Home / Pojokan

Memahami Pria Bernama Ove

Senjahari.com - 16/03/2026

Pria Bernama Ove

Penulis : Dinda Pranata

Dia suka menuding orang-orang yang tampangnya tidak dia sukai, seakan mereka itu perampok dan telunjuknya adalah senter polisi.

— Pria Bernama Ove halaman 5

Aku ingat kata-kata itu tiba-tiba. Kata-kata seorang pria tua, yang tinggal di depan rumah kedua orang tuaku ketika aku baru saja pindah ke Banyuwangi. Pria itu punya pohon mangga yang selalu berbuah tanpa peduli musim. Pak tua yang kata para remaja di sekitar adalah Bujang Tua Pemarah.

Dan hujan sore itu, menutup langit senja menjadi benar-benar kelabu, juga menutup Novel Pria Bernama Ove di halaman 384 dan bersamaan dengan terbukanya ingatanku tentang pak tua jutek itu. Aku mendesah. Menyeka air mata datang tanpa permisi.

“Apakah aku terlalu sentimentil karena cerita buku ini atau ingatan lainnya?”

Pria Bernama Ove dan Pak Damar yang Selalu Marah

Namanya Pak Damar. Pria yang tinggal di depan rumah kedua orang tuaku itu terkenal di area kompleks sebagai bujang tua pemarah. Meski ia mudah naik pitam dan terkesan jutek, tapi tak pernah sekalipun beliau mengganggu dan melukai tetangga lain. Malah aku ingat sebaliknya. Dialah yang sering terganggu oleh perilaku tetangganya yang cukup merepotkan perkara suka parkir sembarangan di depan rumahnya.

Baca juga: Lebih Senyap dari Bisikan, tapi Lebih Keras dari Gosip Tetangga

Bagaimana jadinya kalau semua orang parkir di mana pun sesukanya? Pasti kacau. Akan ada mobil di mana-mana.

— Pria Bernama Ove halaman 13

Awalnya aku merasa Pak Damar adalah tukang komplain untuk hal-hal sepele. Tapi, sejak kumemiliki rumah sendiri dan menghadapi tetangga yang punya karakter beragam, kukira alasan Pak Damar cukup sah untuk merasa jengkel.

Barangkali perasaan sentimentil inilah yang membuatku merasa dekat dengan cerita pria bernama Ove ini. Pria tua pemarah dan ketus yang dianggap anti-sosial oleh lingkungannya. Sikap pemarah dan ketusnya benar-benar mengingatkanku pada Pak Damar, bujang tua pemarah di komplek tinggal kedua orang tuaku.

Suatu hari, aku jengkel mendengar Pak Damar selalu mengomel tentang sampah plastik yang tergeletak di depan rumahnya. Aku bercerita pada bapak-ibu dan tanggapan mereka membuatku heran.

“Ya, biarkan saja. Selama bukan kamu yang membuang sampahnya di sana,” kata Ibu.

Baca juga: Kenanga yang Memecah Batuan Adat di Novel Oka Rusmini

“Jangan suka menilai orang,” kata bapak sambil melipat korannya, “kita tak tahu cerita lengkapnya kenapa Pak Damar seperti itu.”

Aku terdiam. Bukan karena aku memahami situasi Pak Damar, tapi aku paham ketika bapak sudah bicara seperti itu, artinya bapak tahu sesuatu tentang Pak Damar.

Buku karya blogger Swedia bernama Fredrick Backman itu terlampau menyentil masa laluku. Tiap lembar yang kubuka rasanya mirip membuka dosa-dosa masa remaja kala itu.

Kata pepatah, orang-orang terbaik lahir dari kesalahan-kesalahan mereka dan menjadi lebih baik setelahnya, ketimbang kalau mereka tak pernah berbuat salah

— Pria Bernama Ove halaman 13

“Tapi mengapa rasanya aku masih malu dan berdosa atas pikiran-pikiranku pada Pak Damar?” tanyaku ketika hujan selamat datang menyambut pukul sepuluh malam.

Baca juga: Menggilas Doctor Zhivago

Selalu Ada yang Tersembunyi di balik Pagar

novel pria bernama ove
Infografis Novel Pria Bernama Ove design by canva

akibat sifat pemarah itulah, beliau tak pernah punya tetangga yang akrab. Sampai sebuah kejadian yang membuatku merasa bersalah Pak Damar.

