Home / Gerbang

Kebisingan di Hajatan, Kenapa Itu (Kadang) Mengganggu?

Senjahari.com - 05/08/2022

kebisingan di hajatan

Penulis : Dinda Pranata

Beberapa waktu lalu di dekat tempat tinggalku, ada warga dari kampung seberang yang melakukan hajatan kurang lebih tiga hari lamanya. Tiga hari itu meliputi persiapan, hari acara, hingga berakhir yang masing-masing membutuhkan waktu satu hari. Selama tiga hari itu dari siang hingga malam, warga tersebut menyalakan musik yang cukup keras (entah berapa desible), setidaknya musik dari sound system yang mereka nyalakan mampu menggetarkan beberapa jendela warga di seberangnya.

Apakah ini mengganggu? Tentu saja. Mengingat musik yang terlalu kencang dan terlampau bising membuat warga di kampung seberangnya juga ikut senewen. Mengapa aku (kita) merasa hal itu mengganggu? Dan, apa alasan dibalik hajatan yang menggunakan musik keras itu?

Menakar atau Merasa bising?

hajatan dan kebisingan
hajatan dan kebisingan

Kebisingan (noise) sebenarnya sudah ada sejak zaman prasejarah. Seperti misalkan pada zaman purba, gema di gua-gua manusia purba, lolongan serigala atau suara badai bisa menjadi sumber kebisingan. Suara alam sekalipun pada dasarnya menyimpan kebisingan bagi orang purba. Namun mereka menganggap kebisingan itu adalah sesuatu yang asing dan sering kali kebisingan itu mereka kaitkan dengan hal berbau supranatural. Seiring berkembangnya pemikiran manusia mereka pun meneliti bunyi bising itu.

Dalam jurnal berjudul Foreword: Noise and Sound in the Eighteenth Century istilah kebisingan belum menjadi studi yang begitu kompleks seperti abad ke 20-an. Sebelum abad ke-20, suara masih belum bisa diukur dengan matematika. Orang-orang pada masa pra-modern tidak menggunakan perhitungan matematis untuk menilai suara bising.

Orang-orang pra sejarah menggunakan mengukur tingkat kebisingan justru menggunakan naluri atau rasa. Bagi mereka kebisingan adalah suara yang tak diinginkan dan membuat mereka merasa teranggu. Tidak peduli suara itu berasal dari alam atau dari manusia selama membuat mereka tidak nyaman, mereka akan menganggapnya bising. Lantas apakah menakar kebisingan dengan metode desible tidak efektif?

Takaran Kebisingan yang Subjektif

Takaran kebisingan
Takaran kebisingan

Dalam sebuah jurnal tahun 2007 menjelaskan bahwa ada dua faktor yang menentukan kebisingan yaitu faktor akustikal dan non-akustikal. Faktor akustikal meliputi tingkat kekerasan bunyi, frekuensi bunyi, durasi munculnya bunyi, fluktuasi kekerasan bunyi, fluktuasi frekuensi bunyi, dan waktu munculnya bunyi. Sedangkan faktor non-akustikal meliputi: pengalaman terhadap kebisingan, kegiatan, perkiraan terhadap kemungkinan munculnya kebisingan, manfaat objek yang menghasilkan kebisingan, kepribadian perorangan, lingkungan dan keadaan. Jadi mengukur kebisingan hanya menggunakan skala desible itu tidak selalu efektif. It’s more complicate!

Bahkan seorang peneliti tentang audiologi menerbitkan sebuah hasil penelitian kualitatif mengamini penilaian subyektifitas dari sebuah kebisingan. Di tahun 2020 hasil penelitiannya terbit di sebuah platform jurnal dengan judul Subjective Criteria Underlying Noise-Tolerance in the Presence of Speech menunjukkan bahwa sebanyak 48% dari 63 responden kebisingan membuat mereka terdikstrasi untuk melakukan sesuatu. Lalu 33% menunjukkan kebisingan menjadi hal yang menyebalkan, dan 19% menyatakan kebisingan membuat mereka terganggu saat berkomunikasi dengan orang lain.

