Home / Pojokan

Dua Belas Pasang Mata yang Menatapku Lebih dari Dua Belas Detik

Senjahari.com - 16/12/2025

dua belas pasang mata

Penulis : Dinda Pranata

Tak tak tak!

Hujan menjatuhkan diri di atas atap spandek di garasi. Suaranya merayap sampai ke arah kamar.

Pukul dua belas kurang beberapa menit lagi, tapi mata tak bisa terpejam sejak tiga jam yang lalu. Mungkin terlalu banyak kopi, pikirku. Aku tidur tengkurap dengan sebuah buku di atas ranjang yang menatap ke arahku.

Lalu, baris ke sepuluh di halaman 177 yang menatapku, ia berteriak. “Sungguh disayangkan! Kenapa anak-anak dengan senyuman cerah ceria begitu mesti dijadikan sasaran peluru?”

Kemudian suara hujan, dengkuran bocah di sebelahku dan tatapan sebuah halaman buku, cukup membuatku merasa tersudut. Bagaimanakah masa depan anakku nanti?

Baca juga: The Girl on Paper, Kisah Cinta Penulis dan Tokoh Novel

Dua Belas Pasang Mata dan Sepeda Gayuh

Kalimat di halaman 177 yang menatapku tidak berteriak meledak. Ia hanya menumpahkan kekesalan dari tinta-tinta yang membentuk huruf. Meski tidak meledak, kalimat itu mampu membuatku terdiam hingga lewat dari pukul satu malam. Setelah buku itu usai kubaca.

Kukira buku berjudul Dua Belas Pasang Mata ini bercerita tentang petualangan anak-anak seperti novel anak yang sering kubaca. Namun, buku karya Sakae Tsuboi justru bercerita lewat sudut pandang seorang guru yang mengayuh sepeda bernama Mrs. Oishii. Seorang guru yang datang ke sebuah desa terpencil di seberang pulaunya untuk mengajar dua belas pasang mata itu.

Pada halaman pertama sampai melewati ratusan baris-baris paragraf, rasa-rasanya aku tidak mengamati buku itu. Sebaliknya, buku itu yang terus menatapku sambil menceritakan Mrs. Oishii yang awalnya berencana mengajar sementara di desa nelayan itu tapi, pada akhirnya terikat secara emosional dengan dua belas murid dan keluarganya. Anak-anak yang usil dengan guru baru; anak-anak yang ingin tahu lebih banyak dari usianya; anak-anak yang ingin dekat dengan ‘guru bersepeda’ mereka.

Sesekali aku terkekeh saat si buku itu bercerita tentang kepolosan anak-anak ketika tahu bahwa guru perempuan mereka naik sepeda. Aneh, pikirku. Tapi ketika kutahu era Tsuboi menulis, maka aku bisa menjamin kepolosan anak-anak itu bukan hal yang aneh. Sepeda, di era sebelum tahun 1930-an adalah hal yang mewah dan tak biasa bagi penduduk desa di Jepang.

Semakin buku itu bercerita, emosiku semakin bergeser. Ini tak lagi suara tentang kepolosan anak-anak atau guru yang merasa prihatin dengan masa depan anak didik. Emosi ini bergeser menjadi paku tajam, bagaimana anak-anak hanya sekedar menjadi alat propaganda dan mesin kemenangan perang.

Baca juga: Ketika Uang Cuma Numpang Lewat, Perhatikan Kesehatan Mental si Uang!

Dan ketika sampai di halaman 177, ketika aku menatap anakku, di balik dinding putih yang remang-remang dua belas pasang bola mata itu seolah mengintipku. Derai hujan kemudian makin deras. Langit menangis.

Anak-anak yang Selalu Terluka

dua belas pasang mata karya Sakae Tsuboi
Analisis Dua Belas Pasang Mata design by canva

Hidungku meradang. Mungkin sebentar lagi es di dalamnya akan meleleh, pikirku. Dua belas pasang mata di balik dinding itu, pelan-pelan menatap anakku. Bocah lanang yang usianya masih 8 tahun (kurang lebih sama dengan cerita di buku itu).

“Aku tahu kalian pasti menderita,” lirihku. Kusentuh tangan Taro (anakku) yang sedang tertidur pulas. Tangan itu hangat dan mungil. Sesekali aku membayangkan, apakah beberapa tangan di dua belas pasang mata itu pernah disentuh kehangatan kasih seperti ini?

Buku itu tidak berdarah atau berteriak. Tapi, warna putihnya seperti ironi yang menusuk siapapun yang membacanya bahwa di balik tumpahan darah masa kebrutalan, peperangan, keegoan dan apa yang disebut sebagai kemenangan negara, ada jiwa yang terluka. Istri-istri yang kehilangan suami dan orang tua yang kehilangan anak-anak mereka. Lalu yang menyedihkan dari semua itu, anak-anak yang terluka karena mereka lahir untuk menjadi tameng peluru di medan perang.

