Paling kisah kaum bangsawan atau kisah cinta terlarang lagi,” kataku di lain waktu sambil membuka sampul plastiknya.
Baca juga: Mana yang Lebih Sulit, Obsesi Cinta atau Obat Kolera?
Namun, di malam ketika rencana gagal, ternyata juga menggagalkan asumsi-asumsi di kepala. Ada lapisan yang harus aku baca dalam setiap baris kalimatnya. Lapisan kulit terluar memang kisah cinta tak terkatakan dari Yury Zhivago dengan Lara Antipova dan juga cinta berlandaskan persahabatan antara Yury dengan Tonya Gromeko.
Nyatanya di lapisan terdalam dari Doctor Zhivago ada di lembar-lembar setelah halaman 38 itu. Semakin kubuka, alisku bertaut. Kubuka lagi dadaku mengencang. Dan tanpa sadar bergumam, “apa itu menjadi manusia?”
Manusia di Balik Ideologi Besar
Buku dari Boris Pasternak, penulis asal Rusia, berlatar perang saudara membuat dadaku terasa panas. Tebalnya tidak lebih tebal dari buku dua belas pasang mata yang latar peperangan, hanya 130 halaman saja. Buku ini lebih menuntut rasio dan spiritualku saling mendebat. Kadang saling menyalahkan.
“apa gunanya ideologi besar?” tanya sisi kananku, “jika manusia dalam ideologi itu saling meniadakan. Saling menggilas, lalu memusnahkan.”
Perkataan itu muncul, karena kalimat halaman itu begitu berisik.
Baca juga: Perawan Remaja yang Tak Pernah Memandang Sebuah Kota Bernama Tokyo
Aku ingin hidup apa adanya. Aku ingin bekerja keras dan menjadi perubahan yang besar di negeri kita.
Doctor Zhivago halaman 47
Selanjutnya sisi kiri tidak mau kalah. Mendebat sisi kananku yang katanya terlalu sentimentil. “Apa kau pikir manusia itu bisa berbagi? Lihatlah! Bagaimana dengan petani miskin yang bekerja sepanjang hidupnya tak pernah dapat sepetak tanah hasil kerjanya. Jika kau memikirkan masa depan lingkunganmu maka kau juga ikut memikirkan umat manusia. Ini demi keadilan.” debatnya. Kemudian dengan keras membaca kalimat ini, seperti sebuah ayat-ayat suci.
Orang-orang yang bergabung dengan mereka berasal dari semua lapisan masyarakat. Ada petani, tentara dari angkatan perang Jerman, tokoh-tokoh gereja, mahasiswa, politikus-politikus yang kecewa dengan revolusi yang sangat menginginkan terobosan terwujudnya Rusia baru.
Doctor Zhivago halaman 88
Aku membalikkan buku itu terlentang di atas sofa. Memilin sisi keningku yang mulai jengah atas perdebatan itu. Lalu, “tak bisakah kalian membiarkan aku membaca dulu!” pekikku lirih.
Lantas ada sahutan salahpaham di sebelahku, “apa aku terlalu ribut ya?” suamiku menatapku bersalah. Terjeda pula perdebatan tak berujung dari sisi-sisi bertolak belakang itu. Dan dengan buku di sampingku, aku mengatur nafas pelan-pelan.
Baca juga: Review Kitab Kawin yang Menunjukkan Sisi Lain Perempuan
Keberadaan Datang Setelah Ketiadaan

Aku hanya tersenyum nakal dan menggeleng pada wajah suamiku yang alisnya seperti pita kusut itu. Geli. Lalu kubuka lagi buku itu. Aku menggeser halaman 88 yang terjeda. Tak kusangka nafasku lebih pendek. Sesekali telapak tanganku kuseka dengan tisu karena keringat. Apa yang salah denganku? Tidak ada adegan ekstrim. Tapi kenapa dada seperti ini? batinku dalam hati.
Dahiku berkerut, tapi mataku tak bisa berhenti membaca. Kuperbaiki posisi dudukku. Bersila.
