Home / Pojokan

Menyusuri Kios Pasar Sore

Senjahari.com - 02/03/2026

review buku kios pasar sore

Penulis : Dinda Pranata

“Mbak, silakan onde-ondenya. Masih hangat.”

Pagi itu pasar Klojen masang sudah ramai. Aku melirik ke jam tangan kulit yang usianya 10 tahun lebih muda dariku. Jam panjang belum genap ke angka enam. Setengah sembilan kurang sedikit, batinku.

Pasar Klojen Kota Malang, sudah banyak perubahan. Lebih bersih, lebih rapi dan bahkan bisa jadi tempat kuliner untuk mengisi perut di pagi hari. Sampai aku bertemu dengan mbak-mbak bertumbuh tinggi yang menawarkan jajan onde-onde yang masih hangat.

Kepulan asap tipisnya itu, mengaburkan pandangan sampai mendistorsi memori otak. Seolah Buku Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo ini tercetak nyata. Bagaimana aku menerjemahkan distorsi ini? Asap itu mencapai mataku.

Kios Pasar Sore dan Cerita Orang Biasa

Perempuan paruh baya itu sedang sibuk menggoreng puluhan onde-onde di satu wajan besar. Desis minyak panas terdengar hingga ke telingaku yang berada di depan konternya. “Satu kotaknya isi berapa, Bu?” tanyaku sambil menunjuk onde-onde ukuran besar.

Baca juga: Cecilia Dan Malaikat, Percakapan Ringan Antara Penghuni Surga Dan Bumi!

“Kalau yang besar itu, satu kotak ini isi empat. Kalau kota ukurang panjang isi delapan,” jawabnya. Tangannya yang sudah mulai keriput sedang sibuk membolak-balikkan onde-onde berbalut kacang wijen itu. “Saya mau yang isi empat ya, Bu,” pilihku sambil menunjuk kotak ukuran kecil.

Tak lama kemudian si ibu penjual mendesis, dan setelahnya seekor kucing keluar dari konternya.

“Bapak ini kemana sih,” gumamnya, “kucingnya kok ditinggal. Mana di pasar pula.”

“Itu kucing ibu?” tanyaku sambil melihat si ibu yang meniriskan minyak dari onde-onde di penggorengan.

“Iya mbak,” sahutnya, “itu suami saya punya kucing, tapi giliran suruh jaga, malah kabur.” Ibu itu kemudian menyiapkan kotak kecil dan di dalamnya diberi alas dari kertas minyak warna coklat.

Baca juga: Buku Tentang Freud, Kelamin dan Serigala Betina

Cerita ibu itu mengingatkan satu cerita pendek dari buku itu tentang pasangan suami istri yang memelihara kucing, lantaran tak tega melihat kucing di jalan. Lambat laun satu kucing beranak-pinak dan menginvasi rumah pasangan suami istri itu. Aku tersenyum getir.

Dia pergi, karena .., katanya kucing kami terlalu banyak. Dia tidak bisa bergerak, tidak bisa bekerja, karena waktunya habis untuk urus kucing.

— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 5

“Lho, kabur kemana Bu?” tanyaku sambil menyerahkan uang dua lembar sepuluh ribuan.

“Nggak jauh-jauh mbak. Paling sedang ngobi di kedai abah di sana.” Ibu berambut kelabu menunjuk satu kedai di dekat pintu keluar pasar yang cukup ramai. Aku mengela nafas, bersyukur kisah ibu itu berbeda jauh dengan kisah-kisah dalam buku kios pasar sore yang salah satunya harus ditinggalkan oleh suaminya sendiri.

Aku menerima kembalian dan lalu meninggalkan konter onde-onde itu. Entah apa yang ingin kucari di Pasar Klojen pagi itu.

Baca juga: The Girl on Paper, Kisah Cinta Penulis dan Tokoh Novel

Bukan Cerita yang Dramatis, Tapi Benar-benar Biasa Ditemui

Aku menyusuri lantai hitam di area pasar. Melewati pedagang makanan, kios sembako, bakul buah sampai penjual ikan dalam satu atap. Aku kira Pasar Klojen yang tercampur seperti itu akan menimbulkan bau-bau tak sedap ala pasar. Tidak. Sungguh ajaib memang.

Tak heran banyak pelancong bahkan anak-anak muda yang sekedar cari sarapan atau siang di dalam pasar. Mataku lantas tertumbuk pada satu kedai yang amat ramai. Konternya ada di pinggir pasar, dekat dengan pintu masuk. Aku berjalan mendekat, sekedar ingin tahu apa yang dijualnya.

