Penulis : Dinda Pranata
“Cih! Dia tuh cuma beraninya komplain lewat tulisan,” kata salah wanita.
Di balai RW setelah hujan, tidak selalu sejuk. Kadang bisa panas. Bangku plastik di barisan belakang sangat kosong. Entah karena para peserta yang datang mencari kehangatan di antara kerumunan orang, atau memang suasana dingin di belakang membuat bangku di depan lebih cepat terisi.
Aku duduk di barisan tengah. Sendiri. Kesepian? Tidak juga, justru duduk sendiri membuatku lebih bisa melihat dengan jernih rapat RW malam ini.
Krekk duk! Suara kursi berderak. Seorang wanita yang rambutnya berwarna keemasan, duduk di sebelahku. Aku tahu wanita itu. Kami mengobrol dan sampai pada suatu kata yang membuatku berkerut tentang pilihan bersuara. Ada apa dengan pilihan itu? batinku
Bisakah Kita Lebih Legowo dengan Pilihan?
“Oh, ini perkara tentang rapat RW untuk ronda malam itu ya, Bu?” tanyaku. Aku tahu karena beberapa bulan lalu ada keramaian di grup warga, sebuah keputusan yang banyak menuai pro-kontra di kalangan warga.
Baca juga: Ketika Lentera Tak Harus Dengan Api
“Lha iya mbak, ibu itu lho berkoar-koar komplen ke kelurahan karena si RW minta ronda malam,” bisiknya di telingaku, “lha wong dia aja lho manggut-manggut aja pas dijelasin sama si RW.”
Aku tahu. Ibu yang wanita itu bicarakan. Aku tidak akrab, tapi juga tidak juga dekat. Hanya sering bertemu dalam rapat-rapat dasawisma. Namanya Bu Sinta. “Bukankah waktu itu, Bu Sinta menjelaskan panjang lebar alasan ketidaksetujuannya ya Bu?” tanyaku hati-hati.
Kenapa aku berhati-hati? Karena aku tak ingin memperkeruh suasana dengan pertanyaanku.
“Tapi ketidaksetujuannya itu kan karena suaminya kerja pagi,” katanya sambil menyunggingkan senyum tak senang. “Lagipula itu bukan ketidaksetujuan dari mayoritas warga,” lanjutnya sambil berkerut dahi. Agak mengejek si Bu Sinta.
“Oh begitu,” sahutku lagi. Mengangguk sesekali.
Baca juga: Adarusa Marah, Pemberi Utang Resah
“Saya dengar dari Bu RW kalau keputusan Pak RW tuh datang dari mayoritas warga,” jelasnya lagi, “lha kalau dari mayoritas warga kenapa kayak nggak puas sampe koar-koar nulis di web-web apa itu untuk RW 001 di kelurahan lantangbojok.” Aku terdiam sejenak.
Wanita berambut keemasan itu bicara lagi, “lagaknya aja kayak pintar bicara. Orang yang bisanya cuma nulis-nulis gitu, nggak berani menghadapi publik, Mbak!”
Lalu suara speaker dari mic di depan berdengung. Suara sekretaris RW mengucapkan salam. Perbincangan kami berhenti. Tapi kalimat itu seperti kail yang menyangkut di jantungku. Ada apa ini? tanyaku dalam hati.
Benarkah Nyali yang Menulis itu Justru Kerdil?

Pada akhirnya di bagian belakang tidak benar-benar terisi penuh. Hanya tinggal aku seorang diri mengikuti rapat di balai RW itu, di barisan belakang. Kemana ibu itu? Wanita dengan rambut berwarna duduk berpindah tempat ke bagian depan, sisi sebelah kanan.
“Apa mbak nggak liat Bu Sinta itu licik ya? Di depan orang iya-iya, dibelakang nulis-nulis nggak setuju,” kata wanita berambut keemasan itu.
Baca juga: Bilang Terserah, Tapi Kalau Salah Marah
“Begitu ya Bu,” kataku hati-hati sekali lagi, “barangkali kita salah paham sama maksud Bu Sinta.”
