Penulis : Dinda Pranata
Kota Bung Karo sedang terik. Awan di atas kepala, putih tanpa bayangan. Mengambang seperti gulali pasar malam. Tak ada tanda-tanda akan hujan. Hawa menjadi lebih gerah dan kering. Tak seperti musim-musim hujan.
Di bawah pohon (yang tak kutahu namanya), membuat kepala yang sejak tadi berputar di sekitar frasa Menua Dengan Gembira, berhenti sejenak. Mataku memperhatikan bocah lanang yang sedang bermain di rumah balon di seberang. Lantas, sebuah gerobak makanan membuatku memiringkan kepala.
Frasa itu kembali. Seperti sudah mengalami metamorfosis tentang cara menua dengan gembira. Mungkin saja.
Gembira Di Sudut dan Tepian
Membuka buku milik Andina Dwi Fatma di jalan Sananwetan kota Blitar pertama kali membawa hawa segar di panasnya kota Blitar. Ketika satu judul besar dari kumpulan esainya langsung memantikku membayangkan cireng milik Mbak Anna, salah satu tetanggaku yang terkenal laris.
Di balik cireng yang nikmat itu tentu saja ada hal yang kubayangkan dan barangkali terlewat dari pembeli-pembeli mbak Anna. Tentang gedebag-gedebung-nya mbak Anna memasak, menyiapkan bahan cireng, mengukur adonan, cara ia menjual cireng-cirengnya, dan kejulidan-kejulidan yang tak ia ceritakan.
Baca juga: Review When Marnie Was There, Benang Merah Anak Kesepian
Di media sosial sempat beredar video orang yang enggan nikah muda karena takut nanti status WhatApp-nya berisi update “cireng ready y bund“.
Menua dengan gembira halaman 2
Tak pelak aku ingin tertawa. Kata dalam status itu terlalu dekat dengan lingkar ibu-ibu yang berputar di sekelilingku. Tapi aku tak bisa menampik, kata-kata itu tentu tidak hanya menggembirakan bagi mbak Anna, tapi juga bagi pembeli sepertiku yang enggan menyalakan motor hanya untuk beli cireng seharga lima ribu.
Esai-esai pendek sejumlah dua puluh enam itu, nyaris tak membuat dahi berkerut sejadi-jadinya. Pohon di atasku tampak bergoyang, seolah ikut melongok isi buku yang membuatku tertawa di cuaca panas.
Sebuah Kompromi di Pinggiran

Bocah lanangku tak butuh lama untuk bisa bermain dengan teman asing yang baru ia temui. Aku melongok untuk sekedar memeriksa si bocah. Tapi seperti biasa, ia terlalu sibuk memperhatikan diriku sampai-sampai kepalanya tak menoleh. Lantas mataku bergerak dan tertuju pada satu gerobak rujak milik pria yang tak jauh dari tempat bermain si bocah.
Beberapa esai pendek itu sudah terbaca. Agaknya tulisan “ANGSURAN” pada rombong rujak itu seperti memantul ke isi dadaku yang meradang numpang parkir di kompleks perumahan. Apakah segenting itu punya mobil mentereng atau jumlah mobil yang bak showroom dalam rumah? Sementara, lahan parkir saja masih diam-diam ‘angsur izin’ ke lahan tetangga. Pelik.
Baca juga: Novel Emma: Idealitas Wanita di Era Victoria
Mungkin kita bisa berharap persoalan numpang parkir selesai dengan preferensi milenial dan gen Z pada transportasi umum dan daring yang semakin tinggi. Apalagi kalau cicilan rumah atau apartemen sudah bikin mereka pingsan duluan. Cicilan mobil pun nomor kesekian.
Menua dengan gembira halaman 31
Sayangnya kata-kata itu seperti ironi keras tatkala aku melihat bapak pemilik rombong yang duduk di trotoar dengan wajah yang sayu memandang orang berlalu-lalang. Para tetangga yang masih angsur izin lahan parkir, apakah masih bisa menahan egonya ketika melihat bapak itu? Ulu hatiku rasanya kempes. Barangkali bapak itu menjadi salah satu “Yang Terjepit dan Terdesak” yang disaksikan oleh mataku.
