Home / Gerbang

Karong Woja Wole, Konstruksi Budaya Manggarai Tentang Perempuan

Senjahari.com - 15/04/2022

Karong Woja Wole

Penulis : Dinda Pranata

Adakah yang tahu di mana Manggarai itu? Kabupaten Manggarai ini berada di pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur dan memiliki ibu kota yaitu kecamatan Ruteng. Menurut wikipedia luas wilayahnya adalah 7.136,4 km², dengan jumlah penduduk pada tahun 2021 sebanyak 325.530 jiwa. Di kabupaten ini memiliki tradisi unik dalam memberdayakan kaum perempuannya, yaitu melalui tradisi Karong Woja Wole (tradisi syukuran hasil panen) seperti apa tradisinya?

Padi Menjadi Simbol Masyarakat Komunal yang Agraris

Bagi orang-orang di Manggarai barat atau timur, padi menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan. Mereka memiliki tradisi dakam menghormati padi sebagai ratu alam semesta bernama Karong Woja Wole. Tradisi ini merupakan tradisi untuk mengantar padi dari masyarakat Manggarai Timur.

Kata Karong Woja Wole merupakan kata yang berasal dari bahasa Kolor atau bahasa adat setempat di wilayah kota Kombe ini. Kalau memisahkan katanya menjadi karong berarti mengantar, woja artinya padi, dan wole artinya tanaman padi. Tradisi ini melibatkan para sesepuh desa (tua-tua adat), keluarga pemilik lahan dan masyarakat desa baik laki-laki dan kaum perempuannya.

Pada pagi hari, tua-tua adat dan kepala keluarga di wilayah tersebut akan mempersiapkan keperluan pelaksanaan ritual seperti ayam, nasi, minuman tradisional yang bernama moke dan parang. Bahkan dalam pelaksanaan persiapan warga ikut melibatkan perempuan. Tua-tua adat akan membagikan lahan melalui Dor (seorang pengatur pembagi lahan). Pemilik lahan tidaklah menikmati sendiri lahan itu, tetapi menjadikannya lahan komunal untuk bersama. Setelah pembagian lahan Dor ini akan membuka minuman tradisional (moke) dan meminta persetujuan tuan tana untuk memulai ritual ini.

Persiapan Sebelum Ritual

Tradisi Mengantar Padi
Tradisi Mengantar Padi

Setelah panen biasanya warga atau anggota lahan komunal itu akan mengambil bulir padi (woja) yang mereka gantung di tiang pembatas lahan bernama Lodok Lingko Rumbit. Pada saat hari ritual, sebelum memulai acara tersebut, anggota kebun yang hadir menurunkan bulir padi yang di gantung di tiang batas lahan komunal tersebut.

Baca juga: Nginang Antara Tradisi Dan Candu. Ada Yang Tahu?

Setalah penurunan bulir padi tersebut tua adat bersama dengan Dor mulai melakukan ritualnya. Pelaksanaan ritual ini mulai dari mengambil seekor ayam yang akan menjadi persembahan. Mulai dari berdoa lanjut pada pemotongan ayam itu. Bagian leher ayam dipotong dan darah yang menetes diteteskan di atas bulir padi yang diambil dari Lodok tersebut. Biasanya prosesi ini dilangsungkan di atas batu pembatas lahan komunal.

Apakah cuma pakai darah ayam? Enggak dong! Mereka juga menggunakan daging ayam bakar sebagai persembahan juga. Bersama dengan sebagian daging ayam, bulir padi, darah ayam diletakkan di atas batu dan mereka memulai ritual tersebut. Tujuan ritual itu sebagai ucapan terima kasih kepada semesta, karena sudah menjaga tanaman sampai masa panen dari gangguan hama. Lalu apa peranan perempuan dalam tradisi ini?

Karong Woja Wole dan Pemberdayaan Perempuan

Peran Perempuan dalam Tradisi
Peran Perempuan dalam Tradisi

Salah satu rangkaian acara Karong Woja Wole bernama Tuk Woja Wole, menjadikan perempuan tokoh utama dalam ritual tersebut. Secara harafiah tuk woja wole ini berarti menumbuk padi. Berasal dari kata “tuk” yang artinya menumbuk, “woja” yang artinya padi dan “wole” yang artinya padi yang masih berdaun. Mereka meletakkan padi yang masih dalam bentuk batang di kepala sambil menari. Mereka akan membawanya ke halaman mbaru meze (halaman rumah adat) untuk ditumbuk bersama. Sebelum menumbuk mereka akan memisahkan antara batang padi dan bulirnya.

Saat penumbukan, para laki-laki akan mengelilingi para perempuan dan suasananya begitu tenang. Setelah ditumbuk, mereka memisahkan sekamnya dengan bulir padi dan memasukkannya ke dalam wadah anyaman atau nyiru. Berdasarkan dari laman kompas, tua-tua adat memang menunjuk kaum perempuan untuk menumbuk padi dan mengambil peran dalam ritual ini.

Bagi suku ini, peran perempuan sebagai penopang utama dari ritual dari persiapan, membawa padi hingga memasaknya untuk para tamu. Sama halnya dengan mereka yang menyimbolkan padi seperti perempuan melalui penggambaran ratu alam yang memberi kehidupan.

Source:
bobo.grid.id
pariwisata.manggaraikab.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

aku baru tau istilah tradisi karong woja wole
di beberapa daerah memang masih ada yang memegang tradisi syukuran hasil bumi seperti ini, di daerahku juga ada. Hanya saja bentuk perwujudannya yang berbeda
seneng melihat tradisi seperti ini yang masih dilestarikan

Waw baru tahu tentanv tradisi inii

Serasa pengen terbang kesana dan ikutan menyaksikan ritualnya nihh.. Seru juga yahh, ada banyak yang bisa dipelajari dari tradisi ini sbnernya ya

Artikelnya menarik banget nih. Saya bisa mengenal budaya di Manggarai serta bagaimana peran perempuan di sana.

4 Responses