Penulis : Dinda Pranata
Kau tidak berbuat salah. Aku sedang mendengarmu, tapi juga memikirkannya. Aku mencintainya dan aku adalah istri simpanannya.
Anna Karenina Halaman 55
Halaman itu kutandai dengan label warna merah. Dadaku mengencang. Aku ingat malam itu hawa sangat panas, bahkan ranjang tempatku tengkurap sama panasnya. “Apa aku benar-benar salah paham pada cerita ini ataukah ini memang inti ceritanya?” tanyaku.
Aku terdesak ingin membaca lebih banyak. Lembar-lembar buku karya Leo Tolstoy bergesekan. Dan ketika aku membaca lebih jauh, Satpam kompleks sudah memukul-mukul tiang sebanyak dua belas kali. “Sudah jam dua belas,” gumamku.
Anna Karenina yang Mengiris Idealisme
Novel Anna Karenina yang tebalnya 216 halaman mengundangku untuk membaca, terlebih ketika kutahu kisah di buku ini tentang kisah cinta, cerita kehidupan bangsawan dan romantisme. Di halaman-halaman pertama banyak kesalahpahaman yang terjadi padaku. Pertama kukira Oblonsky akan menjalin perselingkungan dengan Anna karena bab awal memuat judul “Perselingkuhan Dalam Hati”, nyatanya Oblonsky adalah salah satu cameo penting dalam kehidupan Anna.
Semakin banyak lembar-lembar permulaan buku kubuka, keyakinanku makin kuat. Kisah permulaan dalam buku ini terbaca sebagai kisah cinta yang penuh gelora dan hasrat perselingkuhan terselubung. Anna Karenina yang sudah menikah dengan Karenin (bangsawan kaya yang dingin dan kaku) berselingkuh dengan Alexei Vronsky (bangsawan tampan yang mempesona). Rasanya akrab sekali membaca kisah-kisah seperti ini? kataku dalam hati.
Baca juga: Mana yang Lebih Sulit, Obsesi Cinta atau Obat Kolera?
Membaca lebih banyak isi buku itu, aku terjerat pada pesona Anna. Ia wanita yang cerdas dan anggun, terlebih ketika ia bisa memikat Vronsky yang tampan dan digilai wanita. Pada halaman dua puluh delapan dan lembar-lembar setelah halaman tersebut, aku sempat mempertanyakan gagasan idealismeku sendiri. “Apakah aku benar-benar menjadi wanita yang membenarkan perselingkuhan?” gertak idealisme di kepalaku.
Namun, di halaman 82 dari buku itu. Aku terhenti. Ada yang berubah dari sudut pandangku tentang Anna. Kututup buku itu kembali dan menyibukkan tubuhku dengan pekerjaan harianku. Meski kepalaku tidak benar-benar berhenti memikirkan halaman 82.
Antara Kesepian dan Kecukupan. Apakah Ada Kesempurnaan?

Penggambaran tentang hubungan Anna dan Vronsky yang kupandang sebagai hal yang masuk akal, mendadak runtuh. Semakin dalam kubaca, justru rasa simpatiku bergeser dalam pada tokoh Karenin (suaminya yang dingin dan kaku). “Ada yang salahkah denganku? Bagaimana bisa aku menyukai tokoh yang kaku dan dingin?” keluhku pada diri sendiri.
Aku ingin kau tidak lagi menemuinya. Sebagai bayarannya, kau masih bisa menikmati kebanggaan sebagai seorang istri yang terhormat tanpa harus banyak memiliki tanggung jawab.
Anna Karenina halaman 82
Ini semakin membuatku merasa terenyuh pada tokoh Karenin. “Aku memang tidak menyukai pria kaku dan dingin, tapi bukankah kata-kata tentang permintaannya untuk Anna tak menemui Vronsky itu masuk akal sebagai orang yang sudah menikah?” debatku pada diri sendiri.
Baca juga: Review When Marnie Was There, Benang Merah Anak Kesepian
“Apakah Anna hanya merasa kesepian batin?” tanyaku lagi. “Haruskah pernikahan membutuhkan hasrat yang terus meletup-letup? apakah hati tak boleh ada jeda untuk cinta?”
Aku bertanya semakin banyak, mendebat apa yang kuyakini tentang pernikahan dan cinta yang selama ini kupegang. Terlebih dalam buku Anna Karenina, Leo Tolstoy tak berkutat tentang kisah Anna-Karenin-Vronsky tapi ada kisah tentang cinta Levin-Kitty, juga kisah pernikahan Oblonsky dengan Dolly. Halaman-halaman itu terus bergesek, teks-teksnya semakin menjerit dan menjeratkan kailnya.