Tahu bakso dan aneka dimsum. Aku membaca tulisan di atas konternya. “Apa seenak itu ya?” tanyaku lirih pada diri sendiri. Antrian itu tak membuat aku bisa maju selangkah ke depan. Tak disangka seorang pengunjung pasar, berbisik (barangkali dengan temannya), “lha sing dodol ayu (lha, yang jual cantik).”

Aku pun menatap satu per satu pengunjung dan memang hampir di dominasi oleh semut-semut jantan. Sungguh tak terduga. Mungkin memang mbak penjualnya cantik, berambut panjang, tapi di sisi kirinya ada seorang pria yang sesekali menunjukkan wajah masam. “Apa ia pacarnya, suaminya atau …,” kata-kataku terhenti. Menggeleng, menghenyakkan pikiran-pikiran tak elok. Akhirnya kulepaskan diri dari para kerumunan semut-semut pejantan itu.

Ross, sebentar …. Jadi hanya karena dia tidak mau bilang pyar-pyar, kamu pulang kampung? Apa ini, Ross?

— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 23

“Kalau dipikir-pikir, jadi ingat satu cerita berjudul ‘Ross dan Joko’ di buku itu. Tentang bagaimana si Ross kabur karena si Joko (suaminya) tak pernah bilang I Love You dalam bahasa India,” gumamku sambil sesekali menundukkan kepala. “Meski berbeda cerita, tapi rasa-rasanya cerita tentang cemburu dan ingin diperhatikan pun selalu menarik. Walau tak harus selalu dramatis,” kataku.

Hampir satu jam aku berputar-putar di pasar Klojen yang tak terlalu luas itu. Kupikir aku akan membawa pulang belanjaan untuk masak di rumah. Nyatanya memang tidak selalu sesuai dengan rencana. Satu kotak onde-onde, satu kilo ayam fillet dan dua ikat kangkung. Aku mendesah, membayangkan berkilo-kilo jalan harus kugilas di tengah kota.

Gambaran Utuh yang Justru Datang Dari Potongan Kecil

Motor skuter buntutku menggilas lebih dari tujuh kilo jalanan aspal untuk sampai di rumah. Belum juga setengah jalan, di perempatan lampu merah dekat pasar cukam, seorang nenek-nenek bungkuk membawa bungkus kemasan permen.

“Mbak, sak ikhlas e mawon (mbak, seikhlasnya saja),” katanya. Wajahnya kuyu. Barangkali lelah dengan kehidupan jalanan. Aku mengeluarkan sesuatu dari balik kantong. Bukan sesuatu yang mewah, tapi berharap bisa mengurai rasa lelahnya.

Matur nuwun, Nak,” katanya. Seulas senyum lebar tergambar di sudut-sudut wajah yang termakan usia.

Baca juga: Review Buku The Man Who Loved Books Too Much 

Aku mendesah, bayangan wajah almarhum ibu-bapak seperti menggelayut di atas lampu lalu lintas di atasku. Masih ada lansia yang tak punya keluarga seperti ini di sini. Bagaimana anaknya? Di mana keluarganya? tanyaku pada diri sendiri. Membatin.

Awan di atas kepalaku seperti menorehkan cerita dari cerpen halaman terakhir di buku terbitan Shira Media itu. Cerpen yang mengisahkan seorang Nenek yang pulang ke kampung halaman puluhan tahun lalu, ketika pecah perang saudara di Ambon. Anak dan Suaminya meninggal dalam tragedi di Ambon. Tapi, meski ia pulang ke tanah kelahirannya, raga dan asanya ingin dikubur dekat dengan keluarganya.

“Dan mengapa wajah almarhum ibu-bapak membayang di sana,” gumamku sambil menengadah. Takut embun-embun menyerobot masuk ke dalam mata. Tumpah.

Tetapi yang lebih penting dari itu, ia ingin mati di kampung yang sangat dikenalnya, yang menyimpan tubuh anak dan suaminya.

— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 125.

Bel klakson membuatku kembali fokus. Lampu merah berganti hijau. Awan itu pun memudar dan buku Kios Pasar Sore setebal 125 halaman itu berakhir dengan kata Bukan Wonogiri.

Baca juga: Life Lesson, Karena yang Negatif Tak Harus Selalu Positif

Roda motor skuterku menggilas aspal sekali lagi. Menuju pulang.