Aku ingat pada masa dahulu ketika segalanya dalam suasana damai. Bahkan masa depan tampaknya penuh kedamaian. Orang-orang saling mendengarkan, dan itu adalah hal yang biasa bagi semua orang untuk bertindak secara wajar dalam urusan mereka masing-masing …
Doctor Zhivago halaman 97
Ada kabut dalam rumah. Tapi kabut itu melayang tak turun ke lantai keramik. Aku masih merasa nafas tertahan di tenggorokan. Meski kualihkan pikiranku bahwa Yury Zhivago adalah brengsek karena mengikuti hasratnya untuk tinggal bersama Lara dan setidaknya melupakan istrinya. Sekali lagi, aku tak sanggup membayangkan situasi perang itu menjadikan sebuah keluarga utuh menjadi pecahan kaca. “Apa artinya aku setuju dengan Zhivago?” tanyaku lirih.
Spiritualku kembali bertanya padaku, “apakah ini yang kau cari dari novel Doctor Zhivago ini?” Aku masih membaca, tapi pikiranku ke pertanyaan spiritual itu. Tak fokus. “apa kau ingin menghakimi buku ini? menghakimi tokoh ini? atau ada sisi lain yang ingin kau gali untuk hidupmu?” Dan ketika pertanyaan terakhir terlontar. Mataku bertemu dengan kalimat ini.
Baca juga: Batas Kasih Kisah Tikus dan Manusia
Pada saat kereta api berhenti lagi, Yury berusaha mencari jalan menembus kerumunan dan turun dari kereta api. Ia menapak tiga langkah dan jatuh ke trotoar.
Doctor Zhivago halaman 125
Di saat itu, wajah suamiku berkelindan seperti kereta yang ditumpangi Yury Zhivago. Hujan pun turun di dalam rumah. Beberapa saat kemudian, aku menghambur ke lengan suamiku. Sepertinya, akan lebih banyak bersyukur atas ini.
Novel Doctor Zhivago tertutup dalam satu hari. Tersimpan rapi di rak jati.
Closing by Senja Hari
Apakah ada yang pernah dengar dan baca novel Doctor Zhivago? Ataukah sudah ada yang pernah nonton filmnya? Bisa dong kalian cerita pengalaman membacanya. Buat kalian yang punya rekomendasi buku-buku klasik atau bacaan yang menarik, bisa juga ikut berkomentar. Siapa tahu ada yang mencari sesuatu dari bacaan.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
Comment
“Keberadaan Datang Setelah Ketiadaan” setuju π
Membaca buku klasik perlu keahlian khusus nih sepertinya
Saya bolak balik baca tetap aja gak paham semua
Hanya ikut mengutuk Yury Zhivago yang dianggap brengsek karena mengikuti hasratnya untuk tinggal bersama Lara. Padahal saya gak tahu dengan demikian berarti ia melupakan istrinya?
Saat membayangkan situasi perang dimanapun itu, seharusnya kita di tempat yang aman ini memang banyak banyak bersyukur ya…
Ini ada film nya juga mba???? Wahh kerennn….
Aku selalu kagum sama buku2 yanh mba dinda baca dan setiap membacanya sepertinya menimbulkan buah pemikiran tersendiri rasanah beda sama aku yg tiap membaca ya udah baca tok menikmati jalan ceritanya tanpa ada pemikiran apapun…apa karena aku trlalu polos yaa jadi asal baca aja dan tdk bisa memgambil sebuah kesimpulan ataupun mungkin kesan pesan yg ingin disampaikan yg penulis..entahlahhh π€
waini….. Ngebaca tulisan Mbak Dinda berasa ikut duduk di ruang tamu saat hujan, ikut merasakan “sesak” yang dialami Yury Zhivago. Buku klasik memang punya cara unik mengaduk emosi dan spiritual kita, ya. Kadang ideologi besar memang terasa dingin jika dibandingkan dengan kehangatan pelukan keluarga di rumah. Jadi penasaran ingin baca bukunya langsung, meski harus siap mental kena “gilas” juga!
Menarik! aku langsung kepoin bukunya di goodreads dan jadi tahu kalau Boris pernah dapet nobel sastra di tahun 1958. Walaupun pengalamanku baca novel (yang ditulis oleh penulis peraih) sastra nobel gak selamanya mulus, tapi tentu saja kualitas mereka sudah teruji dan di atas rata-rata.