Pukul dua siang lewat dua belas menit, teks antara halaman 161 dan 162 membuatku kembali pada halaman pertama buku ini. “Ini kah kailnya?” pertanyaanku disambut oleh angin di lapangan olahraga. Meski tanpa ada jawaban ya dan tidak.
Pilihan yang Aman Bukan Berarti Tanpa Gelombang
Dolly terkejut. Dia berpikir keluarga yang dikenalnya memiliki satu atau dua anak, dan tiba-tiba untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa ternyata hal itu adalah sebuah pilihan.
Anna Karenina halaman 161-162
Teks ketika Dolly—iparnya—datang mengunjunginya, setelah seluruh bangsawan di Petersburg mengetahui skandal Anna, aku tidak mengira bahwa itu menjadi titik balik kesalahpahaman tentang cerita novel Anna Karenina. “Ini bukan novel yang meromantisasi perselingkuhan, tapi justru mempertanyakan mengapa bangsawan kerap meromantisasi penderitaan lewat perselingkuhan,” kataku pada akhirnya.
Baca juga: Ruang bagi Perempuan yang Tak Pernah Utuh
Semua keluarga bahagia sama saja, namun keluarga yang tidak bahagia memiliki kebahagiaan dengan caranya sendiri.
Anna Karenina halaman 11
Aku memutar kembali kertas dalam buku pada halaman sebelas. Kuamati dan dalam beberapa menit sesudahnya aku tertawa geli. “Ketidakbahagiaan keluarga tetap memiliki kebahagiaan dengan caranya sendiri,” kataku lirih. Aku menyunggingkan senyum. Bukan hanya karena aku salah paham, tapi juga karena aku terburu-buru menyimpulkan bahkan dari teks di sampul belakang. “Karena bahagia dan ketidakbahagiaan itu datang dari pilihan.”
Semakin jauh teks-teks itu bercerita padaku, semakin jauh pada kisah cinta terlarang. Aku justru merasa dekat dengan penggambaran Leo Tolstoy kalau apa pun pilihan yang akan diambil, tak akan serta merta membuatmu hidup stabil dan bahagia.
“Mungkin aku juga bagian dari mereka yang berpikir bahwa hidup stabil dan bahagia itu ada,” kataku. “Bahkan … ketika aku memilih sistem yang sesuai denganku, kata itu tak pernah ada.”
Dadaku mengencang, seperti sensasi rasa yang ingin sepenuhnya tak percaya tapi tidak bisa menolak. Pada saat kubaca Anna Karenina, nyatanya kisahnya seperti cermin dua sisi. Sisi Anna yang menolak keluar dari sistem yang berbeda dengannya (pernikahan yang stabil tapi tanpa kehangatan) dan sisi Levin (teman dekat kakak Anna, Oblonsky) yang masuk ke sistem yang ia tolak—pernikahan yang hangat tapi dimulai dengan penolakan dan luka.
Baca juga: Kumpulan Cerpen Malam Terakhir-Metafora Tentang Kebebasan
Menjelang buku itu berakhir. Aku menyandarkan tubuh ke dipan ranjang yang dingin. “Apa yang sebenarnya manusia butuhkan saat sistem hidup tak lagi sama?”
Krik Krik Krik! Jangkrik pun ikut berisik.
Satu Kata Cukup yang Tak Benar-benar Cukup
Pukul sembilan kurang sebelas menit. Aku menyelesaikan tujuh halaman terakhir dari buku itu. Nafasku memburu, seperti ada yang ingin melonjak keluar bersamaan dengan perasaan tak asing. Ketakutan dan obsesi.
“Jika saja Anna mengetahui apa yang ia inginkan sejak awal, jauh sebelum ia menikah dengan Karenin, apa yang akan terjadi?” tanyaku. Imajinasi semakin liar dengan pernyataan seandainya.
Lembaran terakhir diakhiri dengan kalimat. “Setiap menit hidupku sekarang, seluruh hidupku, tak lebih berarti dari sebelumnya, tapi ada hal positif dari semua itu di mana aku memiliki kekuatan untuk memberikannya,” kataku membaca kalimat terakhir dari Levin.
Baca juga: Review Animal Farm, Satir Manusia Dalam Animal Kingdom
Kata-kata Levin yang menutup buku itu meninggalkan tanda koma di kepalaku. “Benarkah manusia bisa merasa cukup?” tanyaku. Meski buku itu sudah tertutup, tapi pertanyaan itu benar-benar menggantung sampai aku menuliskan review ini.
Gimana nih gengs review novel Anna Karenina? Apakah ada yang sudah membaca buku ini? Atau apa ada buku yang punya cerita serupa dengan Anna Karenina, yang pernah kalian baca? Kalian bisa berbagi di kolom komentar ya. Eits, komennya yang sopan dan bijak ya. Semata-mata agar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
Comment
Jujur aku belom pernah baca satu pun buku karya Leo Tolstoy. Ada sih 2 bukunya di rumah (Kebahagiaan Keluarga, Iblis) tapi masih masuk deretan TBR. Tentang Anna Karenina sendiri, gaung banget novel ini dan beberapa kali juga dibahas di pertemuan reading community yang aku ikuti.