Closing by Senja Hari

Minggu ini kalian sudah atau sedang baca buku apa nih gengs? Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo ini ceritanya bukan tentang hal-hal yang mewah atau dramatis, tapi banyak hal yang rasanya sering kita anggap biasa saja, yang nyatanya buat hidup jadi jumpalitan. Ada nggak yang udah baca buku dari mbak Reda ini? atau barangkali buku apa yang ongoing dibaca? Bisa share di kolom komentar ya.

Tetap ya, komennya dengan bahasa sopan semata-mata biar jejak digital kalian bersih.

Have a nice day!

Jya, mata ne~

Tinggalkan Balasan ke Lala Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

Berarti ini buku kumpulan beberapa cerita yang berbeda ya,,masing-masing ceritanya sepertinya mempunya pesan tersendiri,
Kalo aku baru aja selesai baca buku “Rumah” karya JS Khairan yang termasuk salah satu buku baru karyanya..menceritakan seorang wanita yang merasa tidak mempunyai rumah untuk pulang karena rumah yang selama ini menjadi tujuan pulang menyimpan banyak luka yang harus dia tanggung

Aku baru pernah main ke Pasar Oro oro dowo

kalo Psr Klojen malah blum pernah.
jujurrr aku takjuuubbbb dan ngerasa amazed sangat dgn pasar oro. karena bersih dan sangat nyaman.
moga² next bisa ke Klojen

Waaaah belum baca buku mba reda yg ini. Aku cuma punya yg seri nawilla .

Kayaknya menarik sih. Sejak baca buku nawilla, aku JD sukaaaaa Ama cara dia bercerita. Mungkin Krn relate dan berasa Deket Ama kejadian sehari hari juga yaaa.

Skr aku lagi baca buku2 lama mbak.. karangan penulis boomers 😄😄. Ntahlaah, aku nih tipe yg suka segala sesuatu yg lama . Yg klasik. Buku2 pun penulis fav ku itu penulis lama semuanya.

Penulis baru aku ga banyak yg bisa klik bukunya. Salah satunya mba reda.

Tp kalau ditanya penulis fav, pasti semuanya penulis jadul. Ntah macam Pramoedya, s mara gd, Nancy Taylor Rosenberg, Irving Wallace etc.

Minggu ini aku LG baca buku ttg hukum karya Nancy Taylor.

Belum baca
Masih menyelesaikan Set Boundaries nih
Semoga bisa segera reiew juga karena lumayan nampar isi bukunya

Terima kasih sudah menghadirkan tulisan yang membawa rasaku hadir dalam perjalananmu dalam pasar. Kesukaanku dengan hampir sama, melihat aktifitas insan-insan yang sedang hidup dalam alur kehidupan.

Banyak hal yang menarik dan diantara semua tertulis, aku suka sekali dengan bagian >>Gambaran Utuh yang Justru Datang Dari Potongan Kecil<< buatku, potongan kecil itulah jadi hal sederhana yang kemudian menjadi yang istimewa.

Aku sendiri belum membaca buku ini dan sedang berjuang menyelesaikan satu buku hadiah ulang tahun. Dengan ulasan-ulasan buku yang kau tulis, membangkitkan lebih besar lagi semangat untuk membaca lebih banyak buku tahun ini. Terima kasih ya Dinda.

Menyusuri kios di pasar tuh kadang bikin nyesek. Banyak banget nenek2 yang seharusnya mereka udh hidup tenang di masa tua, menimang cucu atau ngerumpi brg tetangga.

Di sini malah ktmu nenek2 yg masih segar menjajakan dagangannya. Salut kpd mereka yg masih kuat bertahan hidup. Krn di situ lah mereka bs makan, bkn hanya yg sehat tapi jg berkah krn emg berasal dr usahanya sendiri.

Daku belum ada judul buku yang selesai dibaca Kak di bulan ini, masih beberapa halaman saja huhu.
Dari ulasannya Kak Dinda ini, bervariasi ya ceritanya. Tapi bisa jadi bahasan yang menarik buat ditarik kesimpulan menjadi pesan moral yang mendalam.

Tukang Jalan Jajan

seperti ikut diajak “jalan jajan” ke Pasar Klojen. Saya suka bagaimana Mbak menghubungkan aroma onde-onde hangat dengan potongan kisah di buku Kios Pasar Sore. Memang benar, karya Reda Gaudiamo itu kekuatannya ada pada hal-hal “biasa” yang justru terasa sangat personal.
Bagian tentang kucing dan nenek di lampu merah sukses bikin saya merenung. Ternyata, setiap sudut pasar punya ceritanya sendiri ya?

Asyik yaa baca ulasan bukunyaa
keknya aku juga bakal.meniqmati bangettt nihh
buku yg cocok buat ngabuburead!