Bahwa manusia selalu berupaya melakukan yang terbaik dalam kondisi yang sesungguhnya mengenaskan, agar setidak-tidaknya berkesempatan untuk berbahagia walau nyaris selalu terjepit dan terdesak …
Menua dengan Gembira halaman 49
Ketika pikiran ini sudah terlalu sibuk, aku tak menyadari bahwa si bocah mendekat. Dengan suara soprannya ia mulai merengek meminta beli mainan gelembung di sisi lain Taman Kebun Rojo. Aku menutup setengah buku itu dan mengikuti kemana si bocah menarikku.
Gembira Kembali Dalam Realita
Langit menjelang malam tampak aneh. Entahlah. Hanya terpikir bagaimana bisa warna jingga, biru dan gelap ada di langit yang sama. Seperti saat aku menatap minyak dalam gelas berisi air. Tidak menyatu, tapi begitu bentuknya.
Baca juga: Cecilia Dan Malaikat, Percakapan Ringan Antara Penghuni Surga Dan Bumi!
Dalam satu hari kumpulan esai setebal 142 halaman ini habis terbaca. Aku tidak menemukan bagaimana buku ini membahas tentang cara menua dengan gembira. Sekali lagi aku sudah terpedayai oleh asumsi-asumsiku dan malah memeliharanya hingga aku membuka buku ini di Kebun Rojo itu. “Sial, bodohnya aku!” gerutuku sambil memijit-mijit dahi. Ada seringai konyol yang menertawakan kebodohan asumsiku tentang bagaimana buku ini membawaku terus membaca sejauh ini.
Di balik esai-esai yang kadang bikin tertawa getir, tertawa konyol sekaligus tertawa lepas, Menua dengan Gembira mengajakku untuk gembira dalam realita. Di balik hingar-bingar kehidupan ‘gembira’ ini, punya realitanya sendiri. Realita yang terlampau getir bagi sudut pandang orang lain. Mirip saat orang-orang menikmati candaan jorok di platform-platform. Atau realita konyol yang barangkali mudah ditertawakan oleh sebagian orang.
Barangkali aset terbesar negara ini adalah orang-orang yang cukup berbahagia dengan jajan di pasar malam, ngobrol ngalor ngidul sambil minum kopi instan dan membawa anak mereka naik odong-odong lima ribuan, sementara di atas sana semuanya berjalan seperti business as usual
Menua dengan gembira halaman 140
Begitulah barangkali kehidupan gembira ini hidup, tak selalu dengan canda-tawanya. Kadang ia bermetamorfosis dalam bentuk kebalikan dan ingin tetap bernama bahagia. Sederhana, tapi tak banyak yang tahu.
Buku tertutup bersamaan dengan tirai di sebelahku. Sudah malam waktunya lampu jalan di depan rumah bekerja.
Baca juga: Lebih Senyap dari Bisikan, tapi Lebih Keras dari Gosip Tetangga
Closing by Senja Hari
Nah, nah … ada yang sudah baca bukunya Mbak Andina kah? Mau yang Menua dengan Gembira atau buku yang lainnya, barangkali? Boleh dong bagi-bagi insight-nya seputar buku-buku penulis ini. Atau kalian yang belum baca, barangkali punya rekomendasi bacaan lain yang menarik, juga bisa kok berbagi di kolom komentar.
As always, berkomentarnya yang bijak ya, semata-mata biar jejak digital tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
Comment
Teringat masyarakat sekitar rumah saya nih
Pas banyak pegawai PPPK yang diangkat, mereka berlomba membeli mobil. Padahal mereka itu tidak punya garasi. Jadinya itu mobil mereka parkir di jalan, di kantor desa, penggilingan padi dsb…
Saya juga sering mikir apakah seperti itu memilih punya mobil mentereng atau jumlah mobil yang bak showroom? Sementara, lahan parkir saja masih kata mbak diam-diam ‘angsur izin’ ke lahan tetangga. Mending kalau tidak merepotkan, lah ini menghalangi jalan keluar masuk kami lho…
Aku blm baca buku dari Mba andina nie….jadi penasaran sepertinya menarik karena ada sisi kocaknya dimana kita bisa tersenyum getir 🤭
Bukunya ini terbagi atas beberapa bab yg mempunyai cerita sendiri2 gt kah mba? Atau semacam buku nonfiksi yg bercerita tentang tips menua dengan bahagia??