“Wah, mbaknya nggak tahu. Makanya mbak jangan terlalu diam kalau ada rapat.” Aku bisa menangkap kekesalan wanita berambut emas di sebelahku. Mungkin jawabanku tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Lantas tak lama, wanita itu celingukan. Mencari seseorang, lalu tanpa berpamitan ia duduk di barisan depan.
Sepulang dari rapat RW, mataku benar-benar tak bisa terpejam. Mengapa ada orang yang menganggap tentang menulis adalah sebuah cara yang kerdil untuk bersuara? Apakah dunia sosial kita tergila-gila, dengan mereka yang begitu lantang seperti speaker? Ataukah kita masih mudah mencocok-cocokkan cara tersebut dengan mereka yang berlindung di balik nama anonim? Pertanyaan itu terus menjeratku cukup lama.
Pak Satpam sudah memukul tiang sebanyak sebelas kali. Mataku tetap tak terpejam. Kepalaku memilin lebih keras, tapi tak satupun jawaban yang bisa memuaskanku. Tak ada resolusi. Dan satu kalimat dari Goethe ini membuatku tertawa getir. Tawa patah-patah.
Ada semacam keseragaman yang dingin dalam diri umat manusia.
Penderitaan Pemuda Werther halaman 11
Apakah ibu yang berambut keemasan, menginginkan keseragaman bahwa semua orang harus pandai berbicara? tanyaku kembali. Kegetiran ini mencuatkan teks-teks lama dari Dubliners yang sempat tertahan dalam lima hari sebelum buku itu kututup.
Bisakah Kita Tak Hanya Melihat yang Seragam?
Jam digital tertulis 11:12. Aku membuka daftar isi dari buku dubliners itu. Telunjukku bergerak dari atas ke bawah, sembari mengingat sebagian ceritanya. Tanganku berhenti di cerpen kedua. Judulnya “Perjumpaan”. Tek tek tek! aku mengetukkan telunjukku di atas buku itu.
“Tidak! Cerita ini rasanya kurang cocok,” kataku mengingat-ingat. “Agaknya ini tentang kritik Joyce akan pendidikan,” ujarku lagi. Aku memiringkan kepala sekali lagi. Aku membuka halamannya dengan cepat. Sekali lagi membaca.
“Ah, aku bisa melihat kau kutu buku seperti diriku. Tetapi,” tambahnya, dia menunjuk ke Mahony yang memperhatikan kami dengan mata membelalak, “dia berbeda; dia lebih senang bermain-main.”
“Perjumpaan”, Dubliners halaman 25
Aku membaca terus sampai menemukan kalimat.
Baca juga: Sertifikat Influencer Ada Untuk Siapa di Panggung Utama?
Dia mengatakan bocah yang bertingkah seperti itu harus dipukul, benar-benar dipukul. Ketika seorang bocah kasar dan sulit diatur, tidak ada yang bisa membantunya selain pukulan keras dan mantap.
“Perjumpaan”, Dubliners halaman 27
Aku berhenti sebentar. Ada sesuatu yang mengaitkan bacaan itu dengan situasi yang terjadi di rapat RW itu. Sedetik, dua detik, lalu detik ke lima puluh tiga. Aku merasa ini semua tentang sudut pandang dan niat.
“Ya, ini tentang gimana pendidikan dan kebiasaan kita melihat orang yang seragam lebih baik. Seragam dalam pendapat, seragam dalam cara pandang, seragam dalam niat. Seragam adalah harmoni,” kataku kemudian. Aku diam sejenak. “Tapi …,” kata-kataku terpotong, “seragam itu hanya di permukaan. Dan kadang tidak sejalan dengan harmoni. Karena seragam yang terpaksa, akan runtuh justru dari dasarnya. Ketakpercayaan.“
“Seperti bagaimana wanita berambut keemasan itu, menuntut Bu Sinta untuk seragam dengan sudut pandang dan niatnya. Lalu, dengan mudah mengerdilkan cara Bu Sinta menguraikan kritiknya melalui sebuah surat atau tulisan,” kataku.
Ranjang di belakang berderak. Ternyata, Aswin terbangun dan menatapku masih duduk di kursi kerja. “Kok, belum tidur?” Aku tersenyum. Menutup buku. “Baru saja selesai,” sahutku. Lalu aku membiarkan pikiran kusut itu hanya ada di atas meja kerja.