Tak sengaja, ada seorang pemotor yang ugal-ugalan di komplek dan nyaris saja menabrakku. Aku ingat waktu itu sore hari selepas belajar kelompok bersama Retno. Teman sekelas yang rumahnya di ujung gang. Betapa murkanya Pak Damar itu pada pemotor yang nyaris menabrakku dan kabur itu.

“Buta apa ya! Sudah tahu ada papan tulisan ‘HARAP PELAN BANYAK LANSIA DAN ANAK-ANAK’!” serunya sambil menunjuk-nujuk papan yang ada di atas kepalanya itu. Beliau lalu menolongku berdiri. Tentu saja, dengan wajah asam kencurnya. Lalu dengan berani melabrak Pak RT, mengatakan betapa tidak tegasnya Pak RT kompleks.

Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Itu kata mereka. Dan Sonja (alm. istri Ove) memperjuangkan apa yang baik. Memperjuangkan anak-anak yang tak pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja.

— Pria Bernama Ove halaman 234

Tanganku bergetar ketika membaca kalimat itu. Halaman yang kunikmati pada pukul sebelas malam di mana hujan masih belum berhenti. Malah kukira genting rumahku bocor, karena sudut mataku terasa basah.

Baca juga: Review When Marnie Was There, Benang Merah Anak Kesepian

“Pikiranku sendiri kejam. Tak hanya ketika awal membaca buku pria bernama Ove, tapi juga pada Pak Damar saat itu.” Suaraku bergetar dan hidungku meremang.

Setelah kejadian pemotor itu, aku bercerita pada Bapak dan Ibu di rumah. “Kau harus berhenti berpikiran buruk pada orang lain yang tak kau kenal,” kata Ibu.

“Tapi bagaimana bisa? Lha wong yang bikin rumor Bujang Tua Pemarah bukan aku, tapi orang-orang kompleks!” gerutuku sambil mengusap-usap hansaplast pemberian Pak Damar.

“Hush!” seru bapak sambil menjewer telingaku. “Jaga bicaramu!”

Sambil mengusap-usap telingaku yang memerah. Aku mendengar kisah yang tak banyak orang tahu dari balik pagar rumah Pak Damar. “Pak Damar itu tidak menikah, karena dia sudah punya calon istri. Dan sayangnya, sebelum mereka menikah calon istrinya meninggal lebih dulu.”

Baca juga: Review Kitab Kawin yang Menunjukkan Sisi Lain Perempuan

Mendengar itu dari bapak jantungku terasa ikut berhenti. “Jadi, jangan lagi-lagi menyebut Pak Damar Bujang Tua pemarah. Itu tidak pantas,” kata ibu memperingatkan. Dan aku diam saja.

Orang-orang Seperti Ove dan Rune (sahabat, tetangga sekaligus musuh Ove) lahir dari generasi ketika orang dinilai berdasarkan tindakannya, bukan omongannya.

— Pria Bernama Ove halaman 309

Jika Ingin Menilai, Galilah Sampai Ke Dasarnya

Ketika aku membaca lebih banyak lembar-lembar buku pria bernama Ove itu, rasa bersalahku pada Pak Damar semakin menjadi. “Pak Damar dan Ove sama-sama pemarah. Itu karena ada hal yang ia ingin lindungi.”

Setelah Ove kehilangan Sonja yang merupakan dunianya, maka bukan tidak mungkin ada kesepian selama bertahun-tahun kehidupannya. Ove tidak marah pada tetangganya, tapi ia marah pada dunia yang seolah mengambil Sonja (istrinya), calon anaknya dan kehidupan berwarna mereka.

“Barangkali Pak Damar seperti Ove. Kehilangan calon istrinya, kehilangan orang tuanya dan kini hanya sebatang kara.” gumamku. Lalu hening.

Satu kata terakhir Pak Damar yang hangat dan datang tak terduga dari pria pemarah sepertinya. “Jika kau ingin menilaiku, galilah sampai ke dasar!”

Aku tahu Pak Damar mengetahui pikiranku yang sering mengatakannya Bujang Tua Pemarah. Satu kata yang diucapkannya menjadi pengingat dosa seumur hidupku karena sudah menilai terlalu cepat. Lalu, ketika buku itu berakhir dengan di pangkuanku dengan kalimat:

Sampaikan salam sayangku pada Sonja, dan terima kasihku karena dia telah meminjamkanmu pada kami.