Sama mbaa eryka….saya juga penasaraaan bangeet niih sama buku yang satu ini😆
Belum baca buku ini. Tp aku suka dengan judulnya, menua dengan gembira. Sesuai banget dengan yg diharapkan mengingat usia pun udah ga bisa dibilang muda 😂.
Beberapa quotes nya langsung keinget dengan realita di lapangan. Orang Indonesia ini memang bawaannya happy sih. Mau sebanyak apapun cobaan, tapi kita terbiasa menghadapi dengan senyuman, optimis, dan yakin roda akan kembali ke atas. Itu yg aku salut. Jadi mungkin menua dengan gembira , memungkinkan banget buat dicapai 😄😄. Terkadang pun, musibah yg DTG, kita bisa ambil sisi positifnya. Itu yg belum tentu ada di warga negara lain 😂
Hahaahaaa iyes🐟🍼 setujuu bangettt
selaras dgn filosofi jawa “Nrimo ing pandum” wis, pokoke bahagiaa dulu aja lahhhh, kondisi pemerintah kacrut juga mau gimana dahh
Aku sukaaa ama buah pikir Andina.
Dosen plus sastrawan yg mayan aktif di X.
Mindblowing bangettt.
Hihihi… aku setuju mbak. Kadang kalau dilihat-lihat di Indonesia tuh warganya bisa dibilang woles. Meski ya dengan segala keruwetan negara yang war wer wor.. 😀
Penasaraaan mau baca juga mbak, judulnya menarik.. bikin saya jadi terpekik.. tercekik.. terr.. pelik. Ah entahlah kata apa pulak yang rimanya sama, hahaha.
Dari beberapa quotes yang disebutkan, menggambarkan rakyat Indonesia sekali mbak. Kita mah berusaha untuk menikmati dan tidak mengeluh atas segala situasi yang terjadi, sementara yang diatas sana malah kagak tau diri. Nyebeliiiiiin dah pokoknya wkwkwk
Mau aja ngomong kalau yang atas mah tahu apa ya. Wkwkwk… Yang dilihat kan ya kita yang berusaha menua dengan gembira.. Padahal ya terpelik-pelik juga di sini.. hihihi.. 😀
Jadi terbawa gembira ya mbaa saat membaca buku ini. Jujur saya belum oernah membaca buku-buku karangan beliau. Next saya masukkan list bacaan tahun 2026 ini. Bismillah tamaat😍
Saya tergelitik membaca, Banyak angsuran bikin lupa capek hehhe. Memnag benar sih. Harus semangat kerja-kerja.. karena harus melunasi cicilan karena nanti dikejar dept kolektor dan kendaraan bisa ditarik. Dan hal inilah yang membuat hidup Tak tenang. Sehingga tak bisa merasakan menua dengan bahagia. Jadi kuncinya memang pada diri sendiri. Hidup sesuai kebutuhan saja. Bukan keinginan. Kayak pengin punya mobil tapi garasi ya ada, ya susah juga. Akhirnya parkir di jalanan yang mengambil jalanan umum.
Judul bukunya langsung menamparku nih mbak 😀
Kyknya aku mau mencari juga deh, soalnya relate sama usiaku yang makin otw senja haha 😀
Sepertinya kalau membaca buku ini tuh bisa sebagai upaya penerimaan diri akan kondisi yaa, bahwa usia makin dewasa juga makin diiringi dengan konsekuensi2nya, apalagi cicilan astogeee, kehidupan dewasa seberat itu.