Jadi ini tuh kumpulan cerpen, tapi isinya fragmen cerita kehidupan sehari-hari ya mbak?
Aku malah suka yang begini mbak, soalnya acapkali relate sama cerita kita. Dan setelah kubaca-baca, memang banyak yang universal juga yaaa premis ceritanya.
Contoh perkara kucing tuh. Itu aku ngerasa relate si. Dan jujur, aku malah angkat topi sama mereka yang bener-bener ngurusin kucingnya dengan baik. Meskipun kucingnya ada puluhan sekalipun.
Karena tak jarang, banyak juga yang ngurus kucing sekedar ngasih makan aja. Abis itu dilepas liarkan gitu aja. Kucing punya siapaa.. beraknya di pekarangan rumah siapa. HIH ZBL

Minggu ini ku lagi baca buku kumpulan cerita anak terbitan Forsen, karena lagi pengen nulis cerita anak lagi.
Makasih review bukunya, jadi pengen baca tuntas, karena bukunya Mbak Reda ini udah punya, tapi belum sempat dibaca.

Jadi ingat kecing di sekitar rumah saya. Gak pernah niat buat memelihara. Tapi kalau ada kucing lewat ya kami kasih makan. Eh lama-lama banyak juga kucing yang suka mampir ke rumah. Ada yang baik dalam arti tidak jorok tapi ada juga yang tidak berperikucingan sama sekali. Buang hajat sembarangan jadi kami yg capek bersihin. Padahal itu bukan kucing kami. beruntung saya tidak ditinggalkan kabur suami. Hehehe … Justru suami nih yang suka ngasih obat kalau ada kucing yang kena scabies gitu

Aku salfok sama cukam dan Pasar Klojen. Ah kangennya…

Cukam itu wilayah “jajahan”-ku karena dulu rumahku ke Muharto sebelum pindah ke Batu. Rumah buyut dan saudara-saudaraku pun banyak di sana. Jadi aku masih sering melewati cukam kalau ke Muharto.

Kalau Pasar Klojen, karena dulu sekolah di SMP 5 dan SMA 1, jadi ya sering lha mampir ke sekitar Pasar Klojen. Kabarnya sekarang makin bagus aja pasarnya dan banyak jajanan kaya di oro-oro dowo ya?

Btw apakah Pasar Klojen dan Cukam ada di buku Pasar Sore itu? Atau hanya pelengkap cerita mbak Dinda aja?

Bambang Irwanto

Pasar memang pernah cerita ya Mbak. Beragam cerita ada di sana. Ini inilah kehebatan si penulis buku yang mampu menggali ide yang sebenar Memang sering terjadi dan banyak orang mengalami. Hanya tidak semua orang mampu menyalurkan dalm bentuk cerita yang memikat. Tapi dari konflik cerita, semua bisa diselesaikan asal saling pengertian satu sama lain. Kalau suami istri mau pelihara kucing, ya dua-duanya harus suka kucing. Lainnya pasangan harus menunjukkan sisi romantisnya. Khusus cerita di nenek. Pasti ia ingin meninggal di kampung halamannya sendiri.

hehe pertanyaan terakhirnya membuatku tersipu malu, jujurly mbak saya belum baca buku lagi, terakhir baca Broken String aja, duh dark banget
btw mau dobng dikrimin onde-ondenya, tahu bakso mbak yang cantik itu juga boleh wkwkwk

Review yang ditulis dengan cara yang sangat segar dan berbeda! Alih-alih mengulas buku secara konvensional, pembaca justru diajak ikut menyusuri Pasar Klojen sambil merasakan sendiri bagaimana potongan-potongan kecil kehidupan di sana bergesekan dengan cerita-cerita dalam buku Kios Pasar Sore. Dari onde-onde hangat, kucing yang ditinggal bapaknya nongkrong, penjual cantik yang dikerubungi “semut-semut jantan”, sampai nenek di lampu merah, semuanya melebur jadi satu pengalaman membaca yang sangat personal. Memang itulah kekuatan karya Reda Gaudiamo, hal-hal biasa yang sering kita lewatkan ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih dalam dari yang terlihat. Makin penasaran buat segera membacanya! 📚

Saking relate-nya aku sampe ngerasa lagi baca kisah sendiri XD

Kadang kita tidak butuh cerita yang terlalu kompleks, cukup mengenang kesederhanaan sehari-hari bersama orang-orang random baik hati. Buku ini mengajarkanku untuk itu ^^

Seringkali justeru cerita orang biasa relate dengan kehidupan kita sehari-hari karena kita orang biasa. Ceritanya cerita kita juga. Membacanya seperti apa yang kita alami.