— Pria Bernama Ove halaman 376

Sebuah ketukan keras dari pintu membelalakkan mataku. “Bun … di toiletnya jangan lama-lama. Aku mau BAB nih!”

Flush kunyalakan. Aku menghembuskan nafas pelan-pelan.

Closing by Senja Hari

Adakah dari kalian punya kenalan yang pemarah atau jutek tapi sebenarnya orangnya baik? Kira-kira seperti Pak Damar (tetanggaku) dan Ove dalam novel ini. Bisa dong cerita gimana interaksi kalian dengan mereka di kolom komentar.

Sudahkan kalian membaca novel Pria Bernama Ove ini atau novel yang sejenis sepertinya? Boleh lho kalian juga berbagi pengalaman seputar membaca. Barangkali juga ada nih film-film yang serupa dengan novel Pria Bernama Ove, boleh banget ikutan komen buat berbagi cerita seputar pengalaman nontonnya. Tetap ya gaes, dengan bahasa sopan. Semata-mata biar jejak digital kalian bersih.

Have a nice day!

Jya, mata ne~

Tinggalkan Balasan ke antung aprianaa Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

Wow ada blogger Swedia menulis buku. Eh di kita juga banyak sih bloger penulis buku juga hehe.
Waduh Pak Damar Pak Damar, apakah blio pensiunan? Soalnya aku dulu punya tetangga demikian juga mbak, setelah pensiun kek post power syndrom sehingga kek udah gak punya relasi kuasa akhirnya hobinya marah2 gitu.
Eh tapi kalau Si Ove keknya masih muda yaaa. Nah kalau OVe kulihat dia lebih ke depresi, marah pada dunia karena rencana2nya gak berjalan lancar gak siihh?
Emang sebaiknya kalau kasus Pak Damar punya aktivitas ringan tapi konsisten gitu kek berkebun, dll, asal jangan dikasi kegiatan memimpin negara aja #ups hahah

Eeeeh aku kok tiba-tiba keingetan sama satu film berjudul After Life (TV Series 2019-2022). Kurang lebih, ceritanya mirip sama Ove, atau mungkin Pak Damar? Dimana sang karakter utama merasa hidupnya hampa setelah kehilangan sosok yang ia sayangi. Dari situ, beliau berangsur menjadi karakter yang tak hanya menyebalkan, tapi juga tegas dan tak peduli lagi dengan perasaan orang lain.
Kalau aku, kebalikan dari pak Damar sih ya. Aku gak suka keributan. Tapi, aku lebih suka mencegah dan mengatasi keributan. Satu waktu di ramadhan ini, tetanggaku reseh karena sering berisik sampai waktu malam hari. Tak pernah kutegur, tapi langsung saja kurekam dan kulaporkan ke pemilik kontrakan. Hasilnya? Awal bulan kemarin dia diusir pergi. masalah selesai, wkwkwk

Lapar teratasi dengan sebuah roti
Ditemani lampu di sudut bekasi
Kala diskusi tak lagi berarti
Menjadi cepu bisa jadi solusi

ahahaha

Karakter Ove ini memang unik banget ya, di balik sifatnya yang kaku dan pemarah, ternyata ada luka masa lalu yang bikin pembaca jadi simpati. Perubahan pelan-pelan dalam dirinya saat mulai berinteraksi dengan tetangga barunya itu yang paling menyentuh. Novel ini benar-benar membuktikan kalau di balik sosok yang menyebalkan, pasti ada cerita yang belum kita tahu

hhmmm sepertinya aku belum pernah sie mb bertemu seseorang pemarah seperti pak damar ataupn ove..
tapi kalo sempet terpikirkan hal jelek tentang seseorang aku pernah tu beberapa kali..mis kalo ada yg tidak menepati janji atau ada alasan apa gt aku kadang suka berpikiran buruk tapi ternyata setelah ditanyakan alasannya malah diluar dari perkiraaanku dan aku jadi merasa sangat bersalah banget..makanya aku lagi berusaha gak berpikir yang enggak2 pokoknya positiv thingking aja semoga semesta nanti juga ikut mendukung 😉

Saya belum pernah baca
Namun pernah ikut klub baca dan ada yang bahas buku ini
Seru sih ceritanya
POV kalian berdua beda tetapi sama-sama menarik pengambilan sudut pandangnya
Jadi makin penasaran simak POVku nih

Aku juga baca buku “A Man Called Ove” dari iPusnas…
Tapi ittuu.. aga drained ma emosyenel yaah.. soalnya Pak Ive hobinya ngamookk..
Jadii, ga selesai bacanya.