Tapi aku sih percaya Tuhan nggak membebani kita dengan hal yang nggak kita mampu, jadi masa2 kyk sekarang bisa dilewati baik, semoga sampai pada masa senja penuh bahagia sesuai harapan aamiin 😀
Lagi dan lagi, aku belum baca buku Menua dengan Gembira. Jujur aku suka sekali cover bukunya. Sangat menarik mata. Tetapi isinya terasa sangat dekat sama keseharian ya. Bahwa tidak semua getir terasa menyakitkan ataupun semua gembira berasa membahagiakan. Tetapi, masyarakat dan warga kita memang sangat pandai bersyukur. Di tengah himpitan duniawi masih bisa enjoy dan tenang menjalani. Bahkan tetap ada tawa meski tak jauh dari ragam derita. Dunia memang panggung sementara ya.
denger panggung kok ya aku jadi nyanyi ya, dunia ini panggung sandiwara… hihihi.. 😀
Covernya tuh emang cakep pinkish gitu. Pernah nggak sih kalau beli buku tuh syukak dulu sama covernya? *apa aku doang ya yang kayak gitu.. 😀
Lagi-lagi kalau beli buku tuh kadang terjebak sama covernya lho. Hihihi.. Tapi bersyukurnya tuh seperti yang diharapkan. Huhuhu… 😀
Aku belum baca bukunya Mbak Andina. Cuma rasanya, buku Menua dengan Gembira ini bisa jadi teman di kala weekend.
Jaman sekarang mah yang penting punya mobil dulu. Urusan nggak punya lahan parkir itu belakangan.
Nanti tinggal parkir aja sembarangan depan rumah sendiri atau rumah tetangga. Sudah beres.
Padahal, beberapa waktu yang lalu, ada orang yang ribut soal lahan parkir ini. Hehehe
Bagian hal 49 – agar setidak-tidaknya berkesempatan untuk berbahagia walau nyaris selalu terjepit dan terdesak …-
Aku tergelitik bagaimana penulis mengangkat isu sosial yang menurutku relevan.
Walau belum membaca secara utuh, dengan ulasan singkat darimu, sudah membuat hariku bergembira. Terima kasih Dinda.
Dari judul bukunya Mbak Anna ini langsung tersibak bahwa Menua dengan Gembira itu mudah sebenarnya, dan mungkin dianggap sederhana bagi yang lain, entah itu sekadar minum kopi, Jalan-jalan ataupun ngobrolin yang mungkin dianggap nggak jelas.
Sepertinya asik dibaca langsung nih, biar bisa kulik lebih mendalam dan menularkan semangat gembira ria itu
Saya belum baca buku Menua dengan Gembira, tapi berharap dan menjadi doa masa tua nya seperti judul buku Andina Dwifatma ini.
Kutipan-kutipannya lumayan menggelitik, cukup mewakili kondisi warga di negeri ini yang hidupnya lebih santai tetapi tetap optimis. That’s why we love it
Aku belum baca bukunya mbak, menarik sepertinya, suka dengan gaya minimal
Sebuah buku dengan tema yang menarik karena Menua dengan Gembira itu adalah cerminan dari kehidupan banyak orang ketiga sebuah usaha bagaimana caranya ketika di hari tua nanti bisa bergembira karena kadang-kadang kebahagiaan orang itu berbeda-beda. Tapi semua orang pada akhirnya ingin gembira apalagi di hari tua nanti
Aku pernah baca novel andina ini yang menang lomba itu tapi karena narasinya panjang banget aku bacanya skimming. Tapi ini bukan novel ya melainkan esai gitu dan sepertinya menarik nih untuk dibaca karena sangat relate dengan kehidupan sekarang
Menua dengan bahagia. Bahagia dengan caranya masing-masing, terlepas bahagia palsu atau semu karena memiliki sesuatu atau karena hal lain. Bahagia dengan caranya masing-masing. Seperti itu ya mbak gambaran yang diangkat dalam buku ini?
Aku belum baca buku ini. Tapi dari judulnya menarik ya. Apalagi quote-quote yang relate dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kayanya kumpulan esai ini layak dicoba untuk dibaca.
Menua dengan gembira itu lah yg diusahakan setiap manusia , kadar bahagianya mu gkin2 beda ada seperti yg dikutip hlm 140 diatas sekedar ngobrol ngalor ngidul , atau jajan dipasar malam
Pastinya Teh Nuy, kadar bahagia tiap orang berbeda. Begitupun hal yang membahagiakannya juga belum tentu sama.