Saya lagi baca dua novel dengan bergantian di rumah Dunia Shopie di tempat kerja cantik itu luka. Yang satu kadang Satir yang satu berat.

Cerita yang mengambil latar kehidupan sehari-hari biasanya terasa dekat dengan pembaca. Kehidupan pasar dan orang-orang di sekitarnya sering menyimpan banyak kisah menarik yang sederhana tapi bermakna

Aku sedang baca buku karya Eka Kurniawan mbak. Sambil ku selingi baca kamus juga dan jujurly, buku Bu Reda yang satu ini sudah aku incar untuk aku beli. Pas di Mojok sempat aku baca beberapa lembar cerita, hanya saja tidak jadi aku beli karena aku kepincut dua buku lainnya huhuhu. Rupanya Bu Reda memang keren kalau terkait bercerita hal-hal sederhana tetapi ngena. Situasi pasar memang menarik untuk diperhatikan dan beliau sangat pintar menggambarkan detail-detailnya.

Semoga next aku bisa membeli buku Kios Pasar Sore dan membacanya sampai selesai. Aku tertarik sama karya beliau. Sayang pas ke Jogja nggak sempat mampir ke toko buku Shira Media, padahal sangat bagus dan estetik juga.

Galfok sama kata “kumpulan cerita orang2 biasa” jadi ini kyknya jalan cerita kyk relate sama kehidupan nyata gitu kali ya mbak? Ada yang lucu, ada kesedihan juga?
kadang kita menganggap sebuah kisah biasa aja. Mungkin kalau kita memposisikan sebagai pendengar/ pembaca begitu.
Tapi buat orang yang mengalaminya mungkin efeknya luar biasa bahkan sangat berarti buat hidupnya. Kyknya gitu kali ya? 😀

Waah..srbuah review buku yg unik! Jadi penasaran euy dg buku yg direview ini. Terima kasih sharingnya ya..

Tipe bukunya yang hangat bercerita yaa sederhana tapi menyenangkan, aku belum sempat baca bukunya sepertinya menarik walaupun tak ada dar der dor. m

Heni Hikmayani Fauzia

SAya tuh bolak balik lihat buku ini mampir di beranda aplikasi media sosial saya. Ada yang menulis reviewnya dan ada juga yang hanya sekedar iklan jualan . Tapi saya jadi penasaan buku apa sih ini,,,,pas membaca artikel mbak DInda ternyata ada juga membahas buku ini. Bagus yyaa bukunya,,,,saya jadi kepengen membacanya, Nanti beli ah bukunya

Pasar tradisional di tempat saya memilih banyak cerita menyedihkan
Tapi lebih penasaran lagi isi buku dalam review ini apalagi ada tanda tanya besar. Kami jadi penasaran kan ya …

Membaca ulasan buku Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo ini rasanya sehangat secangkir teh di sore hari ya Kak. Reda memang punya magis tersendiri dalam merangkai cerita yang sederhana—hal-hal keseharian yang mungkin sering kita lewati—menjadi sesuatu yang sangat menyentuh dan bermakna.

Aku setuju dengan poin Kakak soal bagaimana buku ini menangkap emosi yang jujur tanpa perlu kata-kata yang muluk. Terkadang, kita memang butuh bacaan yang “membumi” seperti ini untuk mengingatkan kita bahwa kebahagiaan itu seringkali ada di interaksi-interaksi kecil di sekitar kita.

Terima kasih sudah mengulasnya dengan begitu apik, Kak. Ulasannya sukses bikin aku pengen segera memeluk buku ini dan ikut menyelami suasana pasar sorenya!

antung aprianaa

Reda Gaudiamo ini penulis Na Willa, ya? Kupikir penulis laki-laki eh ternyata setelah googling ternyata penulis wanita. Penasaran juga nih diriku sama buku-bukunya apalagi sampai diangkat jadi film pastinya bukan buku biasa, ya, mbak

Hal-hal yang diceritakan begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari ya, kak. Ada yang relate juga denganku. Bagus, ada banyak makna juga pelajaran pastinya yang bisa diambil oleh pembacanya. Semoga aku ada kesempatan membaca buku keren ini.

Mbaaak, puluhan tahun hidup di ngalam tapi ayas belum pernah masuk Pasar Klojen (dan habis baca ini jadi pengen ke sana).
Kumcernya menarik dan ceritanya tentang grass root ya? Tapi yang paling heran mengapa ada orang yang sampai susah gerak dan kerja gara-gara punya banyak kucing?

29 Responses