Tatapan buku Tsuboi yang tertutup itu menyebabkan hujan tak hanya mengguyur di luar, tapi juga di dalam rumah. Genting tak lagi bisa menahan hujan yang sudah turun di atas ranjangku. Lalu aku membayangkan, apakah Totto-Chan berteman dengan dua belas anak di desa nelayan itu? Aku terus menggenggam tangan Taro, memiringkan kepala yang kusanggah dengan pergelangan tanganku. Mataku terpejam.

Baca juga: Ruang bagi Perempuan yang Tak Pernah Utuh

Anak-anak yang Hidup untuk Perang

Aku sadar mataku terpejam. Tapi, pikiranku seperti berhadapan dengan dua buku yang berbeda. Dua buku itu sama-sama menatapku. Aku yakin ketika mereka bersanding, mereka akan saling menatap. Bukan menatap keheranan, tapi lebih ketatapan saling memeluk. Meski, suara mereka berbeda.

Terbayang dalam hujan yang tak kunjung reda itu, buku Totto-chan menatapku berbicara bahwa gadis itu yang sedang berdiri di sebuah jendela dalam kelasnya. Menatap jauh ke sungai belakang sekolahnya. Sungai yang barangkali menuju ke laut tempat desa nelayan itu berada. Di sekolah Totto-chan, semua anak mendapat pelukan hangat, meski situasi perang akhirnya memporak-porandakan sekolah gerbong kereta itu.

Namun, dari jendela kelas Totto-chan melihat atau setidaknya membayangkan teman-teman lainnya di desa nelayan tidak bisa mendapatkan pelukan hangat bahkan di sekolahnya. Mereka harus menahan didikan keras. Jargon patriot ‘mati untuk negara’ harus mereka dengar. Lucu. Kisah yang sama tentang anak-anak, tapi penuh luka.

Tentu saja, itu tidak mungin terjadi. Totto-chan mungkin saja belum lahir ketika dua belas anak dalam karya Sakae Tsuboi itu sekolah. Sekali lagi hanya bisa berandai-andai, andai Totto-chan dan dua belas anak dalam buku Tsuboi ini lahir sepuluh tahun lebih lambat, barangkali mereka punya cerita anak-anak yang manis untuk dikenang.

Mataku terbuka lagi. Kukira hujan sudah reda, ternyata belum. Ia masih sama cengengnya dengan beberapa jam yang lalu. Lampu bacaku masih menyala dan kulihat lagi sampul buku dua belas pasang mata berwarna putih itu. “Apa yang sebenarnya kita minta dari anak-anak, ketika kita mendidik mereka?

Baca juga: Buku Paling Melelahkan dan Sulit Dicerna. Apa Itu?

Gumamanku pada akhirnya menggantung di atas langit-langit kamar pukul tiga pagi.

Closing by Senja Hari

Apa ada yang sudah baca bukunya Tsuboi-Sensei ini? Atau mungkin kalian pernah baca buku yang mirip-mirip dengan kisah Mrs. Oishi ini? Terus gimana nih perasaanmu atau pengalamanmu setelah baca buku ini atau yang sejenisnya? Bisa dong berbagi di kolom komentar.

Eits! Komennya yang bijak dan sopan ya, semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.

Have a nice day! Jya, matta ne~

Tinggalkan Balasan ke Arief Rachman Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

dari judulnya menarik bangettt, jadi pengen baca 😀

12 pasang mata ini adalah 12 anak2 di sebuah desa yang bersekolah dan berhasil mencuri hati sang guru karena kepolosan nya…
Saya sendiri juga belum pernah membaca buku totto chan auto langsung googling tentang ceritanya…
Sama2 menceritakan masa kanak2 dengan segala kepolosan dan keceriaan mereka namun semua tidak berakhir indah akibat meletusnya PD II yang tentu banyak mengakibatkan trauma yg mendalam..

Penutupnya tak mampu menjawabnya. Tak berani meminta karena kehidupan semakin penuh kejutan. Tetapi jika bisa, mungkin jika saja ini boleh, mereka menjadi pribadi yang kuat dan siap menghadapi apapun yang waktu tawarkan. Mampu memilih dan bertanggungjawab atas keputusannya.

Aaah pagi ini sedikit resah membaca ini, membayangkan dua belas pasang mata anak dan mengingat anak-anak di sudut barat negeri ini. Anak-anak yang sedang direnggut masa bermainnya, dihadapkan dengan bencana alam.

Seperti sama, penerus tumbuh dengan latar yang seperti sinar kehidupan sedang redup-redupnya. Nurani ini hanya mampu meminta pencipta, memeluk mereka dengan caraNya.