Secara teori memang sudah ada rata-rata ukuran desible untuk menyelamatkan kesehatan dan nyawa orang lain. Rata-rata itu dibuat dengan mempertimbangkan kepadatan penduduk, tingkat kebisingan, dan lainnya. Meski begitu di lapangan ukuran-ukuran tersebut tidak terlalu dipakai apalagi untuk yang namanya hajatan. “Untuk apa sih mbak, lha wong untuk acara begini suaranya pakai diukur-ukur segala?” keluh warga yang menggelar hajatan. Lalu, apa alasan hajatan menggunakan megaspeaker yang super keras?

Kebisingan di Hajatan, Alasannya…

Ternyata suara keras yang berasal dari hajatan warga itu tujuannya tak lain untuk berbagi kebahagiaan atau sebagai tanda di lokasi itu akan ada acara sehingga warga lain harap berhati-hati. Tapi alasan itu tampaknya tidak cukup kuat untuk menyatakan maksud penggunaan megaspeaker yang memekakkan telinga. Ya, kan?

Sebuah studi kualitatif tentang hubungan musik yang keras dengan kondisi psikologis kita memang berkaitan. Jurnal berjudul Why Do People Like Loud Sound? A Qualitative Study dengan melibatkan delapan orang yang berusia 18-25 tahun yang bekerja sebagai DJ, Teknisi hingga pemusik. Hasilnya memaparkan bahwa musik yang keras memberikan respon semangat pada tubuh, meningkatkan adrenalin dan menjadikan mereka lebih bahagia.

Tak hanya itu, musik yang keras juga menjadi cara seseorang bergabung menjadi bagian dari suatu kelompok. Musik yang keras di hajatan bisa berkaitan dengan pembentukan koneksi dengan orang lain dalam kelompok melalui pengalaman. Kita bisa melihat orang yang menikmati musik keras di hajatan rata-rata adalah mereka yang memiliki hubungan dekat atau kerabat dari si empu hajatan.

Tapi selain itu perkara di Indonesia ini semakin kompleks karena banyaknya pihak yang kurang memahami tentang efek kesehatan jangka panjang dari paparan suara bising ini. Alhasil menyebabkan mereka kurang memiliki empati terhadap warga lain yang sensitif atau merasa terganggu karena paparan suara bising itu. Jadi solusinya apa dong kalau ada musik keras sampai mengganggu tetangga di sekitar?

Aktifkan Polisi Suara

polisi suara
Polisi suara untuk mengontrol kebisingan

Di negara-negara maju banyak dari warganya meminta pihak kepolisian untuk kasus-kasus seperti suara bising yang mengganggu kenyamanan. Bahkan di wilayah Amerika Serikat membentuk polisi suara untuk mengurangi tingkat kebisingan yang tidak menyehatkan itu. Lalu mungkinkan polisi suara itu bisa kita implementasikan di Indonesia?

Untuk bisa menerapkan polisi suara kita tidak harus benar-benar menjadi polisi. Kita bisa memanfaatkan lingkup RT, kecamatan atau kelurahan. Ya, syukur-syukur bisa sampai tingkat kabupaten atau kota. Polisi suara bisa memberikan penyuluhan terhadap pemilik usaha sound sistem bagaimana sebaiknya penempatan speaker agar suaranya tidak menimbulkan kebisingan di hajatan. Atau, bisa juga mereka menyuluh dampak paparan suara bising bagi kesehatan dan ukuran volume suara yang aman bagi warga sekitar.

Para polisi suara dan para pemilik usaha sound system setidaknya harus memiliki sound meter. Ini berguna saat mereka ada di lapangan saat mereka memasang speaker (bagi pemilik usaha sistem sound) agar tidak menimbulkan kebisingan di hajatan. Sound Meter juga berguna saat polisi melakukan inspeksi di lapangan jika ada keluhan dari warga.

Namanya saja hajatan, tentu menyangkut kebaikan banyak pihak.

Kalau menyangkut hajat satu pihak dan menyepelekan hajat orang lain, namanya kebejatan.

DInda pranata

Source:
Carol L. Mackersie, Nahae Kayden Kim, Stephanie A. Lockshaw & Megan N. Nash (2021) Subjective criteria underlying noise-tolerance in the presence of speech, International Journal of Audiology, 60:2, 89-95
Welch, David, and Guy Fremaux. “Why Do People like Loud Sound? A Qualitative Study.” International Journal of Environmental Research and Public Health, vol. 14, no. 8, 2017, p. 908.
montgomerycountymd.gov

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment