Penulis : Dinda Pranata
“Mbak, silakan onde-ondenya. Masih hangat.”
Pagi itu pasar Klojen masang sudah ramai. Aku melirik ke jam tangan kulit yang usianya 10 tahun lebih muda dariku. Jam panjang belum genap ke angka enam. Setengah sembilan kurang sedikit, batinku.
Pasar Klojen Kota Malang, sudah banyak perubahan. Lebih bersih, lebih rapi dan bahkan bisa jadi tempat kuliner untuk mengisi perut di pagi hari. Sampai aku bertemu dengan mbak-mbak bertumbuh tinggi yang menawarkan jajan onde-onde yang masih hangat.
Kepulan asap tipisnya itu, mengaburkan pandangan sampai mendistorsi memori otak. Seolah Buku Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo ini tercetak nyata. Bagaimana aku menerjemahkan distorsi ini? Asap itu mencapai mataku.
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang Biasa
Perempuan paruh baya itu sedang sibuk menggoreng puluhan onde-onde di satu wajan besar. Desis minyak panas terdengar hingga ke telingaku yang berada di depan konternya. “Satu kotaknya isi berapa, Bu?” tanyaku sambil menunjuk onde-onde ukuran besar.
Baca juga: Review Kitab Kawin yang Menunjukkan Sisi Lain Perempuan
“Kalau yang besar itu, satu kotak ini isi empat. Kalau kota ukurang panjang isi delapan,” jawabnya. Tangannya yang sudah mulai keriput sedang sibuk membolak-balikkan onde-onde berbalut kacang wijen itu. “Saya mau yang isi empat ya, Bu,” pilihku sambil menunjuk kotak ukuran kecil.
Tak lama kemudian si ibu penjual mendesis, dan setelahnya seekor kucing keluar dari konternya.
“Bapak ini kemana sih,” gumamnya, “kucingnya kok ditinggal. Mana di pasar pula.”
“Itu kucing ibu?” tanyaku sambil melihat si ibu yang meniriskan minyak dari onde-onde di penggorengan.
“Iya mbak,” sahutnya, “itu suami saya punya kucing, tapi giliran suruh jaga, malah kabur.” Ibu itu kemudian menyiapkan kotak kecil dan di dalamnya diberi alas dari kertas minyak warna coklat.
Baca juga: Asus AiO V400 dan Panggilan Liar Di Ruang Otopsi
Cerita ibu itu mengingatkan satu cerita pendek dari buku itu tentang pasangan suami istri yang memelihara kucing, lantaran tak tega melihat kucing di jalan. Lambat laun satu kucing beranak-pinak dan menginvasi rumah pasangan suami istri itu. Aku tersenyum getir.
Dia pergi, karena .., katanya kucing kami terlalu banyak. Dia tidak bisa bergerak, tidak bisa bekerja, karena waktunya habis untuk urus kucing.
— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 5
“Lho, kabur kemana Bu?” tanyaku sambil menyerahkan uang dua lembar sepuluh ribuan.
“Nggak jauh-jauh mbak. Paling sedang ngobi di kedai abah di sana.” Ibu berambut kelabu menunjuk satu kedai di dekat pintu keluar pasar yang cukup ramai. Aku mengela nafas, bersyukur kisah ibu itu berbeda jauh dengan kisah-kisah dalam buku kios pasar sore yang salah satunya harus ditinggalkan oleh suaminya sendiri.
Aku menerima kembalian dan lalu meninggalkan konter onde-onde itu. Entah apa yang ingin kucari di Pasar Klojen pagi itu.
Baca juga: Review Bukan Pasar Malam: Dari Filsafat, Profesi Sampai Politik
Bukan Cerita yang Dramatis, Tapi Benar-benar Biasa Ditemui
Aku menyusuri lantai hitam di area pasar. Melewati pedagang makanan, kios sembako, bakul buah sampai penjual ikan dalam satu atap. Aku kira Pasar Klojen yang tercampur seperti itu akan menimbulkan bau-bau tak sedap ala pasar. Tidak. Sungguh ajaib memang.
Tak heran banyak pelancong bahkan anak-anak muda yang sekedar cari sarapan atau siang di dalam pasar. Mataku lantas tertumbuk pada satu kedai yang amat ramai. Konternya ada di pinggir pasar, dekat dengan pintu masuk. Aku berjalan mendekat, sekedar ingin tahu apa yang dijualnya.
Tahu bakso dan aneka dimsum. Aku membaca tulisan di atas konternya. “Apa seenak itu ya?” tanyaku lirih pada diri sendiri. Antrian itu tak membuat aku bisa maju selangkah ke depan. Tak disangka seorang pengunjung pasar, berbisik (barangkali dengan temannya), “lha sing dodol ayu (lha, yang jual cantik).”
Aku pun menatap satu per satu pengunjung dan memang hampir di dominasi oleh semut-semut jantan. Sungguh tak terduga. Mungkin memang mbak penjualnya cantik, berambut panjang, tapi di sisi kirinya ada seorang pria yang sesekali menunjukkan wajah masam. “Apa ia pacarnya, suaminya atau …,” kata-kataku terhenti. Menggeleng, menghenyakkan pikiran-pikiran tak elok. Akhirnya kulepaskan diri dari para kerumunan semut-semut pejantan itu.
Ross, sebentar …. Jadi hanya karena dia tidak mau bilang pyar-pyar, kamu pulang kampung? Apa ini, Ross?
— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 23
“Kalau dipikir-pikir, jadi ingat satu cerita berjudul ‘Ross dan Joko’ di buku itu. Tentang bagaimana si Ross kabur karena si Joko (suaminya) tak pernah bilang I Love You dalam bahasa India,” gumamku sambil sesekali menundukkan kepala. “Meski berbeda cerita, tapi rasa-rasanya cerita tentang cemburu dan ingin diperhatikan pun selalu menarik. Walau tak harus selalu dramatis,” kataku.
Hampir satu jam aku berputar-putar di pasar Klojen yang tak terlalu luas itu. Kupikir aku akan membawa pulang belanjaan untuk masak di rumah. Nyatanya memang tidak selalu sesuai dengan rencana. Satu kotak onde-onde, satu kilo ayam fillet dan dua ikat kangkung. Aku mendesah, membayangkan berkilo-kilo jalan harus kugilas di tengah kota.
Gambaran Utuh yang Justru Datang Dari Potongan Kecil
Motor skuter buntutku menggilas lebih dari tujuh kilo jalanan aspal untuk sampai di rumah. Belum juga setengah jalan, di perempatan lampu merah dekat pasar cukam, seorang nenek-nenek bungkuk membawa bungkus kemasan permen.
“Mbak, sak ikhlas e mawon (mbak, seikhlasnya saja),” katanya. Wajahnya kuyu. Barangkali lelah dengan kehidupan jalanan. Aku mengeluarkan sesuatu dari balik kantong. Bukan sesuatu yang mewah, tapi berharap bisa mengurai rasa lelahnya.
“Matur nuwun, Nak,” katanya. Seulas senyum lebar tergambar di sudut-sudut wajah yang termakan usia.
Baca juga: Cecilia Dan Malaikat, Percakapan Ringan Antara Penghuni Surga Dan Bumi!
Aku mendesah, bayangan wajah almarhum ibu-bapak seperti menggelayut di atas lampu lalu lintas di atasku. Masih ada lansia yang tak punya keluarga seperti ini di sini. Bagaimana anaknya? Di mana keluarganya? tanyaku pada diri sendiri. Membatin.
Awan di atas kepalaku seperti menorehkan cerita dari cerpen halaman terakhir di buku terbitan Shira Media itu. Cerpen yang mengisahkan seorang Nenek yang pulang ke kampung halaman puluhan tahun lalu, ketika pecah perang saudara di Ambon. Anak dan Suaminya meninggal dalam tragedi di Ambon. Tapi, meski ia pulang ke tanah kelahirannya, raga dan asanya ingin dikubur dekat dengan keluarganya.
“Dan mengapa wajah almarhum ibu-bapak membayang di sana,” gumamku sambil menengadah. Takut embun-embun menyerobot masuk ke dalam mata. Tumpah.
Tetapi yang lebih penting dari itu, ia ingin mati di kampung yang sangat dikenalnya, yang menyimpan tubuh anak dan suaminya.
— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 125.
Bel klakson membuatku kembali fokus. Lampu merah berganti hijau. Awan itu pun memudar dan buku Kios Pasar Sore setebal 125 halaman itu berakhir dengan kata Bukan Wonogiri.
Baca juga: Perawan Remaja yang Tak Pernah Memandang Sebuah Kota Bernama Tokyo
Roda motor skuterku menggilas aspal sekali lagi. Menuju pulang.
Closing by Senja Hari
Minggu ini kalian sudah atau sedang baca buku apa nih gengs? Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo ini ceritanya bukan tentang hal-hal yang mewah atau dramatis, tapi banyak hal yang rasanya sering kita anggap biasa saja, yang nyatanya buat hidup jadi jumpalitan. Ada nggak yang udah baca buku dari mbak Reda ini? atau barangkali buku apa yang ongoing dibaca? Bisa share di kolom komentar ya.
Tetap ya, komennya dengan bahasa sopan semata-mata biar jejak digital kalian bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~