Kayaknya, harus aku naikkan posisi buku-buku Leo Tolstoy ini di tumpukan TBRku biar bisa dibaca segera. Baca tulisan ini jadi semakin penasaran apakah pengalamanku nanti saat baca dapat sama atau nggak kayak di ulasan ini.
Menarik mbaaa review nyaaa jadi tertarik buat baca secara utuh…
Jadi kepikiran juga kalo saat kita sedang mengalami hal tidak baik trus berpikir kalo kita ambiil keputusan yang berbeda diawal apakah keadaaan akan jauh lebih baik??? bukan jaminan juga kan karena kita tidak tahu akan seperti apa kedepannya sebelum kita menjalaninya
Aku mau cari bukunya ah 😍😍😍. Biasanya kalau film atau serial, aku menghindari yg tema perselingkuhan. Tp kalau buku aku masih mau baca. Apalagi perselingkuhan di kalangan bangsawan begini. Seruuu 🤣🤣.
Mungkin Krn Anna masih muda, jiwanya masih panas dan penuh gairah. Dia blm ngerasain usia 40an di mana gairah udh ga lagi penting 😂😂. Justru suami seperti Karenin, yg walaupun dingin tp tetap memenuhi kebutuhan istri, itu tipe ideal 👍❤️❤️❤️. Teringat suamiku sendiri hahahahaha. Ga romantis blaaasss, tapi apapun yg istri nya mau, dia usahakan utk penuhi. Dan itu cukup buatku 😁.
Tapi namanya bangsawan, kan beda yaaa, kadang ga paham juga mindset mereka. Mungkin Krn kaya raya dan berkuasa, jadi merasa cukup mereka ga akan pernah full terpenuhi
Baca reviewmu kok tiba-tiba teringat sama pasangan V dan IR ya, ngoehehe. Kurang lebih, mereka menggambarkan apa yang dgambarkan tulisan ini di dunia nyata. Kadang kita sering mendambakan kesempurnaan dalam hidup, entah itu dalam berkeluarga ataupun ber-romansa. Tapi kenyataannya, itu semua hanya imajinasi utopis belaka. Karena manusia pasti ada kurangnya, dan semua adalah pilihan kita.
Kelak, apapun yang kita pilih.. gak pernah ada yang namanya bahagia ‘sepanjang hayat’.
Maka apakah ketika kestabilan hidup akan membuat sungguh berbahagia?
Jika kata cukup memang sudah dirangkul dengan mesra, apa ego sungguh rela hati menerima dengan bersukacita?
Ulasanmu membuka ruang tanya begitu luas dan mendalam. Berkisah tentang cinta dan hasrat semuanya akan menjadi cerita yang tak akan berhenti sampai kapanpun. Rasanya kalau aku membaca buku ini, aku jatuh hati sama sosok Karenin. Sifat dinginnya tentu punya alasan kuat dan aku cenderung suka lelaki yang seperti itu. #eh
Mungkin saja karakter Anna Karenina ini ada di sekitar kita, alias memang related dengan kehidupan. Saya belum pernah membaca buku ini, dan sepertinya agak berat karena soal selingkuh huhhu. Dari ulasan ini, dapat gambaran kisahnya Anna yang problematik di sini. Apakah buku dari Leo yang lain seperti ini juga temanya?
Aku belum pernh baca buku ini dan kayanya temanya cukup berat ya tentang perselingkuhan.
Memang kadang hidup itu tampak abu-abu, pelaku merasa jadi korban dan sebaliknya, tapi ya namanya perselingkuhan tetap tidak dapat dibenarkan. Herannya, ini sering terjadi di kalangan bangsawan. Mungkin mereka malu bercerai. Merusak image dan lain-lain. Jadi selingkuh saja tapi status keluarga tetap terjaga. Aneh sih. Tapi banyak terjadi.
Wahh reviewnya keren kak.. berhasil bikin aku mikir juga. Tapi mungkin iya bener. Kalau seandainya Anna tahu apa yang dia inginkan sebelum menikah mungkin jalan hidupnya bisa lebih better? Aku sendiri belum tahu bahtera rumah tangga seperti apa. Tapi memang nggak sepatutnya Anna selingkuh, tapi gimana juga ya. Kadang ngebayangin di posisi Anna yang menikah sama lelaki dingin dan kaku meskipun kaya juga bikin mikir juga.. ahuhu. Padahal baru baca review tapi mikirnya udah sekeras itu..
means Review kakak berhasil bikin saya tertarik.. Kayanya aku mesti cari bukunya juga.. Terimikicih kak..