Jadi memang kepada diri kitanya sendiri sih yang bisa merasa bahagianya itu seperti apa
Mbaaa bikin penasaran banget buat baca Menua dengan Gembira iniii.. Buku ini ternyata kumpulan esai ringan dari Andina Dwifatma yang mengangkat hal-hal kecil sehari-hari supaya terasa lebih bermakna dan dekat dengan kehidupan kita.. Wishlist buat dibaca
Hmm… sepertinya kita digiring untuk positive thinking
Melihat kondisi bapak di pinggir jalan itu sebenarnya mengetuk akal dan hati kita untuk bersyukur dengan apa yang ada pada diri saat ini sebab bisa jadi banyak yang mendambakannya juga
Hmm… sayangnya belum baca
Jadi penasaran mau lihat halaman halaman awalnya
Tulisannya ringan, hangat, dan terasa sangat dekat dengan keseharian. Detail kecil seperti cuaca, gerobak makanan, dan percakapan batin membuat gagasan menua dengan gembira hadir secara alami, tanpa menggurui. Membaca artikel ini seperti diajak berhenti sejenak, tersenyum, lalu berdamai dengan hal-hal sederhana dalam hidup.
Aku sangat hepi dengan menua nya diriku. Apalagi di umur skrang yang mau otw 30 tahun. Banyak sekali yang harus ku perbaiki dan belajar trus soal kehidupan…
Langsung masuk TBR setelah baca review ini! Kayaknya bakal cocok untukku yang memang sedang dalam masa tidak tahu harus bagaimana cara gembira.
ih kesel banget wkwk, memang yaaa ketakutan orang2 jualan setelah menikah itu bak aib padahal jualan juga halal loh hahaha aku ngakak di part cireng ya Allah. Super relateeee dengan keadaan jadi istri dan ibu hahaha
Ekspektasi saya juga sudah tinggi.. merasa senang bakalan ada tips atau cara bagaimana biar saat tua datang bisa menghadapinya dengan gembira
Ternyata cukup zonk yaaa?
Tapi setidaknya, ada hal lain yang bermanfaat juga. Membaca buku itu tidak sia sia ya
Aku belum baca bukunya, tapi semoga kita bisa menua dengan gembira. Kenyataannya, sekarang, di zaman saat ini hal kaya gitu enggak mudah. Ada syarat dan ketentuan untuk menua dengan bahagia. Mana banyak yang berpendapat kalau gak punya cicilan tuh enggak semangat kerja
Bener banget, cara kita memandang masa tua itu penting banget ya. Aku suka poin-poin yang kamu bahas di sini, bikin aku dapet sudut pandang baru.
aku berpikir isinya tps=tips bahagia dimasa tua, tapi ternayata …beda. Ya menua dengan gembira adalah menerima kenyataan, menikmati keadaan sehingga enggak jadi beban pikiran..jalani nikmati syukuri
Quotenya dari bukunya menarik banget.. Ada yang bikin ngikik sekaligus merenung
Memang iya sih, kadar bahagia itu bisa sederhana memperhatikan ekspresi anak-anak yang lagi naik odong-odong
Memang yang kebayang dari nikah adalah tinggal serumah dengan orang yang dicintai.
Tapii.. konsekuensi setelahnya juga jangan lupa yaa, cyiin..
Tapi as long as kita satu visi, itu yang namanya punya support system terbaik.
Bukunya menarik banget sih ini kayaknya memotret hal-hal yang ada di sekitar kita. Bicara soal pernikahan aku jadi ingat beberapa hari lalu di thread ada yang posting kayak gini. “kalau sebelum nikah kamu nggak jualan trus setelah nikah tahu-tahu harus jualan berarti downgrade. Mending cerai aja kalau gitu.” langsung deh banyak yang mampir ke postingan dia
Proses menua memang nggak bisa dihindari, tapi cara kita menyikapinya bisa dipilih. Menerima perubahan dengan lebih ramah ke diri sendiri rasanya jauh lebih menenangkan
Di acara book club-ku bulan lalu ada yang bawa buku ini mba. Kebetulan penulisnya teman dari rekanku. Jadi makin penasaran buat baca secara utuh.
Belum pernah baca buku mbak Andina
Sepertinya buku menua dengan gembira ini menarik
40 Responses