Perang atas nama apapun memang mengerikan, terlebih bagi anak-anak. Dunia mereka yang polos dan penuh keceriaan jadi porak poranda karena hadirnya peperangan.

Buku Twenty Four Eyes ini mewakili dunia anak-anak di tengah peperangan. Semoga bisa mengetuk hati para pemangku kebijakan untuk menciptakan dunia anak-anak lebih kondusif dan menyenangkan

hooh ya anak2 yang lhirnya pas jaman perang aku pikir naas bangeut. Jadi saksi tpi engga dpt gelar apapun. Mereka mendengar suara gemuruh di langit seperti ttmbkan dll ngeuri ih ngebayangin nya. Aku blum pernah baca kedua buku yang kk metion diatas tpi jadi kepikiran hiks

Ternyata 12 pasang mata yang sesuatu. Daku belum pernah baca totto chan ini, bikin terhenyak sepertinya, karena baru baca ulasannya sudah ada yang bikin terhenyak

Bambang Irwanto

Saya belum pernah membaca buku Dua belas pasang Mata, Mbak. Tapi dari judulnya sudah menarik hati. Apalagi setelah tahu ini kisah Mrs. Oishii, seorang guru yang mengajar dua belas orang muridnya. Pastinya banyak cerita seru selama kebersamaan mereka. Apalagi kepolosan anak-anak. Termasuk keherananan soal sepeda yang dipakai Mrs. Oishii yang termasuk barang mewah kala itu ya.

Aku salah satu penggemar berat buku Totto-Chan mba. Bertemu buku itu saat ku masih SMP dan nabung buat kebeli itu buku sampe berkali-kali kehilangan buku tersebut karena di pinjam tapi tak kembali 😭😭😭 terakhir, buku nya ketinggalan di rumah mantan mertua.

Nggak kebayang sih berapa pilu dan menyakitkan 12 anak nelayan di buku karya Sakae Tsuboi. Lebih berat sekali masa mereka, bahkan untuk bersekolah pun.

Maka tak heran kalau mba berandai terkait Totto-Chan juga. Penasaran banget aku sama buku yang satu ini, semoga aku bisa menemukannya dan membacanya.

Ini berarti hampir sezaman atau di atasnya totto-chan ya? Tapi tahun 1930 emang jaduul. Dan memang orang Jepang sangat menghargai sensei (guru), sangat dihormati. Jadi pengen baca juga.

Saya belum pernah baca novel Twenty Four Eyes ini. Bahkan baru dengar judulnya setelah membaca artikel ini. Kalau buku Totto-Chan sudah lama tahu, sejak masa SMA, tapi saya lupa sudah baca atau belum.

Novel Twenty Four Eyes ini ternyata lebih lama lagi ya dibanding Totto-Chan. Sudah masuk jajaran novel klasik. Jadi penasaran buat baca.

Saya belum pernah membaca bukunya sih mbak. toto chan juga belum baca hanya membaca beberapa reviewnya. Sudah masuk daftar bacaan yang akan dibaca sih mbak. Semoga secepatnya ku bisa membacanya termasuk buku Twenty Four eyes

Menurut saya buku itu bagus kalau beneran bisa mengobrak-abrik emosi kita dan juga membuat hati kita tergerak dan kita menjadi merasa dan mengerti juga paham dengan apa yang disampaikan oleh penulis itu sehingga buku ini pastinya sangat bisa direkomendasikan supaya kita lebih kaya rasa dan juga lebih empati terhadap anak-anak yang berada dalam situasi perang seperti ini

Jadi setting latar anak2 ini pas zaman perang ya mbak? Mengangkat kisah gurunya juga?
Ah jadi keinget nih, setelah perang, hal yang pertama kali dikumpulkan pemerintah Jepang adalah guru2.
Anak2 itu masih punya harapan untuk melanjutkan hidup keknya juga karena pendidikan, sebab bisa melihat cakrawala yang lebih luas lagi, keknya ya.

Kalau Totto chan keknya hidupnya jauh dari pantai/ desa nelayan, karena deket rumah dia ada bangkai gerbong kereta yang asumsiku lebih deket ke perkotaan, ketimbang pantai #imho. Bisa jadi juga Totto chan ini generasi berikutnya.