Saya belum pernah baca
Bahkan baru lihat hari ini
Sepertinya memang butuh untuk dinikmati karena ceritanya menarik juga sebab membahas soal kecukupan di mana setiap manusia memiliki kehausan akan kecukupan yang berbeda
Hmm… jadi penasaran deh kisah akhirnya dan aku jadi nyari biography penulisnya, hehe
pokonya mah dari teh dinda aku belajar banyak hal ,diluar beliau yang tulisanya mengenai review novel. Aku suka aksi teh dinda yang meng capture moment2 yang ada di novel contoh nih ” apa pun pilihan yang akan diambil, tak akan serta merta membuatmu hidup stabil dan bahagia” aduh jleb ih teh
Tulisan ini menarik karena tidak buru-buru menghakimi Anna, tapi justru membawa pembaca ikut mengalami pergeseran simpati. Dari romantisasi perselingkuhan ke pertanyaan yang lebih sunyi: tentang cukup, stabil, dan kesepian batin.
Aku suka bagaimana kamu menempatkan Anna Karenina bukan sebagai kisah cinta terlarang, tapi sebagai cermin tentang pilihan hidup dan sistem yang kita masuki, sering kali tanpa benar-benar tahu apa yang kita butuhkan.
Di titik tertentu, aku juga merasa Levin justru menjadi penutup yang paling jujur, bahwa makna hidup bukan soal menemukan jawaban final, tapi kesadaran untuk terus bertanya. Terima kasih sudah menuliskan pengalaman membaca yang jujur dan tidak menggurui.
Wah menarik ulasan novel Anna Karenina ini ya mbak
Isinya seperti isu yang banyak beredar hari hari ini
Tapi aku belum pernah baca sih
Karakter anna Karenina yang sudah menjadi legenda sehingga tersohor ke berbagai penjuru dunia dengan kisah-kisahnya yang menjadi perbincangan publik pertama tentang perasaan dan kehidupannya. Pastinya setiap orang punya pandangan berbeda tapi kisah dia akan tetap menjadi salah satu acuan dalam kisah drama
Saya belum pernah membaca novel Nina Karenina ini Mbak. Tapi ceritanya ini banyak terjadi memang. Terjadi. Baik di dunia nyata maupun di film atau bahkan sinetron. Pasangan tanya terlihat sempurna dan bahagia di mata semua orang, ternyata tak bahagia. Seperti sawang sinawang saja. Intinya setiap orang berhak untuk bahagia. Tapi tidak menyakiti orang lain. Jika Nina Karenina mencintai orang lain, maka sejak awal dia harus jujur. Dan suaminya baik melepaskan saja daripada dia pun bahagia hidup bersama Nina.
Aku jadi inget bahwa sebuah sudut pandang bisa menormalisasi hal yang sesungguhnya mungkin dipandang tidak wajar sama orang awam.
Seperti perselingkuhan.
Dan ada beberapa drakor yang kasus perselingkuhannya justru terlihat indah di mataku.
Padahal tetep yaa.. selingkuh ittuu… gak bisa dinormalisasi.
Penulisnya keren yaa..
Bisa memberikan insight dan penokohan yang kuat sehingga pembaca bisa jatuh cinta dengan karakter “dingin” sekalipun.
wah review yang sangat menarik, mbak. aku belum pernah baca bukunya Leo tolstoy ini padahal ini sangat terkenal ya bukunya. Baru dapat gambaran nih sama isi bukunya setelah baca review di sini. Perselingkuhan sendiri memang bukan hal yang patut dicontoh. Namun kadang memang ada beberapa cerita yang membuat kita bersalah karena memaklumi perselingkuhan
Kyknya bukunya berat nih mbak temanya hehe. Tapi kadang baca gini kita jadi tahu alasan mengapa seseorang melakukan hal buruk, padahal kalau di real life kita pasti nggak akan dukung, eh malah di baca bukunya kyk jadi paham alasannya haha.
Begitulah hidup keknya ada sebab akibat. Tetapi alangkah baiknya kalau kita membawanya sebagai pelajaran supaya tidak mengambil jalan yang salah, karena apa yang terjadi di buku pastinya belum tentu diterima di dunia nyata. Tapi yaaa lagi2 kita jadi bisa paham POV lain yaa 😀
Jujur, Anna Karenina selalu ada di daftar buku yang ingin saya baca tapi merasa terintimidasi karena ketebalannya. Tapi baca review ini, saya jadi penasaran dengan sosok Karenin yang Mbak ceritakan. Menarik banget melihat bagaimana sebuah buku klasik bisa membuat kita mempertanyakan idealisme pribadi soal pernikahan dan kesetiaan. Tambah semangat untuk berburu buku satu ini.
18 Responses