Btw, selalu menyenangkan main ke senjahari dot com, dapat rekomendasi novel bagus terus akunya ^^
Buku Doctor Zhivago mewakili sekali deskripsi betapa bergejolaknya Rusia di akhir abad 20 karena di sana ada dua perang dunia, revolusi dan juga perang saudara. Doctor Zhivago juga semakin kelam dengan bumbu cinta, derita dan eksistensi manusia. Komplit isinya, bikin kita serasa berada dalam kisahnya Dr. Yury Andreyevich Zhivago
Waw, penulisnya dari rusia dan bahkan sudah berkarya di era uni soviet? Menariiik menarik.
Aku selalu penasaran si sama cerita-cerita dengan latar lawas, apalagi di era peperangan gini si. Pasti banyak drama dan kemelut yang seru buat ditelaah.
Kalimat penutup tulisanmu ini bikin iri deh Din hihi. Apalagi yang lebih berharga bisa memeluk orang yang terkasih. Terhubung intim dengan orang yang mengasihi kita. Sehat-sehat kalian ya.
Aku terusik dengan kalimat, Yury mengikuti hasrat tinggal bersama lara. Keluarga utuh di tengah perang. Membayangkan situasi yang begitu pelik, cenderung melahirkan hal-hal yang diluar nalar.
Setiap ulasanmu selalu mendatangkan lapisan pemikiran dan logikaku seperti digali dalam-dalam yang ingin di keluarkan jadi sesuatu yang bermanfaat. Terima kasih untuk ulasannya. Ditunggu ulasan buku lainnya.
Novel Doctor Zhivago ini adalah salah satu novel yang sangat populer di dunia dan saya sering mendengarnya, tapi ironisnya saya belum pernah membaca sekalipun cuma dengar aja. Membaca review ini saya juga jadi agak kebayang ya cerita seperti apa dan jadi kepengen baca jadinya. cari bukunya di mana ya? Ada e-booknya ga?
Sebuah buku klasik 130 halaman yang penuh makna banget ya. Nggak boleh emang menilai hanya dari covernya saja. Ternyata baca buku ini tuh bikin banyak tanya timbul. Keren sih jadi refleksi mendalam juga bahkan ke ranah iman.
Buku Doctor Zhivago, aku belum pernah baca. Baru tau dari review mu mbak. Ternyata ada film nya juga? Wahhh menarik sepertinya.
Tekad bulat Dokter Zhivago ini ternyata keras ya. Karakter yang bersemangat, penuh dengan keinginan sampai bilang ingin bekerja keras demi perubahan di negerinya. Hemm, kalau negeri yang lain apakah kerja kerasnya akan dihargai dengan baik? Untung ini hanya kisah dalam novel, entah bilamana ada dalam kehidupan nyata
Tunggu, jadi Ini endingnya sedih mba? Tokoh Yuri Inj meninggalkan istrinya?
Belum pernah baca bukunya, penulisnya pun aku baru denger. Tp biasanya cerita dengan latar belakang perang begini, aku suka sih. At least cerita nya logis. Bukan yg fantasi kan.
Halaman juga tipis, sekali duduk selesai lah yaaa π π.
Salut banget nih sama bacaan mbak Dinda yang kebanyakan sastra klasik. Jujur saya dari dulu nggak pernah selesai baca sastra klasik begini. Ada punya buku tok sawyer itu nggak kebaca padahal belinya dari masih lajang. Heu
Sastra klasik itu nggak semuanya berat mbak Antung. Kayak cerita Tom Sawyer sama beberapa kisah klasik anak tetep asik buat dinikmati. Apalagi sekarang novel klasik tuh diterjemahkan dengan menarik sesuai sama gaya bahasa modern. π
Tapi balik lagi tentang selera sih.. π
Saya belum pernah membaca novel Doctor Zhivago ini Mbak. Situasi perang emang tak mengenakkan. aMakanya Yuri hanya ingin menjadi dirinya sendiri yang nantinya bisa berguna bagi negaranya. Dan sejujurnya saya tidak terlalu suka Novel alsik yang menurut saya berat. Jadi harus dibaca dengan kening berkerut. Mungkin karena saya terbiasa dengan novel ringan anak-anak hehehe.