Tapi aku seneng..
Soalnya ka Senja membahas secara garis besar yang bikin pembaca penasaran.

Karena ini buku terjemahan.. jadi memang radaaa.. beda yaa.. versi indo-nya.

Novel Pria Bernama Ove ini rasanya seperti sedang diajak memeluk kakek pemarah yang sebenarnya berhati emas ya mbak! Apalagi saat ini, di mana dunia terasa makin cepat dan individualis, kisah Ove benar-benar jadi pengingat yang menyesakkan sekaligus menghangatkan tentang pentingnya komunitas dan kasih sayang yang tulus.

Aku sepakat sih bagaimana Fredrik Backman berhasil mengubah rasa kesal kita pada karakter Ove di awal cerita menjadi rasa sayang dan empati yang mendalam di akhir. Menarik sekali melihat ulasan ini menyoroti betapa “kehilangan” bisa mengubah seseorang, namun “kehadiran” orang-orang baru—seperti tetangga yang berisik—justru bisa menyelamatkan nyawa.

Ini kok relate banget ceritanya dengan saya. Ketika pindah rumah, kami mendapati salah satu tetangga di lingkungan baru ini ada yang terkenal temperamen. Seorang yang dijuluki oleh warga sini sebagai bujang lapuk. Dari 2 kasus seperti Ove dan Pak Damar, saya tetiba berkesimpulan, sepertinya tetangga yang suka marah-marah di sini pun mungkin merasakan hal yang sama, kesendirian akan dunianya di usia yang semakin tak muda lagi, tanpa pasangan yang selama ini diimpikannya

Pria pemarah itu kakekku. Tapi beliau nggak jutek. Beliau ramah dan baik, tapi tegas. Sudah terkenal di kampungku, terutama di kalangan anak-anak. Bagi kami cucu-cucunya pun, beliau kakek yang galak tapi penyayang.

Buku Pria Bernama Ove ini kayanya sedih ya. Nggak terbayang rasanya kehilangan belahan jiwa. Apalagi sekaligus calon anaknya.

Bambang Irwanto

Saya setuju sekali ini. jangan langsung menilai seseorang secara dangkal. Karena bisa saja orang seperti Pak Damar dan Ove mudah marah, karena terlalu kesal dengna kejadian menjengkelkan yang dialami berulang. Padahal harusnya orang lain pun belajar dari kesalahan yang dia lakukan. Apalagi ulah tetangga itu beragam. ada yang ndablek ampun-ampunan dan tak peduli tetangga. Tidak pengertian, kalau diingatkan malah marah.

Kisah Ove dalam buku yang dikau baca ini sepertinya sama dengan A man called Otto. Terlihat seorang yang pemarah tetapi sejatinya di balik karakternya yang dingin itu ada hal yang belum selesai.

Dan aku langsung dengan teringat pada masa puluhan tahun. Orang selalu melihatku pribadi yang super galak dan seiring waktu sifat itu semakin menjauh. Merasakan pernah ada dalam situasi Otto dan Ove dan aku pengen salim sama Bapakmu, makasi sudah memahami.

Segala selalu punya alasan dan tidak banyak orang mengerti setiap alasan butuh di lihat lebih dekat bukan untuk di hakimi tetapi bersedia dengan sabar membantu memulihkan. Semoga kita terus berlajar untuk tidak cepat menilai tetapi lebih cepat untuk sadar dalam empati. #amin

khidupan rumah tetangga itu di dalam nya ada tetangga yang aku rasa. Macem2 karakter tetangga aku pnya, aku pikir yg udah tua akan lebih dewasa , seperti yg di ceritakann di atas ternyata memerlukan pengertian yang dari aku pribadi alias biarkan. Kalau kalau sudah berurusan duh repot ka

antung aprianaa

aku pernah nonton versi filmnya nih seingatku yang a man called ove ini tapi versi denmark. memang ya kalau nggak tahu kita pasti kesal banget sama ove padahal ternyata Ove ini menyimpan luka yang mendalam