Tapi kalau bicara soal menghargai jasa guru, keduanya memiliki kesamaan ya 😀

Heni Hikmayani Fauzia

Buku ini saya belum baca. Tapi kisahnya mengharukan yaa….saya coba cari bukunya deh….ini bagus bukunya mba…saya mau baca jugaa

aku juga blum bacaaaaa
boleh juga nih djmasukkan bucket reading list untuk tahun 2026
pengin bangettt lebih rajin baca buku euy.
biar ngga dibohongin pemerintul 😆✌️

Cerita yang menarik. Mirip kayak Laskar Pelangi ya kak. Namun ini latar belakangnya di era 30-an saat Jepang bergejolak. Namun semangat Tsuboi sensei dlm mengajar bs menginspirasi siapapun. Cocok bgt buat pembelajaran kita utk tetap bersemangat melawan kebodohan dan ketidakadilan di saat kondisi sulit. Jadi pgn baca bukunya nih. Kyknya seru.

Kalau hanya menilai dari cover, aku pikir bukunya cukup fun yaah..
Tapi ternyata settingnya di zaman penjajahan yang pastinya menimbulkan banyak luka dan trauma bagi siapapun yang berada di zaman itu.

Sungguh aku tadinya mau suudzon tentang Jepang yang kerap menjajah.
Namun kesakitan mereka akibat perang pun mungkin tidak lebih baik.

Aku sudah baca kedua buku itu, Totto Chan dan 12 Pasang Mata, memang miris ya anak-anak tak berdosa harus merasakan kekejaman perang.. jadi pengen baca ulang deh..

aku baca buku ini tapi kayaknya cuma 5 halawan awal soalnya bacanya di ipusnas, mbak jadi kadang suka keburu hilang dari daftar bacaan. padahal ini awal ceritanya aja sudah menarik buat dibaca. Kayaknya nanti aku mau cari lagi di perpustakaan biar bisa pinjam dan baca buku fisiknya

Reviewnya bikin aku mikir kalau baca novel ini kaya liat cermin diri sendiri di cerita orang lain gitu.. Ada kadang lucu, kadang sendu, tapi semuanya kerasa jujur dan apa adanya. Itu juga yang bikin aku jadi penasaran banget pengen baca langsung.. Kebayang bisa ngerasain sendiri emosi dan pesan yang disampaikan… btw salfok desain sampul bukunya gemassh >.<

Bukunya kayanya menarik untuk dibaca. Jujur aku belum baca bukunya ini. Bakalan ku coba cari versi ebooknya. Nggak tahu bakalan ada apa nggak versi ebooknya 😁

Rasanya sulit membayangkan 12 pasang mata saling menatap sambil belajar. Mereka dihadaokan pada kekhawatiran akan kematian yang berada di depan mata, Perang Dunia ke-2. Beruntung ada guru yang dapat membersamai dan membesarkan hati mereka. Bakalan teemehek2 nih kalau baca buku Tsuboi 😪

Novel ini pelan tapi dalam. Emosi tokohnya nggak meledak-ledak, justru bikin pembaca ikut merenung di setiap konfliknya

Cerita menarik tentang anak – anak kecil yang punya karakter berbeda dipertemukan dalam situasi yang hampir sama.

What a story. Lihat judul dan baca sedikit ulasannya dari tulisan ini bikin saya tertarik untuk membaca lengkap bukunya. Terima kasih banyak untuk sharingnya, mbak.

Buku ini bukan cuma soal sejarah, tapi soal kemanusiaan yang universal. Membaca ulasan ini bikin sadar kalau pendidikan itu bukan sekadar mengajar, tapi soal membentuk ikatan batin. Penjelasan di bagian dampak perang terhadap anak-anak itu sangat ngena di hati. Kayaknya saya bakal nangis ketika membaca buku ini.

Nah iya mba, sepakat banget sama yang mba utarakan. Mengajar itu beneran memegang banyak tanggung jawab. Apalagi di era tersebut saat perang bergejolak, kebayang bakalan banyak hal yang menyakitkan. Perang memang selalu seram baik buat anak-anak dan perempuan.

Yap, akan mewek banget baca buku ini. Pemikiran ku terkait cover buku yang nice seketika berubah. Ternyata ada banyak rasa ngeri di dalam ceritanya. Juga hal-hal menyentuh hati.

Tukang Jalan Jajan

Aihhhhh jadi ikutan merasakan sesak yang sama, membayangkan kepolosan anak-anak yang terenggut paksa oleh ambisi orang dewasa dan perang. Analogi membandingkannya dengan Totto-Chan sungguh menarik; betapa nasib anak-anak sering kali ditentukan oleh waktu dan tempat mereka lahir. Terima kasih sudah berbagi perspektif yang humanis ini. Jadi makin penasaran ingin memeluk buku karya Tsuboi-Sensei ini secara langsung.

Andri Marza Akhda

Kisah Dua Belas Pasang Mata benar benar terasa menyentuh karena memperlihatkan dampak perang dari sudut pandang anak anak dan gurunya. Perubahan nasib mereka pelan pelan terasa berat, apalagi saat kepolosan harus berhadapan dengan realitas yang kejam.

29 Responses