Kayanya aku nggak akan sanggup baca novel ini. Perasaanku saja atau memang novel klasik eropa banyak menceritakan tentang perselingkuhan? Not my cup of tea. Apalagi ini latarnya saat perang ya? Kok kaya berat banget novelnya. Akhir-akhir ini aku lebih suka membaca novel ringan. Yang ceritanya membuat hati hangat.
Kayanya aku nggak akan sanggup baca novel ini. Perasaanku saja atau memang novel klasik eropa banyak menceritakan tentang perselingkuhan? Not my cup of tea. Apalagi ini latarnya saat perang ya? Kok kaya berat banget novelnya. Akhir-akhir ini aku lebih suka membaca novel ringan, yang ceritanya membuat hati hangat.
Beratnya nggak sih mbak, nggak sampe satu kilo. Heheh..#bercanda π€
Kalau mau dibahas ringan bisa saja, tentang kisah cinta. Tapi entah setiap baca buku kadang saya keterlaluan overthinking begini begitu, jadilah ulasannya agak berat dari ujian hidup. π΅βπ«
Sepelik itu kehidupan manusia masa perang di rusia , kalau dibilang berat pasti ya , beruntung yang hiduo di jaman sekrng eh tapi enggak juga sih hehe
Dr zivagho punya sisi baik juga
Aku ingin hidup apa adanya. Aku ingin bekerja keras dan menjadi perubahan yang besar di negeri kita. Itu kalimat orng visioner dengan harapan besar bener ga sih
Wah ternyata ini bukunya cukup klasik ya Mba.. Bacanya pasti butuh waktu untuk detail memahami. Seperti kalau di Indo aku kalau baca buku Pramoedya Ananta Toer kali ya.. Buat aku yang sekarang berkecimpung dengan Halo Balita agak overwhelmed kayanya, huhuu…
Sering dengar tentang Dokter Zhivago ini tapi belum pernah baca buku dan nonton filmnya ketinggalan banget.. temanya tentang perjuangan bangsa ya?
Sebagian yang tampak di permukaannya memang tentang itu mbak Dew. Pas baca awal saya asumsinya malah kisah cinta di masa perang, karena lagiΒ² covernya itu.. π€
Bukunya ada cerota perselingkuhankah mbak Dinda? makin menarik nih ceritanya. Saya belum membaca buku ini. Tapi cerita-cerita cinta segitiga saya jadi ingat Asama Nadia, beliau suka menulis kisah-kisah cinta bercabang.
Saya sering denger Asma Nadia. Kalau nggak salah itu penulis novelΒ² islami ya mbak. Ada satu novelnya dulu yang saya punya, judulnya Rumah Tanpa Jendela. Eh bukunya dipinjam akhirnya tak kembali.. π₯Ή
Baru tahu kalau beliau tuh bikin novel cintanya bersegi banyak.. π
Perang, apapun jenis perang baik perang saudara maupun tidak meninggalkan banyak luka. Novel ini menguatkan asumsiku selama ini bahwa kekerasan itu melukai orang terkasih dan banyak orang lainnya
Aku belum baca maupun nonton filmnya mbak
Iya mbak Dy, di manapun perangnya pasti akan meninggalkan banyak luka. Makanya suka heran kenapa orang pada pingin perang, saling gencet dan nggak cukup untuk saling tahu batas.
Ah, kok rasanya pelik sekali.. π€§
Sebenarnya politik nggak jahat, tapi kadang pelakunya dengan ideologi politik yang diyakininya dan nggak nganggep yang lain keliru tu kadang bisa menghancurkan sisi kemanusiaannya, nggak sih? hehe.
Apalagi kalau dikaitkan sama masa perang, di mana jadi manusia di zaman itu nggak bisa bebas. Nggak ikut pernag dikira nggak loyal, ikut perang jadi stress. Makanya jangan sampai perdamaian dunia hilang. Walau yaaa kita ketahui ada sisi lain dunia yang sampai sekarang berperang hiks.
Haha Zhivago ini kenapa tooo, selengki sama Lara atau gimana yaa?
Eh tapi aku miss ini istrinya ke mana mbak? Apa kehilangan istrinya karena perang itu?
belum pernah baca novelnya sih, nonton filmnya juga belum. Ternyata udah difilmin aja yaa
27 Responses