Wahh aku belum baca novel ini. Menarik nih kayanya untuk waktu senggang. Jadi pengen baca langsung novel nya ini. Mau lebih kenal sama sosok bapak ini, hehehe

Cerita tentang karakter seperti Ove biasanya punya sisi emosional yang dalam. Awalnya mungkin terasa biasa, tapi lama-lama justru bikin terikat dengan ceritanya

Tukang Jalan Jajan

Membaca ulasan ini jadi ikut merasa melankolis, apalagi saat bagian Pak Damar membela Kakak dari pemotor ugal-ugalan. Sosok seperti Ove atau Pak Damar memang sering disalahpahami karena “kulit luar” mereka yang keras, padahal hatinya sangat protektif.
Saya jadi teringat tetangga lama yang juga mirip, kelihatannya galak tapi diam-diam suka berbagi hasil kebun. Kadang kita terlalu cepat menghakimi tanpa tahu luka yang mereka simpan.

Review yang luar biasa menyentuh! Cara menulis yang menghubungkan Ove dengan Pak Damar di kehidupan nyata itu yang membuat tulisan ini berbeda dari review buku biasa, terasa personal dan jujur. Kalimat “jika kau ingin menilaiku, galilah sampai ke dasarnya” itu sungguh menampar. Saya juga punya tetangga yang dulu saya cap galak, tapi ternyata beliau orang yang paling duluan datang waktu ada musibah di komplek. Buku ini sepertinya wajib masuk wishlist!

Dian Restu Agustina

Kisah Ove dan Pak Damar mengingatkan pada salah satu tetanggaku, tapi Beliau Ibu-ibu (almarhumah)
Dulu awal pindah ke komplek ini aku agak takut, kok si ibu ini galak dan nampak kurang ramah gitu. Ada aja yang diprotes, ditegur, diikutcampurin…Tapi setelah lebih akrab saya baru tahu. Beliau ini janda sejak anak 1 tahun ditinggal berpulang suaminya. Jadi hingga punya 2 cucu jadi single mom, dan kemudian hidup sendiri. Orangnya ternyata tertib, taat aturan dan tipe tak mau sembarangan. Maka ketika ada yang melanggar aturan dia protes dan dengan frontal disampaikan. Dan di luar itu semua Beliau baik luar biasa..dan perhatian pada tetangga

Ternyata kita pernah kerja kelompok bareng ya, Dinda? Hehe….
Betul banget. Orang yang dianggap judes, galak, dingin, pemarah, tertutup, dsb seringkali bukan karena udah bawaan dari orok tapi karena ada sesuatu yang berat terjadi dalam hdupnya.

Lintang Gumilang

I see ini A Man Called Otto kaaann?? Jujur aku belum baca bukunya, tapi ngerti banget gambaran ceritanya. Dan tetanggu ada yang kek gitu. nyebeli banget dan suka nyari gara-gara. Kata tetangga mungkin juga karena dia belum nikah2 sampe usia senja. Tapi seperti pak damar, kita gak akan paham kalo ngga gali sampe dasar.

Aku punya beberapa tetangga dan kenalan yang pemarah. Tetapi sebenarnya memang mereka itu baik dan care banget. Cuma kadang orang enggan dekat karena memang wajahnya memasang tampang seram padahal kalau sudah akrab biasanya baik kebangetan.

Menarik sekali ya buku Pria Bernama Ove, aku belum baca ternyata 300 halaman lebih. Banyak pesan moral meski berupa slice of live Ove. Banyak pengingat baik.

Di balik sifat Ove yang menyebalkan dan kaku, ada luka besar yang tersembunyi. Mengingatkan kita untuk tidak langsung menghakimi orang yang terlihat ‘dingin’ atau pemarah, karena kita tidak pernah tahu beban apa yang sedang mereka pikul. Ketika membaca tulisan ini, saya juga jadi teringat film “A Man Called Otto”.

Eh, ini yang diadaptasi ke film itu kan? Aku nonton filmnya sampe nangis, mata sembap. Sedih banget. “Jangan suka menilai orang, kita tak tahu cerita lengkapnya kenapa seseorang seperti itu,” langsung menohok hati. Ini beneran deh jadi nasihat diri sendiri setiap ada momen pengen ngedumel gara-gara tingkah orang lain:’)

23 Responses