Baca juga: Lomba Luka, Siapa Pemenangnya?
Closing by Senja Hari
Nah, pernah nggak sih teman-teman menghadapi hal-hal seperti di atas, barangkali dikerdilkan entah cara berpikir, berpendapat termasuk mungkin profesi yang kalian jalani? Dan, aku yakin tidak mudah menghadapi situasi seperti itu. Kalian bisa berbagi pengalaman kalian di kolom komentar ya mau perasaannya atau bahkan punya cara ampuh menghadapi kondisi-kondisi yang tak menyenangkan itu.
Eits, tetep ya berkomentar dengan bijak. Semata-mata biar jejak digitalnya tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
Comment
Relate banget sama situasi ketika orang yang nggak vokal di forum publik malah dicap aneh atau pengecut. Padahal nggak semua orang nyaman berbicara lantang, dan menulis justru jadi ruang paling jujur untuk merapikan pikiran dan keresahan.
Buat ku menulis bukan hanya sekedar membuat karangan cerita saja. Tetapi tempat informasi yang perlu dibagikan ke semua orang…
Kita kini berada di era dimana perilaku manusia cenderung mengikuti arus, meniru orang lain, atau bertindak secara otomatis tanpa perasaan yang mendalam.
Nampak seragam di permukaan yang nyatanya tercipta karena keterpaksaan.
Jadi deh kalau berbeda akan ditekan dan dikerdilkan.
Hmm gimana ya. Menurutku adakalanya kita butuh keseragaman, namun adakalanya nggak. Kadang seragam itu membosankan, kadang sekadar untuk menyerasikan saja. Entahlah, aku pun bingung jika dihadapkan pada situasi seperti itu, hehe
Memang miris ya, ketika menulis dianggap sebagai bentuk “ketidakberanian”, padahal mengurai isi kepala lewat tulisan butuh kejujuran ekstra. Kadang orang lebih menghargai suara lantang yang kosong dibanding tulisan yang berisi. Padahal, justru lewat tulisan kita bisa lebih jernih melihat persoalan tanpa perlu terbawa emosi sesaat. Semangat terus untuk tetap bersuara lewat jemari, karena tak semua harmoni harus seragam.
Intinya masih ada sebagian orang yang belum bisa melihat perbedaan, menghargai perbedaan dan menerima perbedaan dari sudut pandang yang berbeda jadi kalau lihat ada orang asik dengan dunia nya sendiri suka dipandang aneh,pdhal wajar aja dan ga ada yg perlu dilihat sebagai keanehan juga
Berasa jadi bagian ibu ibu yang lagi gibahin tetangga nih. Wkwkwkwkwk…
Rapat RW bisa “semenakutkan” itu ya
Tapi bagi saya yang introvert memang memilih dengan menulis sih daripada bicara langsung
Pernah kak, kalau aku pas punya anak trs mutusin gak kerja kantoran kagi .duhh menghadapi omongan dan tatapan kadang bikin ilfeel, tapi d bawa santai aja ketika d rumah bisa kok berkarya
Padahal ketidakseragaman justru bisa menjadi seru. Bisa mendapatkan berbagai sudut pandang. Tinggal kemudian bagaimana mengelola berbagai pendapat.Saya juga gak sepakat menyuarakan lewat tulisan dikerdilkan.
Ada orang2 yang dianugerahi public speaking ok, ada yang perlu dilatih, buat menyampaikan pendapat. Ada pula yang lebih terbiasa dan nyaman pakai tulisan.
Yaaa dua2nya sih sebenarnya sama bagusnya, asalkan keknya disampaikan, misal dalam forum resmi gitu ya dengan baik. Sah2 aja sih yaa.
Cuma ya gitu mungkin kalau lewat tulisan kadang interpretasi orang beda2, belum lagi kalau yang baca minat bacanya nggak sebagus itu.
Cuma yaaa, menurutku kedua cara itu valid, sah2 aja sih buat dilakukan 😀
Perbedaan memang tak bisa dihindarkan sih ya. Makanya, kita perlu menyikapi setiap perbedaan dengan bijak
Tulisannya reflektif yang jujur dan dalam. Banyak bagian yang terasa sangat relate.
12 Responses