Penulis : Dinda Pranata
Dia suka menuding orang-orang yang tampangnya tidak dia sukai, seakan mereka itu perampok dan telunjuknya adalah senter polisi.
— Pria Bernama Ove halaman 5
Aku ingat kata-kata itu tiba-tiba. Kata-kata seorang pria tua, yang tinggal di depan rumah kedua orang tuaku ketika aku baru saja pindah ke Banyuwangi. Pria itu punya pohon mangga yang selalu berbuah tanpa peduli musim. Pak tua yang kata para remaja di sekitar adalah Bujang Tua Pemarah.
Dan hujan sore itu, menutup langit senja menjadi benar-benar kelabu, juga menutup Novel Pria Bernama Ove di halaman 384 dan bersamaan dengan terbukanya ingatanku tentang pak tua jutek itu. Aku mendesah. Menyeka air mata datang tanpa permisi.
“Apakah aku terlalu sentimentil karena cerita buku ini atau ingatan lainnya?”
Pria Bernama Ove dan Pak Damar yang Selalu Marah
Namanya Pak Damar. Pria yang tinggal di depan rumah kedua orang tuaku itu terkenal di area kompleks sebagai bujang tua pemarah. Meski ia mudah naik pitam dan terkesan jutek, tapi tak pernah sekalipun beliau mengganggu dan melukai tetangga lain. Malah aku ingat sebaliknya. Dialah yang sering terganggu oleh perilaku tetangganya yang cukup merepotkan perkara suka parkir sembarangan di depan rumahnya.
Baca juga: Life Lesson, Karena yang Negatif Tak Harus Selalu Positif
Bagaimana jadinya kalau semua orang parkir di mana pun sesukanya? Pasti kacau. Akan ada mobil di mana-mana.
— Pria Bernama Ove halaman 13
Awalnya aku merasa Pak Damar adalah tukang komplain untuk hal-hal sepele. Tapi, sejak kumemiliki rumah sendiri dan menghadapi tetangga yang punya karakter beragam, kukira alasan Pak Damar cukup sah untuk merasa jengkel.
Barangkali perasaan sentimentil inilah yang membuatku merasa dekat dengan cerita pria bernama Ove ini. Pria tua pemarah dan ketus yang dianggap anti-sosial oleh lingkungannya. Sikap pemarah dan ketusnya benar-benar mengingatkanku pada Pak Damar, bujang tua pemarah di komplek tinggal kedua orang tuaku.
Suatu hari, aku jengkel mendengar Pak Damar selalu mengomel tentang sampah plastik yang tergeletak di depan rumahnya. Aku bercerita pada bapak-ibu dan tanggapan mereka membuatku heran.
“Ya, biarkan saja. Selama bukan kamu yang membuang sampahnya di sana,” kata Ibu.
Baca juga: Metamorfosis Semangkuk Sop Ayam di Meja Makan
“Jangan suka menilai orang,” kata bapak sambil melipat korannya, “kita tak tahu cerita lengkapnya kenapa Pak Damar seperti itu.”
Aku terdiam. Bukan karena aku memahami situasi Pak Damar, tapi aku paham ketika bapak sudah bicara seperti itu, artinya bapak tahu sesuatu tentang Pak Damar.
Buku karya blogger Swedia bernama Fredrick Backman itu terlampau menyentil masa laluku. Tiap lembar yang kubuka rasanya mirip membuka dosa-dosa masa remaja kala itu.
Kata pepatah, orang-orang terbaik lahir dari kesalahan-kesalahan mereka dan menjadi lebih baik setelahnya, ketimbang kalau mereka tak pernah berbuat salah
— Pria Bernama Ove halaman 13
“Tapi mengapa rasanya aku masih malu dan berdosa atas pikiran-pikiranku pada Pak Damar?” tanyaku ketika hujan selamat datang menyambut pukul sepuluh malam.
Baca juga: Kucing Bernama Dickens: Kisah Peliharaan dan Proses Penyembuhan
Selalu Ada yang Tersembunyi di balik Pagar

akibat sifat pemarah itulah, beliau tak pernah punya tetangga yang akrab. Sampai sebuah kejadian yang membuatku merasa bersalah Pak Damar.
Tak sengaja, ada seorang pemotor yang ugal-ugalan di komplek dan nyaris saja menabrakku. Aku ingat waktu itu sore hari selepas belajar kelompok bersama Retno. Teman sekelas yang rumahnya di ujung gang. Betapa murkanya Pak Damar itu pada pemotor yang nyaris menabrakku dan kabur itu.
“Buta apa ya! Sudah tahu ada papan tulisan ‘HARAP PELAN BANYAK LANSIA DAN ANAK-ANAK’!” serunya sambil menunjuk-nujuk papan yang ada di atas kepalanya itu. Beliau lalu menolongku berdiri. Tentu saja, dengan wajah asam kencurnya. Lalu dengan berani melabrak Pak RT, mengatakan betapa tidak tegasnya Pak RT kompleks.
Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Itu kata mereka. Dan Sonja (alm. istri Ove) memperjuangkan apa yang baik. Memperjuangkan anak-anak yang tak pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja.
— Pria Bernama Ove halaman 234
Tanganku bergetar ketika membaca kalimat itu. Halaman yang kunikmati pada pukul sebelas malam di mana hujan masih belum berhenti. Malah kukira genting rumahku bocor, karena sudut mataku terasa basah.
Baca juga: Buku Paling Melelahkan dan Sulit Dicerna. Apa Itu?
“Pikiranku sendiri kejam. Tak hanya ketika awal membaca buku pria bernama Ove, tapi juga pada Pak Damar saat itu.” Suaraku bergetar dan hidungku meremang.
Setelah kejadian pemotor itu, aku bercerita pada Bapak dan Ibu di rumah. “Kau harus berhenti berpikiran buruk pada orang lain yang tak kau kenal,” kata Ibu.
“Tapi bagaimana bisa? Lha wong yang bikin rumor Bujang Tua Pemarah bukan aku, tapi orang-orang kompleks!” gerutuku sambil mengusap-usap hansaplast pemberian Pak Damar.
“Hush!” seru bapak sambil menjewer telingaku. “Jaga bicaramu!”
Sambil mengusap-usap telingaku yang memerah. Aku mendengar kisah yang tak banyak orang tahu dari balik pagar rumah Pak Damar. “Pak Damar itu tidak menikah, karena dia sudah punya calon istri. Dan sayangnya, sebelum mereka menikah calon istrinya meninggal lebih dulu.”
Baca juga: Kenanga yang Memecah Batuan Adat di Novel Oka Rusmini
Mendengar itu dari bapak jantungku terasa ikut berhenti. “Jadi, jangan lagi-lagi menyebut Pak Damar Bujang Tua pemarah. Itu tidak pantas,” kata ibu memperingatkan. Dan aku diam saja.
Orang-orang Seperti Ove dan Rune (sahabat, tetangga sekaligus musuh Ove) lahir dari generasi ketika orang dinilai berdasarkan tindakannya, bukan omongannya.
— Pria Bernama Ove halaman 309
Jika Ingin Menilai, Galilah Sampai Ke Dasarnya
Ketika aku membaca lebih banyak lembar-lembar buku pria bernama Ove itu, rasa bersalahku pada Pak Damar semakin menjadi. “Pak Damar dan Ove sama-sama pemarah. Itu karena ada hal yang ia ingin lindungi.”
Setelah Ove kehilangan Sonja yang merupakan dunianya, maka bukan tidak mungkin ada kesepian selama bertahun-tahun kehidupannya. Ove tidak marah pada tetangganya, tapi ia marah pada dunia yang seolah mengambil Sonja (istrinya), calon anaknya dan kehidupan berwarna mereka.
“Barangkali Pak Damar seperti Ove. Kehilangan calon istrinya, kehilangan orang tuanya dan kini hanya sebatang kara.” gumamku. Lalu hening.
Satu kata terakhir Pak Damar yang hangat dan datang tak terduga dari pria pemarah sepertinya. “Jika kau ingin menilaiku, galilah sampai ke dasar!”
Aku tahu Pak Damar mengetahui pikiranku yang sering mengatakannya Bujang Tua Pemarah. Satu kata yang diucapkannya menjadi pengingat dosa seumur hidupku karena sudah menilai terlalu cepat. Lalu, ketika buku itu berakhir dengan di pangkuanku dengan kalimat:
Sampaikan salam sayangku pada Sonja, dan terima kasihku karena dia telah meminjamkanmu pada kami.
— Pria Bernama Ove halaman 376
Sebuah ketukan keras dari pintu membelalakkan mataku. “Bun … di toiletnya jangan lama-lama. Aku mau BAB nih!”
Flush kunyalakan. Aku menghembuskan nafas pelan-pelan.
Closing by Senja Hari
Adakah dari kalian punya kenalan yang pemarah atau jutek tapi sebenarnya orangnya baik? Kira-kira seperti Pak Damar (tetanggaku) dan Ove dalam novel ini. Bisa dong cerita gimana interaksi kalian dengan mereka di kolom komentar.
Sudahkan kalian membaca novel Pria Bernama Ove ini atau novel yang sejenis sepertinya? Boleh lho kalian juga berbagi pengalaman seputar membaca. Barangkali juga ada nih film-film yang serupa dengan novel Pria Bernama Ove, boleh banget ikutan komen buat berbagi cerita seputar pengalaman nontonnya. Tetap ya gaes, dengan bahasa sopan. Semata-mata biar jejak digital kalian bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~